Krispatih, dengan lagunya yang populer berjudul Tak Lekang Oleh Waktu. Seirama dengan kami, pertemanan yang tak lekang oleh waktu. Kita sekarang tidak intens berkomunikasi, tapi setidaknya kami selalu memastikan satu sama lain, dan tetap saling mencari meski berada di kehidupan yang lebih rumit dari kehidupan kuliah dulu.
Perkenalkan, ini pertemanan kami sejak kuliah. Dulu kami kerap di sapa trio boncel oleh teman seangkatan, karena tinggi badan kita yang memiliki kesamaan. Yakni tidak lebih dari 150 cm.
Kami kerap berdiskusi banyak hal konyol selama berkuliah, kami adalah Robby, Nida dan Ade. Namun biarpun terdengar layaknya celaan, kami justru berbangga diri dan menamai jalan hidup kami sebagai 3 bonsai. Sebagai filosofi nama yang mendalam, biarpun kami orang dewasa dengan tubuh yang pendek, tapi kami meyakini bahwa pribadi kami suatu saat nanti akan terdengar mahal pada waktunya.
Perlahan, memang sesuatu itu sedang kami usahakan. Robby yang sibuk dengan pekerjaan dan jadwal yang menumpuk. Ade dengan beberapa bisnisnya yang membuatnya selalu sibuk dan kehabisan waktu.
Sedangkan aku Nida, sedang mengumpulkan banyak artikel online untuk berusaha memperkenalkan diri pada dunia melalui media. Kami sangat meyakini mimpi itu bisa kami gapai, orang-orang melihat kami sebagai manusia pendek yang berkuliah. Tapi kami percaya, bahwa semua orang membawa sinar masing-masing dan akan menyala di waktu yang tidak bersamaan, ya seperti seperti kami.
Pertemuan dan Awal Persahabatan
Halo, aku Nida. Aku bertemu dengan Ade dan Robby semasa ospek di tempat kami berkuliah. Sederhana sekali, awalnya kami berkenalan lewat teman dengan perkenalan berantai.
Aku kenal seseorang, lalu orang itu mengenal orang lain, dan seterusnya. Tidak disangka perkenalan sederhana itu membawa kita sejauh ini. Kehidupan menjadi hangat ketika pertama kali kita berkenalan dan mendapatkan jalur pemikiran yang sefrekuensi.
Hingga hari ini, kami masih saling berkomentar dan saling bertanya meskipun melalui media. Minggu ini aku turut berkomunikasi dengan Ade dan Robby. Semoga hal ini bisa berlanjut, dan selalu bertahan.
Robby yang kemarin berkomentar mengenai artikelku yang katanya hal itu sedang relate dengan kehidupannya. Lalu, tanpa sadar aku mengulik kepribadiannya, dan dia juga mengalir menceritakan apa yang sedang ia rasakan seperti biasa. Di waktu yang lain aku melihat satu pesan dari Ade, tepat di hari kemarin dia menghubungiku dan bermaksud mencari kolega bisnis yang kebetulan alamatnya persis sama denganku.
Ade meminta bantuan untuk mencarikan perantara komunikasi karena orang yang dimaksud alamatnya satu desa denganku. Pertemanan adalah sesuatu yang sangat istimewa, apalagi jika perjalanan yang pernah kita lalui dahulu adalah sesuatu yang berat dan menyadari bahwa kebersamaannya akan berakhir. Saat kuliah kami mengerjakan tugas kuliah dan tugas akhir dengan berbagai rangkaian yang rumit, dan dijalani bersama-sama.
Robby, Ade dan aku, adalah mahasiswa yang gelombang wisudanya tertinggal dengan teman-teman seangkatan. Jadi kami sangat merasakan betul ikatan dan pertolongan satu sama lain. Kita terus mencari teman seangkatan yang belum ikut wisuda di gelombang utama, dan berupaya agar kita benar-benar menyelesaikan hal ini bersama-sama.
