Ilustrasi (Fetih Benattallah/Unsplash)
Sebetulnya, siapakah orang baik itu?
Pertanyaan itu belakangan sering muncul di kepala saya. Bukan karena saya tiba-tiba tidak ingin berbuat baik, melainkan karena saya mulai memahami bahwa menjadi orang baik pun ternyata bisa melelahkan ketika kebaikan terus-menerus dianggap sebagai sebuah kewajiban.
Dulu, ketika kebaikan dibalas dengan penghargaan, ucapan terima kasih, sikap yang baik, atau sekadar perhatian kecil yang bersifat personal, mungkin saya dan banyak orang lainnya masih bersemangat untuk terus menjadi orang baik.
Ada rasa bahagia ketika mengetahui bahwa kebaikan kita dihargai.
Ketulusan pun rasanya menjadi semakin besar ketika ada perasaan bahwa apa yang kita lakukan tidak dianggap remeh. Namun, bagaimana jika pengorbanan dan kebaikan yang kita berikan justru dianggap sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya dilakukan?
Lama-lama, orang baik pun bisa lelah.
Orang Baik juga Punya Titik Lelah
Saya percaya banyak orang ingin hidupnya bermanfaat bagi orang lain. Ada kepuasan tersendiri ketika bisa membantu seseorang keluar dari kesulitan.
Tetapi saya juga yakin, tidak sedikit orang yang akhirnya merasa lelah karena kebaikannya terus-menerus dimanfaatkan. Orang yang senang menolong pun memiliki batas.
Awalnya mungkin ia dengan senang hati membantu. Namun ketika pertolongan yang diberikan mulai dianggap sebagai kewajiban, semuanya bisa berubah.
Ketika suatu hari ia tidak mampu membantu, pertanyaan dan protes justru datang.
“Kenapa gak menolong?”
“Harusnya kamu kan menolong saya.”
Seolah-olah karena selama ini seseorang dikenal baik dan suka membantu, ia tidak lagi memiliki hak untuk berkata tidak. Terlebih jika memiliki ikatan pertemanan atau persaudaraan. Semuanya akan terasa bertambah rumit jadinya.
Padahal, orang baik juga manusia. Ia bisa sibuk. Ia bisa kelelahan. Ia bisa punya masalah. Ia bisa sedang tidak memiliki uang. Bahkan ia juga bisa sedang membutuhkan pertolongan.
Jangan Sampai Kebaikan Dianggap sebagai Pekerjaan Orang Lain
Saya teringat dengan unggahan tentang Pandawara Group, kelompok yang dikenal aktif membersihkan sungai dan lingkungan. Mereka bahkan rela mengeluarkan biaya besar untuk mendukung kegiatan bersih-bersih, termasuk menggunakan alat-alat yang membantu proses pembersihan.Namun, setelah sungai dibersihkan, tidak lama kemudian sampah kembali menumpuk.
Ketika ada yang mempertanyakan mengapa masyarakat kembali membuang sampah ke sungai, ada komentar warganet yang kurang lebih berbunyi, “Biar Pandawara ada pekerjaan.”
Saya membaca kalimat itu dengan perasaan campur aduk. Benarkah kebaikan seseorang harus menjadi alasan bagi orang lain untuk terus melakukan hal yang salah?
Bukankah seharusnya ketika ada orang yang membantu membersihkan sungai, kita justru ikut menjaganya agar tetap bersih?
Kebaikan seharusnya melahirkan kesadaran, bukan ketergantungan.
Orang yang Memberi Makan Gratis Juga Bisa Merasa Lelah
Belakangan saya juga melihat unggahan seorang donatur yang menyediakan makanan gratis bagi masyarakat yang membutuhkan.
Suatu hari, karena merasa lelah, ia makan di meja yang sama dengan orang-orang yang datang menikmati makanan tersebut. Tiba-tiba ada seseorang yang datang dan menggebrak meja sambil mengatakan sesuatu yang intinya mempertanyakan mengapa pemilik tempat tersebut ikut makan.
