Bandung, Oktober 2026
Kepada Teddi Muhtadin yang saya hormati,
Beberapa hari ini saya sedang menekuni sebuah buku yang sejak beberapa tahun silam saya inginkan, tetapi selalu gagal saya temukan di rak-rak toko buku yang saya datangi. Judulnya The Gulag Archipelago karya Aleksandr Solzhenitsyn.
Buku ini datang kepada saya melalui jalan yang sederhana. Seorang kawan di media sosial menawarkan koleksi bukunya. Ketika melihat judul itu, saya merasa seperti bertemu kembali dengan seorang pengarang lama yang pernah saya kenal dari kejauhan. Tanpa berpikir panjang, saya langsung meminangnya.
Sebenarnya buku ini tidak sulit ditemukan di internet. Namun harganya memang lumayan mahal, berkisar dua ratus tiga puluh ribu rupiah atau lebih. Wajar saja, karena ketebalannya mencapai hampir tujuh ratus halaman. Sebuah buku yang secara fisik maupun intelektual sama-sama berat. Karena itu saya merasa cukup beruntung mendapatkannya dengan harga sekitar tujuh puluh lima ribu rupiah. Yang membuat hati semakin senang, buku itu asli, bukan hasil fotokopi atau cetak ulang tanpa izin.
Ketika membuka halaman-halamannya, ingatan saya melayang pada buku Antologi Mutiara Sastra dari Rusia yang pernah saya terbitkan. Di dalamnya terdapat nama Aleksandr Solzhenitsyn bersama para pengarang Rusia lainnya. Saat itu yang paling menarik perhatian saya justru esai-esainya yang pendek. Tulisan-tulisannya terasa jernih, tajam, dan memiliki keberanian moral yang jarang saya temukan pada banyak pengarang lain.
Kini, setelah akhirnya memegang The Gulag Archipelago, saya mulai memahami mengapa suara pengarang ini demikian kuat. Buku ini bukan sekadar catatan sejarah tentang kamp-kamp kerja paksa di Uni Soviet. Ia adalah kesaksian tentang bagaimana kekuasaan yang tidak terkendali dapat mengubah manusia menjadi angka, menghilangkan martabat, dan merampas kebebasan. Di sisi lain, buku ini juga memperlihatkan bahwa manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk bertahan, menjaga nurani, dan menyelamatkan kemanusiaannya bahkan di tengah keadaan yang paling gelap.

Ada satu hal yang terus membekas selama membaca buku ini. Kejahatan besar sering kali tidak lahir dari sosok-sosok mengerikan seperti yang kita bayangkan. Ia dapat tumbuh dari orang-orang biasa yang terbiasa mematuhi perintah, membiarkan ketidakadilan berlangsung, atau menutup mata terhadap penderitaan sesamanya. Karena itu buku ini terasa tetap relevan, meskipun peristiwa yang diceritakannya telah berlalu puluhan tahun.
Saya masih berada di bagian awal pembacaan. Tujuh ratus halaman tentu bukan perjalanan yang pendek. Tetapi seperti berjalan kaki menyusuri jalan desa yang panjang, saya ingin menikmatinya perlahan-lahan. Tidak terburu-buru mencapai tujuan, melainkan memberi waktu kepada setiap halaman untuk berbicara.
Barangkali itulah kenikmatan membaca yang sesungguhnya. Ada buku yang kita beli lalu segera selesai dibaca. Ada pula buku yang kita tunggu bertahun-tahun, lalu ketika akhirnya sampai di tangan, ia terasa seperti seorang tamu lama yang datang membawa banyak cerita.
Salam hangat dari saya, seorang pembaca yang sedang menyusuri kepulauan Gulag bersama Aleksandr Solzhenitsyn.
Hormat saya,
Didin