Saat itu rangkaian sidang dan jadwal wisudaku tertunda karena ada beberapa step sebelum wisuda yang harus aku kerjakan, tapi pekerjaanku lebih lambat dari teman-teman lain. Karena aku telah menikah dan disibukan dengan kehidupan baru menjadi ibu dan memiliki bayi. Robby dengan segala ketertundaannya karena banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.
Akhirnya dengan sangat kebetulan dia menyelesaikan rangkaian sidang bersamaku. Ade juga bergabung karena sempat terhalang beberapa urusan administrasi dan ternyata mengharuskan dia ikut dalam gelombang sidang yang berdekatan, juga jadwal wisuda yang sama. Aku ingat betul, dulu waktu hari wisuda Unigal di tahun 2023 hujan melanda ciamis pagi-pagi sekali.
Pagi itu aku terus bertanya pada Robby yang sudah datang lebih dulu dariku, apakah dia mendapatkan kabar dari Ade atau tidak. Karena sehari sebelumnya, peserta telah melaksanakan gladi bersih dan diberi briefing, panitia mewanti-wanti supaya peserta masuk gedung lebih pagi sebelum wali mahasiswa memadati gedung. Setelah sekian lama berlalu, Ade memberitahuku kalau dia benar-benar kesiangan di hari wisuda itu.
Dia kerepotan, dan beruntungnya dia datang sebelum pagelaran utama diselenggarakan. Menurutnya, dia kesiangan gara-gara di hari sebelumnya sampai malam hari dia harus mencari tukang jahit yang bisa mendesain ulang toga demi pakaiannya terlihat estetik di hari wisuda yang spesial. Sebenarnya aku juga heran, karena ukuran kami dibuat sama, baik yang berpostur tinggi maupun yang pendek seperti kami.
Aku sebagai perempuan menggunakan kain rok kebaya di bawah toga tidak terlihat aneh. Tapi saat Ade dan Robby untukmenggunakannya, mereka tampak menggunakan jubah. Sedangkan Ade tidak ingin hal itu merusak hari spesialnya.
Jadi, di hari sebelumnya dia sibuk mempersiapkan keluarga yang akan datang ke tempat wisuda, dan mempersiapkan pakaian yang harus benar-benar cocok di hari itu. Kehidupan sebelum wisuda kami dan momen-momen sidang masih banyak ceritanya, namun belum seutuhnya ditumpahkan disini. Saking banyaknya kekonyolan dalam kehidupan kami, hingga kami hampir tak merasakan bahwa kami ini sedang berkuliah.

Singkatnya setelah wisuda, orang-orang menemui orang tuanya dan mereka langsung pergi ke foto studio. Anehnya, kami sudah menganggap bahwa hari wisuda adalah pertemuan terakhir kami dengan formasi lengkap. Jadi sebelum bertemu keluarga, kita harus berfoto dan menyisakan kenangan ini sebagai sesuatu yang menjadi penanda pencapaian final kita bertiga.
Setelah upacara wisuda selesai, kami kembali masuk ke fakultas melewati ribuan orang dan berfoto di tempat yang tidak banyak orang berkumpul di sana. Kami mendapat sudut yang sepi, yakni di halaman fakultas tempat kami bertemu pertama kali. Kami lalu berpamitan dan menemui keluarga masing-masing.
Raga kami meninggalkan tempat yang telah mempertemukan kita bertiga, dan momen itu sangat berat bagi kami. Tapi kehidupan terus berlanjut, tidak pernah bagi kami terbayang hal ini akan terjadi dalam hidup kami. Berteman selama kuliah, dan harus berpisah menjadi orang yang hidup masing-masing kembali.
Bedanya setelah masing-masing, kami punya ikatan pertemanan yang tak lekang oleh waktu. Sehat-sehat ya Ade dan Robby, semoga kalian tetap gigih meraih cita-cita dengan cara yang positif. Tetap semangat, kaya raya, dan kaya hati, agar suatu saat nanti jika kita ditakdirkan bertemu kembali, kita berada dalam kondisi terbaik di versi masing-masing.
Tujuh tahun pertemanan kita ini, semoga tujuh tahun berikut dan tujuh tahun berikutnya, kita adalah pribadi yang sukses dan bermanfaat bagi banyak orang.