Saya membaca kisah itu dan kembali bertanya-tanya. Apakah orang yang berbuat baik tidak boleh merasa lelah? Apakah orang yang selama ini menyeriakan makan gratis tidak boleh makan? Apakah orang baik tidak boleh mengeluh dan sedih? Apakah mereka tidak boleh berharap sedikit penghargaan?
Mengapa ketika seseorang sudah terbiasa memberikan sesuatu kepada orang lain, kemudian ketika ia berhenti sejenak, justru dirinya yang dianggap bersalah?

Saya pun Mulai Lelah Menjadi Orang Baik
Mungkin sekarang saya sedang berada di fase itu. Fase ketika saya mulai merasa lelah menjadi orang baik. Bukan karena saya tidak ingin menolong atau menyesal pernah membantu orang lain.
Saya hanya hanya sudah ada di titik bahwa apa yang saya lakukan pun sudah sampai batasnya bahwa kebaikan juga membutuhkan batanya.
Bertahun-tahun suami saya menjadi semacam “ojek gratis” bagi orang-orang di sekitar. Menerima titipan anak tetangga yang sekolahnya jauh dari rumah. Awalnya hanya sesekali dan berubah menjadi setiap hari karena alasan, lokasi sekolah searah dengan tempat kerja suami. Bahkan sesekali diminta menjemput tanpa upah lagi-lagi karena alasan jalannya searah.
Awalnya kami selalu berpikir positif. Semoga apa yang dilakukan menjadi amal jariyah dan berharap jika setiap langkahnya menjadi kebaikan.
Kami tidak pernah menghitung berapa rupiah bensin yang habis atau berapa lama waktu yang digunakan. Namun, suatu hari motor kami mengalami masalah.
Ban bocor karena harus membawa beban yang cukup berat. Motor bahkan pernah harus turun mesin. Semua biaya perbaikan harus kami tanggung sendiri.
Pernah pula motor suami mogok dan membuatnya terlambat berangkat kerja. Sementara anak yang sebelumnya menumpang akhirnya dibiarkan pulang atau pergi menggunakan angkot.
Pada titik tertentu, rasanya kesalahan justru bertumpuk kepada kami sebagai orang yang menolong.
Ada pula ungkapan-ungkapan yang diam-diam menyakitkan.
“Enggak apa-apa, dia kan baik.”
“Enggak apa-apa, dia bisa kok nolongin.”
“Pasti dia mau.”
Kalimat-kalimat seperti itu membuat saya berpikir, sejak kapan menjadi orang baik berarti harus selalu tersedia untuk kepentingan orang lain?
Meminjam Uang Bukan Berarti Kita Punya Banyak Uang
Hal yang sama juga terjadi ketika seseorang meminjam uang. Ada orang yang datang membawa cerita kesedihan. Karena kasihan, kami membantu meskipun sebenarnya kondisi keuangan kami sendiri tidak berlebih.
Kami memberikan pinjaman karena kami tahu bagaimana rasanya berada dalam kesulitan Ada janji bahwa uang tersebut akan segera dikembalikan. Maka kami pun percaya.
Namun, ketika bantuan sudah diterima, kehidupan mereka berjalan seperti biasa. Sementara kami yang uangnya dipinjam justru harus berhemat sedemikian rupa, bahkan pernah nyaris tidak memiliki makanan yang cukup karena uang tersebut tak kunjung dikembalikan.
Saya memang bukan penagih utang yang baik, rasanya selalu tidak tega dan merasa sungkan. Akhirnya lebih sering pasrah dan menunggu orang tersebut menepati janjinya.
Karena sudah terlalu lama, akhirnya saya pun mencoba memberanikan diri mengatakan bahwa kami pun sedang butuh uang.
Jawabannya, “Maaf, uangnya belum ada.”
Saya hanya bisa terdiam. Mungkin mereka mengira orang yang meminjamkan uang pasti memiliki banyak uang. Padahal, orang yang memberikan pinjaman tidak selalu karena memiliki kelebihan, melainkan karena memiliki rasa kasihan dan tahu betul bagaimana rasanya berada dalam kesulitan.
Karena itu, ketika sudah berjanji mengembalikan, sebaiknya tepati. Jangan membuat orang yang sudah berbaik hati kepada kita justru kesulitan karena uangnya terlalu lama berada di tangan kita.
