Sore itu datang dengan langkah yang biasa saja. Matahari mulai condong ke barat, cahayanya menerobos sela dedaunan di halaman rumahku. Udara tak terlalu panas, tapi juga belum sejuk benar. Aku tak punya firasat apa-apa, tak mengira bahwa sore itu akan berubah menjadi salah satu sore paling menghangatkan hati dalam hidupku sebagai seorang guru.
Beberapa muridku datang berkunjung. Tak dengan rombongan besar, tak pula membawa acara resmi. Mereka datang seperti anak-anak yang pulang ke rumah orang tua—santai, sopan, dan penuh kehangatan. Ketika satu per satu wajah itu muncul di depan pintu, aku spontan tersenyum. Di tengah letih hidup yang kadang tak bernama, kehadiran mereka menjelma menjadi kabar baik dari Tuhan yang datang tanpa amplop. Aku merasa bahagia. Bahagia yang sederhana, tapi dalam.
Bagi seorang guru, kebahagiaan sering tidak datang dalam bentuk angka. Ia tidak berbentuk gaji tambahan, atau penghargaan yang dapat digantung di dinding. Ia kerap hadir dengan cara yang sangat manusiawi: lewat senyum murid, lewat sapaan yang sopan, lewat kabar yang masih mengingat nama kita. Dan sore itu, semuanya hadir bersamaan.
Mereka baru saja mengikuti Musyawarah Besar (Mubes) Alumni Pondok Pesantren Mathla’ul Huda. Lokasinya dekat dengan tempat tinggalku, maka tak heran jika akhirnya langkah mereka berbelok sejenak ke rumah kecilku. Namun bagiku, itu bukan sekadar “berkunjung karena dekat”. Itu adalah bentuk lain dari adab dan cinta ilmu yang ditanamkan oleh pesantren.
Pesantren yang mendidik mereka bukan hanya untuk cerdas secara agama, tetapi juga untuk berakhlak dalam hidup.
Pondok Pesantren Mathla’ul Huda bukan sekadar tempat belajar kitab. Ia adalah ruang tumbuh jiwa. Di sanalah mereka belajar shalat, mengaji, dan menghormati ilmu. Tapi yang lebih penting, di sanalah mereka belajar menghormati guru. Sebab di pesantren, guru bukan hanya pengajar, tapi juga orang tua kedua, bahkan kadang menjadi tempat pulang sebelum pulang.
Aku melihat itu jelas di mata murid-muridku sore itu. Cara mereka duduk, cara mereka menyapa, cara mereka tertawa sopan, bahkan cara mereka berpamitan—semuanya bukan sekadar sopan, tapi penuh rasa. Rasa hormat, rasa sayang, rasa ingat. Dan di zaman ketika banyak orang cepat melupakan, ingatan yang hangat seperti itu rasanya sungguh mahal.
Kami berbincang ringan. Tidak ada topik berat, tidak ada ceramah. Hanya cerita tentang kegiatan Mubes, kabar teman-teman lama, tawa kecil mengenang masa nyantri, dan kadang jeda yang justru penuh makna. Aku tak banyak bicara. Aku lebih senang mendengarkan. Sebab dari cerita mereka, aku tahu: sebagian nilai yang kuajarkan tak hilang tertiup zaman.
Itu sudah lebih dari cukup bagiku. Rezeki tidak selalu datang dalam bentuk materi. Kadang ia datang dalam bentuk kesempatan untuk disapa. Untuk didatangi. Untuk dikenang. Dan sore itu, aku merasa menerima rezeki dalam keadaan utuh: tak terlihat tapi kurasakan sampai dalam dada.
Betapa banyak guru yang mengajar puluhan tahun, tapi akhirnya sepi dari kabar murid. Betapa banyak ilmu disampaikan, tapi tak semua berbuah ingatan. Maka ketika seorang murid masih meluangkan waktu, setelah lelah seharian berkegiatan, lalu menyempatkan mampir hanya untuk menyapa gurunya—itu bukan hal kecil. Itu luar biasa.
