Kanya sayang,
Lihatlah foto ini. Mungkin suatu hari kamu akan memandangnya dari layar ponselmu yang modern, atau dari lembaran album yang perlahan menguning dimakan waktu. Di sana, kamu dan adikmu duduk manis di atas bahu Ayah, seperti sepasang burung kecil yang baru belajar terbang. Kamu tersenyum, sedikit malu-malu, sementara adikmu menatap kamera dengan rasa ingin tahu yang polos. Sementara itu, Ayah berusaha kuat, memikul kalian berdua dengan seluruh cinta yang Ayah punya.
Hari itu mungkin tampak biasa bagi orang lain. Sebuah sore di ruang tamu sederhana, tembok biru pudar dengan beberapa foto keluarga tergantung seadanya. Tapi bagiku, hari itu takkan pernah biasa. Karena hari itu, tubuh Ayah yang rapuh oleh waktu dan kerja keras terasa menjadi kuat — hanya karena kalian berdua ada di atas sana. Rasanya seperti Ayah sedang memikul dunia kecil Ayah sendiri.
Kanya, kamu mungkin tak ingat bagaimana kamu tertawa ketika adikmu hampir jatuh karena terlalu semangat. Kamu menggenggam pundaknya, seperti ingin berkata, “Tenang, kita aman di sini, bersama Ayah.” Itu adalah momen yang tak bisa diulang, tapi bisa terus dikenang.
Saat kamu membaca surat ini kelak, kamu mungkin sudah tumbuh menjadi perempuan yang kuat dan mandiri. Mungkin kamu sudah lupa rasanya digendong oleh Ayah, atau aroma baju Ayah yang bercampur antara keringat dan detergen murahan. Tapi Ayah tidak pernah lupa rasanya memeluk dunia ini lewat pundakku sendiri.
Ayah ingin kamu tahu, bahwa dulu — dan bahkan sampai kapan pun — Ayah ingin menjadi tempatmu berpijak, bahu tempatmu berpegangan, dan hati tempatmu pulang. Tidak ada hadiah yang lebih indah dalam hidup ini selain momen-momen kecil seperti ini: tawa yang jujur, pelukan hangat, dan bahu yang kuat hanya karena cinta.
Terima kasih sudah pernah menjadi bagian dari dunia kecil di atas pundakku. Terima kasih sudah memberi Ayah alasan untuk terus berdiri, bahkan saat hidup terasa ingin menjatuhkan.
Dengan segenap cinta dan bahu yang akan selalu terbuka untukmu,
Ayah
