Photo: unsplash @alexgorinutm
Indonesia memang sudah merdeka selama 81 tahun. Namun, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sudah benar-benar merdeka?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Sebab selama ini kita memahami kemerdekaan sebagai terbebas dari penjajahan dan memiliki hak untuk menentukan kehidupan sendiri.
Tetapi tanpa kita sadari, ada banyak tekanan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Tekanan yang datang dari orang lain, tetapi ada juga yang justru berasal dari dalam diri sendiri.
Salah satunya adalah rasa tidak enakan.
Kita merasa tidak enak menolak permintaan tetangga. Tidak enak mengatakan tidak kepada saudara yang terus bergantung. Tidak enak menolak ketika seseorang meminta bantuan, meskipun sebenarnya kita sedang lelah dan ingin beristirahat.
Sekilas mungkin terlihat sepele. Namun, jika terus dilakukan, rasa tidak enakan bisa menjadi tekanan yang perlahan-lahan membatasi kebebasan kita.
Ketika Rasa Tidak Enakan Mulai Menjajah Diri
Pernahkah kita ingin pergi sendiri, tetapi tiba-tiba ada tetangga yang ingin ikut menumpang?
Sebenarnya kita sedang membutuhkan waktu untuk pergi sendiri. Namun karena merasa tidak enak menolak, akhirnya kita kembali mengesampingkan keinginan sendiri.
Atau ketika tubuh sedang lelah dan kita ingin beristirahat, tetapi ada orang yang datang meminta pertolongan. Kita sebenarnya ingin berkata, “Maaf, kali ini saya tidak bisa.”
Namun kalimat itu urung keluar. Lagi-lagi karena tidak enakan.
Akhirnya kita mengorbankan waktu istirahat, mengabaikan kebutuhan diri sendiri, lalu memilih membantu meskipun sebenarnya sedang tidak sanggup.
Dari sini saya mulai berpikir, ternyata yang membatasi diri kita bukan hanya permintaan orang lain.
Ketidakmampuan kita untuk berkata tidak juga bisa menjadi bentuk penjajahan terhadap diri sendiri.
Kita membiarkan diri terus mengalah. Terus bersabar. Terus memenuhi keinginan orang lain. Sementara keinginan, tenaga, waktu, bahkan kenyamanan diri sendiri semakin sering diletakkan paling belakang.
Sampai Kapan Kita Terus Merasa Tidak Enak?
Sampai kapan kita akan berada dalam situasi seperti ini?
Tidak bisa menolak keinginan orang lain. Tidak bisa mengatakan tidak ketika sebenarnya kita tidak sanggup. Bahkan tidak bisa mendengarkan kebutuhan diri sendiri karena terlalu sibuk memikirkan perasaan orang lain.
Padahal, mengatakan tidak bukan berarti kita menjadi orang jahat. Menolak bukan berarti kita tidak peduli. Dan memilih diri sendiri sesekali bukan berarti kita menjadi orang egois.
Ada kalanya kita memang perlu memberikan batas. Ada kalanya kita harus mengatakan, “Maaf, saya tidak bisa,” tanpa harus merasa bersalah setelahnya.
Sebab kita juga memiliki batas tenaga, waktu, pikiran, dan kemampuan. Membantu orang lain memang baik. Tetapi membantu bukan berarti harus selalu tersedia kapan pun orang lain membutuhkan kita.
Belajar Memerdekakan Diri dari Rasa Tidak Enakan
Momentum bulan Agustus dan perayaan kemerdekaan ini mungkin bisa menjadi pengingat bagi kita untuk memaknai kemerdekaan dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sudah waktunya kita belajar memerdekakan diri dari rasa tidak enakan. Berani berkata tidak kepada sesuatu yang memang tidak sanggup kita lakukan. Berani menolak sesuatu yang memang tidak kita inginkan. Berani mengatakan bahwa kita sedang lelah dan membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Yang tidak kalah penting, berani berhenti merasa bersalah hanya karena kita memilih menjaga diri sendiri. Tentu saja, berkata tidak tetap perlu dilakukan dengan cara yang baik. Kita tidak perlu menyakiti orang lain hanya demi mempertahankan batas diri.
Kita bisa menolak dengan sopan, mmenjelaskan keadaan tanpa harus memberikan alasan yang berlebihan. Karena menjaga perasaan orang lain itu penting, tetapi menjaga diri sendiri juga tidak kalah penting.
Kemerdekaan Bukan Hanya Tentang Bebas dari Orang Lain
Bagi saya, kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari tekanan orang lain. Kemerdekaan juga tentang kemampuan untuk mengenali batas diri, menentukan pilihan, dan tidak terus-menerus hidup di bawah tekanan rasa tidak enakan.
Kadang-kadang, penjajahan paling sulit dilawan bukan datang dari orang lain, melainkan dari pikiran kita sendiri.
Kita sering merasa takut mengecewakan, takut dianggap tidak baik, takut dibicarakan dan khawatir hubungan akan menjadi renggang.
Padahal, selama kita terus takut mengatakan tidak, bisa jadi kita sedang mengorbankan diri sendiri hanya untuk menjaga kenyamanan orang lain.
Maka, di momen Agustusan ini, mungkin sudah waktunya kita bertanya kembali kepada diri sendiri:
Sudahkah saya benar-benar merdeka? Jika belum, mungkin salah satu langkah kecilnya adalah belajar berkata tidak.
- Tidak pada sesuatu yang memang tidak sanggup kita lakukan.
- Tidak pada sesuatu yang terus menguras tenaga dan pikiran.
- Tidak pada permintaan yang membuat kita kehilangan batas diri.
- Dan tidak pada kebiasaan selalu mengalah hanya karena rasa tidak enakan.
Sejatinya, kemerdekaan diri bukan berarti bebas melakukan apa saja tanpa memikirkan orang lain. Kemerdekaan adalah ketika kita mampu menjalani hidup dengan pilihan sendiri, tanpa terus-menerus berada di bawah tekanan, rasa takut, dan keharusan untuk selalu menyenangkan orang lain.
Mari belajar memerdekakan diri. Bukan untuk menjadi egois, tetapi agar kita juga bisa menghargai diri sendiri sebagaimana kita selama ini berusaha menghargai orang lain.
