Ilustrasi Menikah (gamabr: Sandy Millar)
Menikah Itu Murah, yang Mahal Itu Gengsinya
Kita sering mendengar ungkapan di atas. Hati kecil pasti setuju, hanya saja ego dan gengsi yang sering mengingakarinya. Menikah di kantor KUA cukup dengan biaya yang minim, asal memenuhi rukun nikah; adanya mempelai (pria dan wanita), dua orang saksi, adanya wali bagi mempelai perempuan, ijab qabul dan mahar.
Namun sayangnya, dalam masyarakat modern sendiri, nikah seringkali dianggap sebagai sebuah acara yang mahal dan mewah. Tidak heran jika banyak orang yang malah menunda-nunda pernikahan karena menganggap bahwa menikah itu mahal dan butuh biaya yang tidak sedikit. Akibatnya, banyak yang terjerumus dalam zinah karena tidak mampu menahan hawa nafsu.
Sebenarnya, nikah itu murah. Yang mahal itu gengsinya. Banyak orang yang ingin menunjukkan status sosial mereka melalui pernikahan, sehingga biaya yang dikeluarkan menjadi sangat besar. Belum lagi, tentang wedding dream yang diidam-idamkan, menuntut pasangan mengeluarkan biaya yang besar demi konsep pernikahan ideal yang diinginkan.
Tidak hanya ketika menikah, bahkan sebelum acara sakral itu dimulai pun biaya sudah membengkak untuk keperluan pre weding, sewa dekor, cetak undangan yang ekslusif, souvenir yang wah dan tentunya MUA dan wardrop yang gak kaleng-kaleng. Menu makanan juga harus bagus, jadinya harus dikerjakan oleh profesional. Dan banyak lagi hal-hal yang menyedot isi biaya besar.
Ketika susah payah kita menekan ego dan gengsi, berniat menikah dengan menyesuaikan bugdget yang dimiliki, tetapi keinginan pasangan lain lagi. Katanya, “malu sama yang lain,” atau “ini kan satu kali seumur hidup, masa gak dibuat meriah dan wah?” Tidak jarang pihak keluarga mempelai yang terpaksa berutang banyak demi mewujudkan konsep pernikahan impian.
Namun, apakah gengsi itu benar-benar penting?
Dalam Islam, menikah dianggap sebagai sebuah ibadah yang sangat penting. Menikah adalah cara untuk menghalalkan hubungan antara laki-laki dan perempuan, sehingga mereka tidak berbuat zinah. Menikah juga dapat mendatangkan banyak manfaat, seperti meningkatkan keimanan, memperluas keluarga, dan mendekatkan rejeki.
Karena itu, menikah sangat bergantung kepada niat kedua mempelai. Jika saja keduanya meluruskan niat bahwa menikah adalah untuk ibadah, maka cukuplah menyatu dengan akad yang sakral meski hanya di kantor KUA, yang penting memenuhi rukun nikah tadi.
Keluarga kedua belah pihak pun sebaikya menyatukan tekad untuk mendukung niat ibadah kedua mempelai tanpa takut cap buruk para tetangga karena tidak menyelenggarakan resepsi besar-besaran. Sebab sejatinya, yang lebih butuh biaya adalah setelah pernikahan itu sendiri. Jadi, jangan sampai pontang-panting menghabiskan biaya hanya untuk sebuah pesta yang mewah dan wah.
Padahal, ketika menemukan pasangan yang tepat, seirama dan senantiasa seiring sejalan denganmu, semuanya akan baik-baik saja, apalagi ketika kedua orang yang menikah tersebut hidup bahagia, sejahtera tanpa dibebani utang bekas pesta pernikahan. Membuat sebuat pernikahan penuh kesan mendalam tidak harus selalu wah dan mewah. Kalau didiskusikan dengan kepala dingin bersama pasangan dan keluarga kita tetap bisa menikah dengan konsep sederhana tetapi tetap sakral dan berkesan. Kuncinya ada pada komunikasi yang baik dengan pasangan.
Manfaat Menikah
Menikah dapat mendatangkan banyak manfaat, baik secara spiritual maupun material. Karena itu, tanpa harus menghabiskan waktu untuk mengumpulkan banyak uang untuk biaya nikah, sebaiknay eprtimbangkan manfaat yang akan didapatkan jika menyegerakan menikah. Beberapa manfaat menikah adalah,
- Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan
Dengan menikah kita bisa lebih tenang beribadah. Saling mengingatkan dengan pasangan karena memiliki tujuan untuk membangun rumah tangga yang diridhoi Allah. Bahkan bercita-cita jika kebersamaan dengan pasangan bukan hanya di dunia melainkan sampai ke akhirat bersama-sama di Jannah-Nya.
