Salah satu prinsip penting dalam Islam adalah menjaga kemurnian akidah, identitas seorang Muslim dan jati diri Muslim. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga membimbing bagaimana seorang Muslim bersikap, berperilaku, dan menempatkan diri di tengah masyarakat yang majemuk. Di antara prinsip yang sering dibahas para ulama adalah larangan menyerupai kaum kafir dalam hal-hal yang menjadi kekhususan agama mereka, yang dikenal dengan istilah tasyabbuh.
Larangan tasyabbuh bukanlah ajaran yang muncul tanpa dasar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan umatnya dengan sangat jelas:
“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, hadits shahih)
Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerupai selain kami.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan)
Hadits-hadits ini menunjukkan betapa Islam sangat menjaga agar umatnya tidak larut dalam praktik, ritual, dan perayaan yang berasal dari keyakinan agama lain. Tujuan utamanya bukan untuk menumbuhkan sikap permusuhan atau kebencian, melainkan untuk menjaga kemurnian iman dan membentengi akidah dari pengaruh yang perlahan namun pasti dapat menggerus keyakinan seorang Muslim.
Penting untuk dipahami bahwa larangan tasyabbuh tidak bersifat mutlak dalam semua aspek kehidupan. Para ulama menjelaskan bahwa menyerupai orang non-Muslim dalam perkara duniawi yang bersifat umum—seperti teknologi, transportasi, atau kebiasaan sosial yang tidak memiliki unsur ibadah dan tidak menjadi ciri khas agama tertentu—tidak termasuk dalam larangan ini. Namun, perkara yang berkaitan dengan ritual keagamaan, simbol ibadah, dan perayaan yang berakar dari keyakinan agama lain adalah hal yang perlu dihindari.
Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak kaum Muslimin yang tanpa sadar atau karena menganggap remeh, ikut terlibat dalam perayaan-perayaan tersebut. Perayaan tahun baru masehi, mengucapkan selamat Natal, hingga merayakan ulang tahun dengan berbagai ritual tertentu kerap dianggap sebagai hal biasa, sekadar tradisi atau bentuk toleransi. Padahal, jika ditelaah lebih dalam, semua perayaan tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para sahabatnya.
Islam adalah agama yang sempurna dan telah memberikan teladan hidup yang lengkap melalui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada satu pun bentuk perayaan tahunan, ulang tahun kelahiran, atau peringatan-peringatan serupa yang beliau contohkan, meskipun beliau adalah manusia paling mulia. Hal ini seharusnya menjadi renungan mendalam bagi kita: jika sesuatu itu benar-benar baik dan mendekatkan diri kepada Allah, tentu Rasulullah telah lebih dahulu mencontohkannya kepada umatnya.
Agama Islam tidak dibangun di atas hawa nafsu, perasaan, atau sekadar mengikuti arus kebiasaan manusia. Islam berdiri di atas wahyu, dalil, dan tuntunan yang jelas. Karena itu, bukan syariat yang harus menyesuaikan keinginan manusia, tetapi manusialah yang seharusnya menundukkan diri dan perilakunya agar selaras dengan hukum Allah.
Bagi seorang Muslim, meninggalkan tasyabbuh mungkin terasa berat, apalagi ketika hal tersebut telah menjadi kebiasaan turun-temurun atau dianggap sebagai sesuatu yang “normal” di tengah masyarakat. Namun, keimanan memang menuntut keberanian untuk berbeda demi ketaatan kepada Allah. Jika hari ini kita masih terlibat dalam perilaku menyerupai ritual dan perayaan umat lain, maka sudah sepatutnya kita menguatkan niat dan hati untuk perlahan meninggalkannya.
Menjaga jati diri sebagai Muslim bukan berarti menutup diri dari dunia atau bersikap kasar kepada pemeluk agama lain. Islam tetap mengajarkan akhlak mulia, keadilan, dan sikap baik kepada siapa pun. Namun, semua itu dilakukan tanpa harus mencampuradukkan ibadah, keyakinan, dan simbol-simbol agama. Dengan demikian, seorang Muslim dapat tetap hidup berdampingan secara damai, sambil menggenggam erat identitas dan kemuliaan agamanya.
Semoga Allah memberikan kita pemahaman yang lurus, kekuatan untuk istiqamah, dan keikhlasan dalam menjalankan ajaran Islam sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aamiin.
