Ilustrasi Kera dan Kucing (Sumber : Meta AI)
Bagi Bunda yang sedang mencari referensi dongeng biar gak itu-itu saja ketika membacakan cerita pengantar tidur untuk anak dongeng kera bisa menjadi salah satu pilihan yang bisa dibacakan untuk mereka. Dan dongeng Kera yang Malang ini mungkin bisa menjadi salah satunya.
Kera yang malang, dia tak pernah benar-benar dimanja oleh Petani itu. Tubuhnya dirantai dan jadi penjaga beranda rumah. Kesehariannya hanya melompat ke sisi kanan dan kiri menginjak pohon-pohon kecil buatan, yang sengaja dirangkai Petani untuk tempat bermainnya.
Suatu pagi seorang Petani berjalan menyusuri kampung. Ia tengah mencari Ayam kesayangannya yang hilang sejak kemarin. Sangat teliti ia terus saja menyisir jalan dan semak belukar, harapannya siapa tahu Ayam itu ditemukan dalam keadaan sehat dan masih sudi mengingatnya sebagai majikan.
Saat masuk ke semak belukar itu, petani melihat Kucing di selokan sewaktu ia menuruni saluran air. Petani sangat iba melihat Kucing kumuh itu, dan berniat membawanya pulang ke rumah. Setelah Kucing itu digendong, tiba-tiba petani melihat Ayam kesayangannya sedang mencakar semak, tampak mencari Cacing.
Karena sang Petani adalah penyuka binatang, ia lantas berjalan kaki menuju rumah sambil menenteng dua hewan itu tepat di pinggangnya, kanan dan kiri. Saat sampai di rumah, Kucing itu disimpan di teras rumah karena masih kotor dan perlu dibersihkan. Pak Petani dan Ibu Petani memang memelihara banyak hewan, dari mulai hewan ternak sampai hewan hutan yang sudah jinak.
Seekor Kera peliharaan Petani, melihat ke arah Kucing dengan tatapan yang tajam. Ia berharap, kasih sayang padanya tak terbagi. Apalagi Kera tak rela jika majikannya lebih memilih menyayangi Kucing kampung sialan itu.
“Lah, buat apa dia menolong Kucing jorok dan penyakitan itu?”
Ujarnya dalam hati.
Lantas ketika Kucing itu ditinggal di dalan kardus dan selembar kain di halaman rumah, Kera menghampiri dan menanyai sang Kucing.
“Hai penghuni baru, salam kenal. Aku Kera, hewan yang sudah lama tinggal di sini. Aku sudah satu tahun lebih disini, area mainku di beranda rumah sini, jadi aku berhak bertanya padamu. Apa tujuanmu ke sini?”
Desak Kera dengan tatapan tajam.

“Hai Kera, aku hanya Kucing biasa dan mungkin Petani hanya iba padaku. Sebab aku tak punya tempat tinggal.”
Jawab Kucing terlihat ketakutan.
“Ha? Jadi kau akan tinggal di sini?”
Kera kaget bukan kepalang.
Kucing menjawab dengan terbata-bata, “Sepertinya begitu.”
Lalu Kera meninggalkan Kucing begitu saja. Kera ternyata berpikir dan mencari cara supaya Kucing itu tak betah dan keluar dari rumah majikannya. Sampai ia memiliki ide licik yang menurutnya brilian.
Di suatu sore, Petani tengah bekerja sama menyiapkan makan malam keluarga. Tugas Pak Petani adalah menyembelih salah satu Ayam milik mereka. Sedangkan di sudut lain, Kera mendapati Kucing yang sedang diberi pakan oleh majikannya, kucing itu dimanja dan dielus oleh Ibu Petani dengan penuh kasih sayang.
Setelah Ibu Petani masuk rumah berniat melanjutkan mempersiapkan makan malam, Kera bertanya pada Kucing.
“Apa selama ini kau tak menaruh curiga sama sekali? Semua hewan yang diberi makan dengan kelembutan di sini, akan disembelih dan dimakan oleh pemiliknya.” Kata Kera menakut-nakuti.
Kucing terlihat panik dan wajah yang berseri seketika menjadi muram dan mendung. “Yang benar saja, Kera?”
“Kau lihat tidak? Ayam yang tadi ditangkap itu aku tahu, dulunya sangat disayangi. Dia diberi makan dengan telaten, sering dielus juga. Sama seperti kau Kucing. Kau mau bernasib seperti dia?”
Ceritanya menggebu dan semakin menakut-nakuti.
Kera sepertinya berhasil mempengaruhi Kucing, berharap ia takut dan segera kabur dari rumah Petani.
Memang diantara semua hewan yang Petani punya, hanya Kera yang diberi makan dengan cara dilempar atau memberi makanan yang ditaruh begitu saja di tanah. Ia sangat jarang dielus dan disayang seperti yang keluarga Petani lakukan pada Kucing, Ayam, dan beberapa hewan lain.
Hari demi hari, Kucing menjadi sehat dan gemuk. Ia dibelikan makanan khusus Kucing, disediakan Ikan dan juga Susu, sedangkan Kera masih seperti biasa, dilempari buah-buahan lokal seadanya dan hanya tersedia Pisang dan Pepaya setiap hari. Nyatanya setelah semakin lama, Kucing diberi tempat tidur khusus dan semakin disayang oleh Ibu Petani.
Kucing berbincang dan menghadapkan tubuhnya pada Kera.
“Hari ini aku sangat dimanja Kera, sedangkan kau? Tak pernah masuk rumah, tak pernah makan enak, bahkan kau tak pernah pergi ke salon hewan. Aku kasihan padamu, jika aku disembelih seperti Ayam tempo hari, aku sudah rela Kera, karena aku pernah dimanja dan diperlakukan layaknya manusia. Sungguh aku kasihan padamu.”
Ledek Kucing sambil memasang wajah memelas pada Kera, lalu menjulurkan lidah.
Karena Kera merasa kesal atas sikap Petani yang semakin sayang terhadap Kucing, ia marah besar.
“Awas ya Kucing! Suatu saat aku juga pasti bisa seperti kau,” umpatnya.
Itulah dongeng Kera yang Malang semoga bisa menghibur. Terima kasih.
