Matinya Belang Sang Raja Hutan

Raja hutan

Belang adalah seekor harimau yang mendapatkan mandat untuk menjadi raja hutan. Tugas mulia itu diberikan langsung oleh sang raja Dungala yang hidup di negeri Bahana Raya. Negeri yang aman damai sentosa karena seluruh rakyatnya sejahtera.

Raja Dungala adalah raja yang sangat bijaksana. Dipatuhi oleh seluruh rakyatnya tidak terkecuali bangsa binantang.

“Belang, ada yang ingin aku sampaikan kepadamu!” ujar sang Raja.

“Silakan, Tuan. Hamba bersedia mendengarkan,” jawab Belang dengan penuh kepatuhan.

Read More

“Negeri ini selalu aman sentosa selama berada di bawah kepemimpinanku. Namun nyatanya di luar sana ada yang menginginkan hutan untuk dibangun area pemukiman. Bagaimana menurutmu, Belang?” tanya sang raja.

Sontak hal itu membuat belang terkejut. Napasnya mendadak sesak. Kekhawatiran muncul dalam hatinya.

Bagaimana nasib aku dan kawan-kawanku di hutan sana, jika nanti hutan dihancurkan? batinnya.

“Aku paham kegelisahanmu, Belang,” ucap sang raja seolah tahu apa yang sedang dipikirkan tangan kanannya di bidang perhutanan.

“Adakah masukan dari baginda raja, apa yang sebaiknya hamba lakukan?” tanya Belang.

Sang raja pun berpikir sejenak. Bangsa binatang yang ada di hutan juga merupakan rakyatnya yang harus dilindungi. Bukan hanya itu, hutan adalah sumber oksigen dan air tanah yang jernih untuk kehidupan seluruh rakyatnya.

“Aku tugaskan kau untuk menjaga hutan itu, Belang. Aku percayakan seluruhnya kepadamu. Banyak yang harus kita selamatkan dari adanya hutan ini. Bukan hanya bangsamu, manusia pun akan bisa hidup lebih panjang jika hutan ini tetap ada.” ucap sang Raja.

“Aku mengerti, Baginda!”

Setelah percakapan itu, Belang menjadi lebih sering berpikir. Keceriaannya seolah hilang.

Sebelum mendapatkan kabar bahwa hutan akan dimusnahkan, Belang adalah sosok yang ceria. Sering bercengkrama menikmati udara segar di tepi sungai atau bercanda bersama para anak-anak binatang membacakan cerita di bawah pohon rindang.

“Aku perintahkan kalian untuk tetap waspada!” perintahnya suatu hari kepada para rakyat hutan.

“Ada apa gerangan? Kenapa tiba-tiba kau berkata demikian?” tanya Rossy sang ibu rusa.

“Aku tidak ingin merusak kebahagiaan dan kenyamanan kalian di hutan ini. Pokoknya aku minta, tetaplah waspada dan jangan terlalu santai saat beraktivitas. Kalau perlu, kita sesekali berjalan ke tepian hutan untuk melihat keadaan sekitar. Khawatir ada hal yang membahayakan,” kata Belang.

“Hai, sejak kapan kau mengatur kegiatan kami?” teriak salah satu hewan.

“Aku bukan mengatur, aku hanya bertanggung jawab untuk menjaga keselamatan kalian,” jawab Belang.

Seiring dengan waktu, Raja Dungala semakin sering memanggil Belang dan menyampaikan bahwa setiap hari bahaya semakin besar. Ancaman semakin dekat.

“Belang, aku dengar beberapa orang akan mulai membongkar hutan bagian utara,” kata Raja.

Kabar itu membuat Belang mulai bersiasat. Ia mengatur beberapa rencana. Lalu menyampaikannya kepada beberapa penduduk hutan.

“Kawan-kawan, mulai besok, para jantan harus patroli. Berlakulah menjadi hewan yang selalu sigap. Kalau perlu, bersikap lah garang. Jangan lemah. Jika ada gangguan, lakukan perlawanan!” papar Belang.

Semua penghuni hutan tertawa.

“Hentikan bualanmu, Belang! Sejak kapan di hutan ini ada bahaya. Selama ini hidup kita pun baik-baik saja. Raja Dungala telah menjamin kehidupan dan kelestarian kita di sini,” ucap seekor banteng.

