Kenangan berfoto bersama Teh Lies Tjandra (dokpri)
Ada momen tertentu ketika duduk di depan laptop, pandangan kosong menembus layar, lalu pikiran melayang ke masa lalu. Saat-saat seperti itu menghadirkan rasa jararauh panineungan—keresahan yang lahir dari ingatan. Saya teringat masa ketika riungan diskusi sastra begitu hidup: pasamoan, ruang riung, percakapan hangat antar-pengarang. Kini, suasana itu terasa semakin jarang. Generasi muda tampaknya lebih sibuk dengan dunia digital, sementara ruang-ruang tatap muka perlahan memudar.

Suatu hari saya membuka kembali majalah Mangle. Di sana, catatan Wahyu Wibisana tentang 50 tahun perjalanan majalah itu membawa saya ke Bogor, ke Jalan Kebonkembang tahun 1957. Nama Nani Sudarma disebut, seorang tokoh Sunda yang tak asing. Ingatan saya segera melompat pada putrinya, Lies Tjandra Kancana, seorang pengarang perempuan yang masih hidup hingga kini. Teh Lies adalah sosok penting dalam dunia sastra Sunda, salah satu dari sedikit perempuan yang menorehkan jejak kuat melalui karya-karyanya.
Kiprah Teh Lies tidak hanya sebatas menulis. Ia hadir sebagai representasi perempuan Sunda yang berani bersuara lewat sastra. Beberapa judul bukunya pernah saya cetak, dan saya beruntung pernah bertemu langsung dengannya di Bogor. Kehadirannya memberi warna berbeda dalam khazanah sastra Sunda, memperlihatkan bahwa perempuan pun mampu menjadi penggerak tradisi literasi. Dalam karya-karyanya, ia sering mengangkat tema kehidupan sehari-hari, nilai budaya, dan refleksi yang dekat dengan pembaca.

Membaca kembali catatan Wahyu Wibisana membuat saya merasa seolah membuka pintu kenangan yang lama tertutup. Dari sana, saya merenung tentang sejarah Sunda. Banyak tulisan esai yang berserakan, namun jarang sekali ada yang dibukukan dengan rapi. Pikiran pun muncul: bagaimana jika saya kumpulkan, ketik ulang, lalu jadikan sebuah buku? Barangkali ada yang membutuhkan, barangkali ada yang tertarik. Ide itu tentu menuntut waktu yang lapang, tenaga yang konsisten, dan mungkin juga biaya yang tidak sedikit.
Namun, sosok Teh Lies memberi inspirasi. Ia membuktikan bahwa menulis adalah cara untuk menjaga jejak, merawat ingatan, dan menyulam sejarah. Kehadirannya dalam dunia sastra Sunda adalah pengingat bahwa setiap catatan, sekecil apa pun, bisa menjadi bagian dari warisan budaya. Jika Teh Lies mampu menorehkan karya yang bertahan hingga kini, mengapa kita tidak mencoba melakukan hal serupa—meski dalam bentuk sederhana, seperti mengumpulkan catatan sejarah atau refleksi pribadi?

Menulis catatan ini, saya merasa sedang berdialog dengan diri sendiri sekaligus dengan sosok Teh Lies. Ada rasa kehilangan atas ruang-ruang diskusi yang dulu hidup, namun juga ada semangat untuk menghidupkannya kembali dalam bentuk lain: tulisan. Barangkali diskusi kini berpindah ke ruang digital, namun esensi percakapan tetap sama—berbagi gagasan, menjaga ingatan, dan merawat kebudayaan.
Maka, Jejak Ingatan Bersama Lies Tjandra Kancana bukan sekadar nostalgia. Ia adalah ajakan untuk kembali menengok sejarah, menyulam ingatan, dan menjaga jejak. Sebab tanpa itu, kita akan mudah tercerabut dari akar. Dan bagi saya, akar itu adalah bahasa, sastra, dan sejarah Sunda yang terus berdenyut di balik halaman buku, di balik catatan-catatan kecil yang kadang ditulis dengan rasa rindu.
Dengan demikian, menulis bukan hanya soal menuangkan kata, melainkan juga merawat memori. Setiap kalimat adalah upaya untuk menahan waktu agar tidak meluruh begitu saja. Dan siapa tahu, dari catatan sederhana ini lahir sebuah buku yang bisa menjadi teman bagi mereka yang masih percaya bahwa sejarah adalah bagian dari kehidupan yang harus terus dijaga.