Jangan Jadikan “Pertolongan” sebagai Kewajiban
Ada pula pengalaman lain yang mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya membutuhkan waktu dan tenaga.
Seorang tetangga meminta tetangga lainnya mengajari anaknya les karena prestasi anaknya menurun. Permintaan itu awalnya mungkin terdengar seperti pertolongan biasa.
Waktu berjalanm minggu, bulkan dan tahun berlalu. Les dilakukan dengan jadwal tetap, sekitar delapan kali dalam sebulan atau dua kali seminggu.
Pertanyaannya, apakah karena mereka bertetangga maka semuanya otomatis menjadi gratis? Atau karena masih saudara, maka pertolongan seperti itu dianggap sesuatu yang sewajarnya diberikan?
Pernahkah terpikir berapa banyak waktu yang digunakan? Berapa biaya yang dikeluarkan untuk berangkat? Berapa tenaga yang terkuras? Berapa banyak kesempatan lain yang mungkin terlewat karena seseorang memilih memberikan waktunya untuk membantu?
Kita sering lupa bahwa waktu orang lain juga memiliki nilai.
Hargai Orang yang Berbuat Baik
Saya tidak sedang mengatakan bahwa kita tidak boleh menolong orang lain. Justru sebaliknya. Tolong-menolong adalah sesuatu yang baik.
Tetapi jangan sampai sikap kita membuat orang yang selama ini senang menolong akhirnya berpikir untuk berhenti menjadi orang baik. Saya yakin orang yang benar-benar tulus membantu tidak selalu berharap uang atau materi sebagai balasan.
Mereka hanya ingin dihargai, ingin diperlakukan dengan baik. Berharap sedikit saja dimaklumi ketika suatu hari tidak mampu membantu dan diberi ruang untuk menjalani kehidupannya sendiri.
Bukankah orang yang baik juga punya keluarga? Mereka punya pekerjaan, punya masalah, punya keinginan untuk beristirahat dan keinginan lain yang tidak pernah kita ketahui?
Dan punya hak untuk mengatakan, “Maaf, kali ini saya tidak bisa membantu.”
Jangan membuat orang baik merasa bersalah karena tidak mampu memenuhi permintaan kita. Jangan membuat mereka merasa bahwa kebaikan yang pernah diberikan adalah kontrak seumur hidup.
Minta Tolong Ketika memang Membutuhkan, bukan Karena Kebiasaan
Menurut saya, meminta pertolongan bukanlah sesuatu yang salah. Kita semua pasti pernah membutuhkan orang lain. Namun, belajarlah membedakan antara benar-benar membutuhkan pertolongan dengan sekadar ingin mendapatkan kemudahan dari orang lain.
Jangan meminta seseorang mengantar hanya karena malas mencari kendaraan sendiri. Atau meminta bantuan karena sudah terbiasa. Jangan meminjam uang lalu menganggap pemberi pinjaman tidak akan membutuhkannya.
Jangan meminta waktu seseorang tanpa memikirkan bahwa ia mungkin memiliki urusan lain yang jauh lebih penting. Jangan pernah berpikir bahwa karena seseorang baik, maka ia akan selalu berkata iya.
Sebab, bisa jadi hari ketika ia berkata “tidak” adalah hari ketika ia sudah terlalu lelah untuk terus mengalah. Hiduplah dengan memahami batas.
Yuk, mulai biasakan dan paksakan diri untuk mengurus kehidupan masing-masing dan menyelesaikan tanggung jawab sendiri sebisa mungkin.
Mintalah pertolongan orang lain ketika memang benar-benar membutuhkan pertolongan, bukan karena kita malas, enggan berusaha, atau sudah terlalu nyaman menggantungkan urusan kepada mereka.
Jadi jika suatu hari mendapatkan penolakan gak apa-apa ya. Orang baik pun oleh mengatakan “Tidak”. Bukan karena jahat atau kehilangan hati nurani. Namun karena kita mulai memahami batasan. Kita bisa tetap menjadi orang baik tanpa harus kehilangan diri sendiri.
Dunia membutuhkan lebih banyak orang baik. Jangan sampai sikap kita membuat mereka memilih berhenti menjadi baik.