Namun sayang, kunjungan itu tak lama. Hari semakin sore. Langit mulai meredup. Mereka harus pulang. Wajah-wajah itu berpamitan satu per satu, dengan sikap yang tak berubah sejak mereka datang. Aku mengantarkan mereka sampai depan pintu, mengangguk pelan, mengangkat tangan sedikit. Dalam hati, aku mendoakan mereka dengan doa yang mungkin tak terdengar di telinga mereka, tapi kukirimkan sepenuh hati.
“Semoga langkah kalian selalu dirahmati.
Semoga hidup kalian selalu diberi arah.
Semoga kelak kalian menjadi orang baik,
dan tetap ingat jalan pulang.”
Setelah mereka pergi, rumah kembali sunyi. Tapi jujur, kesunyian itu tak terasa kosong. Justru terasa penuh. Penuh rasa syukur. Penuh kehangatan yang tertinggal di udara. Penuh harapan yang pelan-pelan tumbuh kembali.
Di situlah aku sadar, menjadi guru bukan tentang menjadi yang paling pintar. Bukan pula tentang suara yang paling lantang. Tetapi tentang menjadi bagian dari hidup orang lain. Tentang menemani tumbuh. Tentang hadir diam-diam dalam perjalanan mereka menuju masa depan.
Dan jika kelak mereka masih menyempatkan diri untuk kembali sebentar saja—itu saja sudah cukup sebagai bukti: aku tidak gagal sepenuhnya.
Aku menulis ini bukan untuk membanggakan diri, melainkan sebagai pengingat—untuk diriku sendiri, dan mungkin untuk siapa pun yang membaca—bahwa silaturahmi adalah cara Tuhan menyentuh hati kita secara diam-diam.
Kadang Tuhan tidak mengirim kebahagiaan dalam kotak kado. Ia mengirimnya lewat langkah kaki.Lewat senyum. Lewat pintu yang diketuk sore hari.
Dan sore itu, pintuku diketuk oleh murid-muridku. Aku membuka pintu. Dan ternyata, Tuhan ikut masuk bersama mereka.
****
Binti Wasunah, Seorang Guru ngaji Di Baleendah, Penulis buku dan Guru swasta . Karya-karyanya antara lain Al-I’rabul Muyassar li al _Nahwu Wadih , Al- Insya Al Araby, Tidak semua Obat terjual di Apotek (kumpulan Quotes arab), Kuasa Hati (Non fiksi ), Ada Apa dengan Cintaku( Non fiksi), Kumpulan Cerita Pengantar Tidur (Fiksi), dan aktif menulis artikel ,puisi dan cerpen di media online BJN(Berita Jawa Barat News).

Ustadzah.. Love u ❤❤❤❤❤❤😘😘😘😘😘 sehat selalu terimakasih telah mengisi ruang hati sewaktu kami mnjadi santriwati… Terimakasih telah mendidik dan mengajarkan arti rasa kuat dengan Kekuatan yang selalu tertanam..
Doa terbaik buat ustdzah beserta keluarga…
Masyaallah terimakasih guruku, doamu jalan keberkahan dan kesuksesan untuk kami murid-muridmu…
Maafkan kami yang jarang datang dan kadang lupa untuk menyapamu, doa terbaik selalu untuk mu, sehat selalu guruku in syaa Allah ilmu darimu akan selalu menjadi bekal untuk kami murid-muridmu..🥰
Alhamdulillah, pembelajaran yang berhasil, murid² tidak akan lupa akan gurunya. “Adab lebih tinggi dari ilmu”. Semoga sukses ibu, aamiin.
MaasyaAllah Guruku yang super hebat dan sangat menginspirasi, smua catatannya menyentuh hati, Smoga sehat dan bahagia selalu guruku…doa terbaik selalu akan kulangitkan untukmu, terima kasih tas smua ilmu dan bimbingan slama saya mesantren byk hal yg tertanam dlm jiwaku berkat ilmu, Smoga mnjd amal jariyah, aamiin🤲🥰