- Memperluas keluarga dan meningkatkan hubungan sosial
Menikah adalah menyatukan dua keluarga besar yang bisa meningkatkan hubungan baik dan interaksi sosial.
- Mendekatkan rejeki dan meningkatkan kemakmuran
Jika di luar sana ada yang merasa takut jika menikah malah menambah beban ekonomi, maka bagi orang-orang yang yakin kepada Allah tidak akan takut miskin ketika menikah. Allah sudah menjamin rejeki bagi orang-orang yang menikah. Salah satunya dalam surah An-Nur ayat 32 yang bunyinya, “Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.
- Menghalalkan hubungan antara laki-laki dan perempuan
Banyak yang salah kaprah, lebih memilih menunda menikah dengan terus-menerus pacaran. Padahal pacaran adalah salah satu bentuk perbuatan (zinah) yang menjauhkan manusia dari rahmat Tuhan. Dengan menjalin hubungan yang halal dalam ikatan pernikahan maka Allah akan lebih sayang dan meridhoi kebersamaan kita dengan pasangan.
- Meningkatkan kebahagiaan dan kepuasan hidup
Di tengah gempuran masalah yang ada saat ini, mulai dari masalah sosial, ekonomi, sampai pada masalah mental, menikah adalah salah satu solusi untuk menjadikan hidup kita lebih bahagia dan berwarna. Karena dengan menikah, kita bisa berbagi apapun dengan pasangan. Ketika sendirian, menghadapi masalah hanya dihadapi seorang diri, maka dengan menikah ada teman untuk saling bahu-membahu. Membagi cerita dengan pasangan itu membuat stres kita berkurang. Diskusi pun mendatangkan solusi karena bisa bicara dari hati ke hati untuk sama-sama menghadapi masalah yang sedang dijalani.
Tidak Perlu Memikirkan Besar Biaya
Jadi, jika Anda ingin menikah, tidak perlu memikirkan besar biaya. Yang penting adalah bagaimana kita dapat segera menghalalkan pasangan, sehingga tidak berbuat zinah. Biaya pernikahan dapat disesuaikan dengan kemampuan, dan tidak perlu terlalu mewah. Diskusikan ini dengan pasangan sejak pertama kali kalian memiliki niat membawa hubungan ke jenjang pernikahan. Pasangan yang memang memiliki niat yang tulus, akan lebih memahami esensi dan tujuan menikah itu sendiri.
Mengelola keuangan pasca menikah dengan pasangan
Banyak yang menunda menikah karena sudah lebih dulu membayangkan betapa beratnya beban biaya hidup setelah pernikahan. Mulai dari pemilihan rumah tinggal, biaya anak dan pendidikan mereka sampai kepada kebituhan kendaraan dan lainnya. Padahal, dengan bekerja sama dengan pasangan semua bisa diatasi asalkan selalu sevisi dalam mengelola keuangan ruang tangga. Menakar prioritas, membedakan mana kebutuhan dan keinginan. Serta memiliki gaya hidup yang sesuai dengan kemampuan.
Mencari uang bukan hanya soal membiayai hidup berkeluarga, melainkan tentang kesadaran pada hak dan kewajiban. Seorang suami berkewajiban menafkahi dan istri memiliki hak atas nafkah itu tetapi seorang istri juga memiliki keharusan menjaga semangat suami dalam berusaha. Istri juga berperan sebagai pengelola keuangan yang bisa mewujudkan impian dan pencapaian keuangan dalam rumah tangga. Istri yang pandai bersyukur akan senantiasa pandai mengelola keuangan. Suami yang bertanggung jwab tidak akan membiarkan biduk rumah tangganya terkatung-katung karena masalah keuangan.
Pernikahan yang baik adalah pernikahan yang diberkahi Allah. Jika senantiasa jujur, rukun dan menghindari hal-hal yang dilarang oleh agama, sejatinya semua akan baik-baik saja. Kuncinya adalah, pada pemilihan pasangan sebelum pernikahan. Jika dijalani bersama dengan suka cita maka tidak ada hal yang terlalu menakutkan dari menikah in this ekonomy.
Semoag bermanfaat.
*Artikel ini sudah tayang di Kompasiana
