Didin Tulus, begitulah namanya. Sebagai basa-basi ia mengenalkan dirinya secara sederhana ketika kami sama-sama naik panggung untuk menerima penghargaan sebagai pemenang lomba mengarang bahasa Sunda satu tahun lalu. Kala itu ia berkata, “kalau punya naskah untuk diterbitkan hubungi saya di Tulus Pustaka.”
Jujur, saya tidak begitu peduli karena memang sama-sama sibuk sendiri. Namun kemudian seorang teman mengenalkannya kembali di sebuah event lomba menulis. Saya dan Kang Didin Tulus sama-sama menjadi juri. Dari sana akhirnya saya dan Kang Didin sering terlibat dalam kegiatan yang sama—menjadi juri lomba, penulisan buku bersama, dan diskusi-diskusi kepenulisan bersama 9 rekan penulis lainnya di Bandung Raya.
Setahun, cukup membuat saya paham bahwa Didin Tulus bukan hanya seseorang yang kecanduan nulis, gila baca buku dan pemuja karya Ajip Rosidi dan Pramoedya Ananta Toer. Ia juga ternyata seorang pengusaha di bidang penerbitan dan percetakan bernama Tulus Pustaka, sebuah hal menarik berikutnya yang kemudian ingin saya gali kisah dan pengalamannya. Sampai akhirnya Kang Didin bersedia bercerita untuk kemudian saya bagi di sini kisahnya.
Perjuangan Awal Didin Tulus Mendirikan Tulus Pustaka
Bandung, tahun 2013. Kota indah yang sering dijuluki Kota Kembang ini menjadi saksi lahirnya sebuah idealisme bernama Tulus Pustaka. Di kota inilah Tulus Pustaka memulai sejarah sebagai sebuah rumah kecil yang mampu melahirkan karya-karya besar. Bagi Didin, menjalani bisnis penerbitan bukanlah sekadar menjalankan bisnis, melainkan sebuah perjalanan spiritual, panggilan hati yang menantang akal sehat. Ia sadar, perjuangan itu penuh dengan suka dan duka yang saling berjalin erat.
Ada duka yang kadang menggoda, meminta berhenti dan mengurungkan langkah untuk tetap maju menjalankan usaha. Salah satu yang paling terasa adalah sebuah tantangan besar di medan pertempuran industri. Persaingan di Bandung begitu berat—kota yang kaya akan kreativitas ini sangat ketat. Mengingat, Bandung adalah pusat industri penerbitan di Jawa Barat dengan jumlah tertinggi ke-3 di Indonesia.
Modal Terbatas dan Risiko yang Harus Diambil
Kala itu, Didin mendirikan Tulus Pustaka dengan modal yang terbatas. Hal tersebut membuat Didin harus berpikir keras karena setiap keputusan mencetak buku adalah sebuah pertaruhan finansial yang besar. Tak bisa dipungkiri, Didin menjadi sering terlambat tidur. Begadang bersama tim hanya untuk menimbang angka, menghitung estimasi balik modal setelah buku naik cetak.
Satu cetakan saja yang gagal laku, bisa mengancam kelangsungan hidup Tulus Pustaka. Buku yang diimpikan bertengger manis di toko buku, bisa saja malah berakhir menjadi tumpukan benda di gudang, menjadi kertas rongsokan yang memilukan.
Bagi Didin, risiko ini adalah beban berat yang selalu harus dipikul.
Kebahagiaan yang Muncul di Antara Beratnya Beban
Namun nyatanya, beban itu menguap begitu saja ketika sebuah email mendarat berisi naskah yang menarik dari penulis. Naskah dengan ide segar yang brilian, unik, bahkan belum pernah terpikirkan oleh Didin yang juga seorang penulis.
“Tidak ada yang bisa menandingi kegembiraan ketika akhirnya naskah itu bisa terbit. Tulus Pustaka seolah berperan sebagai bidan kreatif, membantu penulis memoles intan mentah hingga berkilauan,” katanya.
Merayakan ide-ide baru yang bermunculan, menyaksikan karya yang bertransformasi menjadi buku fisik, mencium aroma kertas dan tinta yang khas, adalah kebanggaan yang tak ternilai bagi Didin. Rasa bahagianya menjadi-jadi, ketika melihat logo Tulus Pustaka terpajang di rak-rak toko buku, di antara nama-nama penerbit raksasa.
“Rasanya seperti memenangkan medali emas dalam sebuah pertandingan besar bergengsi,” ungkapnya lagi.
Tantangan Saat Melakukan Kurasi Naskah
Di antara puluhan naskah yang masuk, harus memilih mana yang layak terbit. Tidak jarang Tulus Pustaka terpaksa menolak naskah berkualitas hanya karena tahu kalau pasar tidak siap untuk ide dalam naskah tersebut. Atau, mengambil risiko dengan menerima naskah niche yang diyakini berharga, meskipun potensi penjualannya terbilang kecil.
Setelah naskah lolos, duka berlanjut ke tahap produksi: kejar-kejaran dengan deadline desain, layout, dan percetakan yang sering kali meleset. Lalu ada distribusi yang rumit, memastikan buku sampai ke pelosok, tidak hanya terpusat di Jawa.
Lagi-lagi, pengorbanan itu terbayar lunas ketika melihat wajah sumringah seorang penulis yang pertama kali memegang buku terbitannya. Bagi Didin, ini adalah momen paling mengharukan yang sukar terlupakan. Binar mata bahagia para penulis adalah energi yang besar yang mampu memompa semangat Didin untuk terus memperjuangkan Tulus Pustaka.
Kebahagiaan lain yang tak kalah berharganya adalah ketika buku yang diterbitkan Tulus Pustaka menjadi bahan diskusi di forum-forum literasi atau bahkan dikutip sebagai referensi akademis. Ada perasaan bangga sebab tugas mulia telah tunai dengan maksimal.
Tidak Hanya Menjual Produk
Tulus Pustaka tidak hanya menjual produk. Didin dan penerbitannya berkontribusi pada perkembangan budaya dan literasi. Inilah esensi yang membuat setiap tantangan menjadi sepadan.
Pada akhirnya, meskipun jalan yang ditempuh di Tulus Pustaka penuh liku, semangat untuk berbagi cerita dan ilmu pengetahuanlah yang mendorong Didin untuk terus berkarya dan meneruskan bisnisnya hingga sekarang. Menjadi penerbit adalah tentang mencintai literatur lebih dari mencintai keuntungan.
Refleksi
Mendirikan bisnis penerbitan percetakan yang dirancang dan dirintis sendiri tidaklah mudah. Banyak tantangan yang harus ditaklukan dengan kerja keras, keseriusan dan kehati-hatian. Namun ada yang jauh lebih penting dari itu, yaitu niat tulus untuk membantu penulis mewujudkan mimpi, melahirkan karya.
Dari Didin Tulus kita belajar, bahwa ide mendirikan bisnis bisa muncul bukan hanya dari keinginan untuk mendapatkan keuntungan dan tambahan penghasilan. Melainkan tumbuh dari idealisme bahkan kegilaan pada sesuatu yang kita cintai. Kecintaan itulah yang akan menjadi alasan mengapa sebuah bisnis harus tetap berjalan meskipun beragam tantangan menghadang dan mencoba meruntuhkan.
