Hari Minggu, 5 Juli. Bandung sedang dalam suasana terbaiknya. Langit bersih, matahari hangat tanpa terasa menyengat, dan angin yang sesekali datang membawa aroma kota tua yang masih menyimpan begitu banyak kisah.
Pagi itu saya memutuskan berjalan kaki, bukan sekadar untuk berolahraga, melainkan untuk mencari jejak-jejak sastra yang pernah ditinggalkan oleh Ajip Rosidi. Saya ingin melihat apakah ruang-ruang yang pernah dituliskan pengarang besar itu masih menyimpan denyut yang sama, atau justru telah berubah menjadi kota yang hanya menyisakan nama.
Sudah hampir dua jam saya berjalan sejak meninggalkan Alun-Alun Bandung. Langkah kaki membawa saya menyusuri Jalan Lengkong Besar, melewati Jalan Sasak Gantung yang riuh oleh kendaraan dan pertokoan, lalu berbelok ke Gang Yuda. Gang-gang kecil di kawasan ini seolah mengajarkan bahwa sejarah tidak selalu berdiri megah dalam bentuk monumen. Kadang ia bersembunyi di lorong sempit, di tembok-tembok tua, di rumah-rumah sederhana yang nyaris luput dari perhatian orang-orang yang tergesa.
Kemudian saya sampai di sebuah gang yang namanya sudah lama akrab di kepala sebelum mata benar-benar melihatnya.
Gang Asmi
Saya berhenti beberapa saat. Tidak ada gerbang megah. Tidak ada prasasti yang memberi tahu bahwa seorang sastrawan besar pernah menjadikannya bagian dari perjalanan hidupnya. Semuanya tampak biasa saja. Anak-anak bermain. Warga berlalu-lalang. Beberapa sepeda motor keluar masuk gang yang tidak begitu lebar. Namun justru di situlah letak keajaibannya. Sastra memang sering lahir dari tempat-tempat yang tampak biasa.
Di tangan saya ada buku Hidup Tanpa Ijasah. Saya membuka halaman 339, lalu membandingkan kata demi kata dengan ruang yang sedang saya pijak. Rasanya seperti sedang berdiri di antara dua waktu: Bandung hari ini dan Bandung enam puluh tahun yang lalu. Buku itu berubah menjadi semacam peta, sementara setiap langkah menjadi usaha menyatukan ingatan dengan kenyataan.
Saya membayangkan Ajip Rosidi muda melintasi gang yang sama. Mungkin dengan pikiran yang penuh naskah, rencana penerbitan, kegelisahan sebagai penulis, atau sekadar memikirkan bagaimana menghidupi keluarganya. Gang yang kini tampak sederhana pernah menjadi ruang kehidupan seorang pengarang yang kelak memberi warna besar bagi sastra Indonesia dan Sunda.
Ketika membaca memoar, sering kali kita merasa sedang membaca masa lalu seseorang. Namun ketika berdiri tepat di tempat yang sama, pengalaman itu berubah. Kita tidak lagi hanya menjadi pembaca. Kita menjadi penyusur, saksi yang datang terlambat, berusaha mendengarkan gema langkah yang telah lama hilang.
Saya sadar, bangunan mungkin sudah berganti. Tata ruang mungkin telah berubah. Wajah kota terus bergerak mengikuti zaman. Tetapi ada sesuatu yang tidak ikut berubah: daya hidup sebuah cerita. Selama buku masih dibaca, selama ada orang yang bersedia berjalan menyusuri gang-gang seperti ini, tempat-tempat tersebut tidak pernah benar-benar kehilangan ingatannya.
Lalu saya membaca kembali kutipan berikut.
“Rumah Penuh Manusia. Sebenarnya aku sudah mengontrak.”
“Rumah di Gang Natawijaya, di dekat términal bis Kebon Kalapa juga, yang digunakan sebagai tempat aku menginap dan bertemu dengan kawan-kawan kalau sedang di Bandung. Tapi rumah itu diisi oleh Ahmad Hidayat Sutisna-bendaharawan YKI-dengan anak-anaknya yang masih kecil karena isterinya baru meninggal sehingga ia harus héngkang dari rumah mertuanya. Malah dia mengajak pula adik dan kemenakannya tinggal di rumah yang kuséwa itu. Yang kosong hanya kamar depan untukku tidur kalau di Bandung. Tentu aku tak mungkin mengeluarkan meréka dari sana hanya karena keluargaku sendiri akan datang. Untunglah tak jauh dari sana, di Gang Asmi, ada rumah kosong yang juga hendak dikontrakkan.”
“Kami pindah ke Bandung dari Jatiwangi pada bulan April 1965, dua bulan setelah Mingguan Sunda terbit. Pada waktu itu Empat sedang mengandung anak kami yang keenam, yang setelah lahir aku beri nama Titis Nitiswari.”
“Rumah di Gang Asmi terdiri dari kamar depan yang kuguna-kan untuk menyimpan rak buku-buku dan menjadi tempat aku bekerja, sekaligus menjadi tempat tidur tamu kalau kebetulan ada yang menginap. Di sebelah timurnya ruangan untuk me-nerima tamu, dilengkapi dengan seperangkat kursi. Di belakang kamar depan ada kamar aku dan Empat. Di sebelahnya ruang tengah tempat yang biasa digunakan juga untuk makan dan keperluan lain. Ada méja makan dengan kursinya tapi ada juga mesin jahit Empat dan lemari. Dari ruangan itu ada pintu-gésér ke arah dapur. Dari samping ruang tamu ada juga pintu ke arah dapur. Kalau masuk dari situ, pertama-tama ke ruangan yang diisi sebuah ranjang untuk tidur adik lain ibu dan adik sepupu.”
Setelah menutup halaman itu, saya memandang kembali ke arah gang. Mendadak Gang Asmi bukan lagi sekadar alamat dalam sebuah buku. Ia berubah menjadi ruang yang memperlihatkan sisi lain seorang Ajip Rosidi. Bukan hanya pengarang besar yang menghasilkan karya-karya penting, tetapi seorang kepala keluarga yang memikirkan tempat tinggal, menerima kerabat untuk tinggal bersama, menata rak buku, menyediakan ruang tamu, dan menjalani kehidupan sehari-hari sebagaimana orang kebanyakan.
Mungkin justru di rumah sederhana seperti itulah lahir gagasan-gagasan yang kemudian memenuhi perpustakaan kita. Mungkin di ruang kerja kecil itulah kalimat-kalimat pertama ditulis. Mungkin suara anak-anak bermain, bunyi mesin jahit, percakapan keluarga, dan kesibukan rumah tangga menjadi irama yang menemani proses kreatif seorang sastrawan.
Perjalanan pagi itu akhirnya mengajarkan satu hal yang sederhana. Menyusuri kota melalui buku berbeda dengan sekadar berjalan kaki. Setiap sudut memiliki lapisan makna. Setiap gang menyimpan cerita. Dan setiap langkah seolah menjadi cara untuk mengucapkan terima kasih kepada seorang penulis yang telah mengabadikan Bandung bukan hanya sebagai kota, melainkan sebagai ruang kehidupan.
Saya pun melanjutkan langkah perlahan meninggalkan Gang Asmi. Matahari masih tinggi. Bandung tetap sibuk seperti biasanya. Namun bagi saya, kota ini kini terasa sedikit berbeda. Ada bagian dari Bandung yang tidak hanya dapat dilihat, tetapi juga dibaca. Dan selama karya-karya Ajip Rosidi terus dibuka, gang kecil ini akan selalu menjadi penanda bahwa sastra pernah tinggal, hidup, dan bertumbuh di sini.