“Aku ingin melindungi kalian dari bahaya. Raja Dungala telah memerintahkanku untuk menjaga hutan ini. Makanya aku mengajak para jantan uhtuk patroli, para betina waspada dan melindungi anak-anak,” ujar Belang.

“Benar-benar tidak masuk akal. Si Belang ini sepertinya haus perhatian. Kita abaikan saja!” ucap pak kerbau.

Ucapan kerbau tua itu disambut riuh tawa semua binatang yang hadir saat itu.

Hutan gelap memang selalu aman. Tempat ternyaman yang mereka miliki. Karena raja Dungala telah melakukan peraturan kepada para warganya untuk tidak sedikitpun menganggu wilayah hutan. Karena itu mereka begitu jarang bertemu dengan kaum manusia.

“Aku beri tahu. Kaum manusia akan menghancurkan hutan kita dalam waktu dekat ini. Aku ingin kita bekerja sama untuk menakuti mereka,” Belang bersungguh-sungguh.

“Ha ha ha. Sejak kapan? Tuan Raja Dungala tidak akan pernah membiarkan itu terjadi,” cibir Rusa.

“Aku sendiri yang dipanggil tuan Raja. Pihak lain yang memaksa. Bukan keinginan raja!”

“O iya?”

Kompak seluruh penghuni hutan gelap tertawa terbahak-bahak.

Akhirnya Belang menyerah karena merasa tidak dihargai. Diam adalah pilihan terbaik. Melakukan perannya sendiri akan menjadi pilihannya malam ini.

**

Di tepi hutan yang letaknya tidak jauh dari pemukiman binatang, ada sekelompok manusia yang sedang berkemah. Belang yakin itu adalah pasukan pekerjaan yang dikabarkan oleh Raja Dungala.

Api unggun berkobar. Belang sempat gentar karena ia memang takut dengan api. Namun kemudian akhirnya ia memberanikan diri untuk mendekati perkemahan itu untuk melakukan misinya sendiri.

“Ada yang datang rupanya,” ucap salah seorang manusia seraya mengambil senapan.

“Tunggu dulu, jangan tembak. Kita dengarkan dulu barangkali ada yang ingin dia sampaikan. Dari gerakannya dia tidak ingin menyerang kita,” ujar seseorang yang nampak seperti ketua kelompoknya.

“Aku hanya ingin kalian pergi, jangan menganggu hutan kami!” teriak Belang dengan suara lantang.

“Ha ha ha. Berani rupanya!” jawab sang ketua kelompok manusia.

“Kalian punya tempat hidup, kenapa harus mengganggu tempat hidup kami?” tanya Belang dengan berani, kami tidak akan tinggal diam!”

Semua manusia yang ada di sana terdiam. Sampai sang ketua memberikan kode, bahwa Belang harus ditangkap.

Belang bersiap menyerang. Ia mengaum keras memberikan kode kepada kawanan binatang yang ada di dalam hutan.

Suara Belang terdengar sayup-sayup terbawa angin ke dalam hutan gelap. Para binatang yang sedang bersantai menikmati cahaya bulan menghentikan napasnya. Berusaha menangkap suara itu.

“Apakah itu suara Belang?” tanya pak Kerbau.

“Sepertinya iya,” jawab banteng.

“Alah, mungkin dia sedang bersandiwara agar rencananya untuk membuat kita patroli dan waspada setiap saat terlaksana. Abaikan saja!” perintah singa yang sejak lama iri dengan Belang dan ingin menjadi raja di hutan gelap.

“Dor!”

Suara tembakan terdengar begitu keras. Seluruh hutan gelap sunyi. Semua penghuni menahan napasnya kuat-kuat. Sebagian binatang ketakutan dengan tubuh yang gemetar.

“Kawan, apa yang dikatakan raja Belang benar adanya. Bahaya sudah sangat dekat,” bisik banteng.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya pak Kerbau.

Di tengah-tengah diskusi yang senyap, sebuah cahaya muncul dari balik rimbunan pepohonan.

Empat orang manusia dengan senapan lengkap siap menembak  berdiri mengelilingi kumpulan binatang.

Mereka yang tidak pernah berkompetisi, mereka yang selalu damai dengan keseimbangan ekosistem, tidak memiliki keberanian untuk melawan. Mereka hanya pasrah kepada pasukan manusia yang bisa jadi mereka langsung menembaknya mati.

Ya, mati. Seperti matinya Belang sang raja hutan.

 

 


"Semua konten menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi RuangPena."

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *