Hari ini melelahkan sekali, rapat organisasi itu membuatku bingung! Astagaaa, rapat yang aku lihat di depan layar laptopku ini selesai larut malam, sedangkan besok harus sekolah. Wah, sudah terbayang bagaimana wajah lelahku menghiasi ruang kelas.
Kurang lebih baru satu jam aku tidur, niatnya biar gak bangun kesiangan. Karena kalau aku tidur setelah pergantian hari, pasti mamah akan mengomel karena aku akan bangun kesiangan.
Kursi ruang tamu di rumah bibiku menjadi sahabat sejatiku dalam beberapa minggu terakhir, karena mamah harus merawat ema yang sedang sakit. Memang pegal jika kamu terlelap di atas kursi, sekalipun kursinya selembut awan.
Aduh!
Bukannya aku baru tertidur, mengapa waktu cepat sekali berlalu? Kenapa fajar sudah menyapaku lagi?
“Neng, bangun!” Suara mamah yang menyapaku pertamakali. Dapat kamu tebak responku, tentu aku hanya menggeliat. Manusia mana yang terbangun dengan segar setelah rapat sampai larut malam dan baru tertidur beberapa saat yang lalu?
Hei, tumben sekali langitnya masih gelap? Apakah aku dibangunkan untuk tahajjud?
“Ema meninggal.”
Hah? Hai, jangan bercanda dulu, Mah!
“Hah? Ema?” tanyaku dengan jiwa yang masih setengah melayang.
Ini mimpi, bukan?
“Iya, Ema meninggal barusan.” Suara lembut mamah kembali menyapa pendengaranku. Lalu, mulai kudengar tangisan yang kukenal. Tangisan sepupu-sepupuku. “Ayo pake kerudung, sebentar lagi rumah pasti akan ramai.”
Ema, ini bohong, kan?
**
Ah, ternyata hari itu datang. Datang tepat setelah satu hari ema berusia 72 tahun, tiga puluh lima menit menjelang pergantian hari. Rasanya baru kemarin ema memanggilku untuk mengambil cemilan di rumahnya. Atau menyuruhku menghabiskan makanan di rumahnya yang jarang tersentuh.
Tak akan ada lagi suara cempreng itu, yang memintaku untuk berlama-lama di rumahnya. Tak akan ada lagi bantal hijau yang tipis itu, bantal keramat yang mampu memancing kemarahan ema jika aku menghilangkannya.
Keadaan rumah bibi mendadak berubah drastis. Selang setengah jam, rumah mendadak ramai. Aku masih pakai baju tidur, hanya bisa diam liat ema yang biasanya bawel sedang terkapar kaku di tengah rumah.
Rumah semakin ramai, dan aku tidak mengenali mereka semua. Mayoritas tamu yang datang adalah teman seumuran mamah, beberapa diantaranya seumuran ema. Tentu aku menampakkan wajahku versi kumuh. Jangankan pakai bedak, momen seperti ini mana sempat tampil cetar.
Bapak menghampiriku, menepuk pundakku yang sejajar dengannya, “Mandikan.” Aku paham intruksinya, dan beliaupun paham keberanianku dalam memandikan jenazah.
Beberapa tamu yang datang berkata, “awas kalo gak kuat mending jangan, Neng. Kalo takut mending diem aja, khawatir kamunya ambruk.”
“Udah, biarin aja. Dia gak akan ambruk hanya karena berhadapan dengan jenazah.” Begitulah jawaban bapak.
Singkat, padat, biarin aja!
Selesai pemandian jenazah, ema dibawa ke rumahnya yang berada tepat di samping rumah bibi. Disana aku menyadari, ada yang hilang dari rumah ema.
Mataku menyebarkan pandangannya, melihat setiap jengkal ruangan. Berharap bahwa benda itu masih ada di rumah. Namun sayang, rumah ema sedang penuh sesak, mana sempat mencari benda selembar itu.
Selembar, namun memiliki makna yang dalam nan lebar. Kalender Tahun 2008 berwarna merah berlatarkan iklan obat Bodr*x yang debunya cukup tebal. Bendanya sepele, bahkan ujung kanan atasnya sudah sobek, logikanya untuk apa mempertahankan kalender yang sudah tak berlaku?
Aku masih ingat, saat tahun 2012 –aku berusia tujuh tahun. Ketika aku dan mamah sengaja main ke Rumah ema selepas Maghrib—jarak rumah ema kurang lebih dua kilometer dari rumah. TV tua ema yang terlihat menayangkan sinetron terkenal tentang perjuangan tukang bubur mendadak aku pindahkan ke kartun Si Kembar Botak.
Saat itu aku memang sangat aktif, mungkin bisa disebut “Bocil Kematian” saking gilanya energiku kala itu. Semua benda aku pegang dan aku tanyakan bila dirasa aneh.
“Ma, itu tahun 2008. Sekarang tahun 2012.” Aku yang mulai sadar akan perbedaan tahun mulai menunjuk kalender yang sobek di pinggir kanannya. Awalnya aku raih, dan bertanya kenapa ini ada disini. Sedangkan selisihnya saja sudah empat tahun, pasti tidak terpakai. Berdebu pula!
Awalnya aku berpikir, apa mungkin ema fans berat dari bapak-bapak gendut yang tengah tersenyum lebar di kalender itu? Kalau iya, selera ema buruk sekali.
“Jangan dilepas, biarin digantung disana!” Ema mengisyaratkan agar aku mengembalikan posisinya ke tempat semula, dengan menaik-turunkan kipas anyam yang dipegangnya
“Kenapa, Ma?”
“Untuk mengenang kematian Kakekmu,” ujarnya. Tangan kanannya masih asyik mengayunkan kipas anyam, mungkin ema sedang kepanasan. “Ema lupa bulan apa. Yang Ema inget, kakekmu meninggal tahun 2008, tepat saat Maulid Nabi. Kamu kalau gak salah baru bisa jalan.”
Mamah tengah duduk di sampingku, mendengar itu hanya diam, lalu tersenyum. Sedangkan aku bingung tak tahu artinya apa. Hei, usiaku baru tujuh tahun, mana paham dengan apa yang dikatakan ema?
Ah, urusan orang dewasa ternyata rumit. “Emang Kakek kapan meninggalnya? Udah lama, ya?”
“Kamu dulu ikut kok ke Kuningan, saat melongok Kakekmu waktu sakit,” kata mamah. Ia mengisyaratkan kalau aku ingat momen bersama kakekku sebelum berpulang.
Sampai aku ingat apa yang dimaksud ema beberapa tahun kemudian.

Masyaallah kerenn