“Ayo mulih! Wis wengi , mengko ana candhikala!“
Kalimat itu mungkin terdengar asing bagi anak-anak zaman sekarang. Namun bagi mereka yang tumbuh di kampung pada jaman dahulu , kalimat itu adalah tanda bahwa permainan harus segera diakhiri.
Matahari mulai mendekati ufuk barat. Langit berubah jingga keunguan. Burung-burung kembali ke sarangnya. Angin sore mulai berembus pelan. Dari kejauhan terdengar suara ibu memanggil anak-anaknya agar segera pulang.
“Jangan di luar rumah, nanti ada Candhikala.”
Sebagai anak kecil, kami tidak pernah bertanya siapa sebenarnya Candhikala itu. Yang kami tahu hanyalah satu: ketika Candhikala datang, kami harus segera pulang.
Aneh memang. Tidak ada yang pernah melihat wujudnya, tetapi hampir semua anak kampung mempercayainya. Dan yang lebih menarik, hampir semua anak patuh.
Kini, ketika usia telah dewasa, saya justru tersenyum mengenang pesan itu. Mungkin Candhikala bukanlah makhluk yang harus ditakuti. Barangkali ia hanyalah bahasa simbol yang dipakai orang tua Jawa untuk mendidik anak-anaknya.
Senja Adalah Tanda untuk Kembali
Orang-orang Jawa sejak dahulu sangat dekat dengan alam. Mereka membaca perubahan waktu melalui cahaya matahari, suara burung, dan arah angin. Ketika langit mulai berubah warna menjadi jingga keunguan, mereka tahu hari akan segera berganti malam.Itulah saatnya semua orang kembali ke rumah. Bukan hanya anak-anak.Orang dewasa pun mengakhiri pekerjaannya di sawah atau ladang. Hewan ternak mulai dimasukkan ke kandang. Pintu-pintu rumah ditutup. Dapur kembali mengepul.Rumah kembali hidup.
Seiring bertambahnya usia, saya mulai memahami bahwa larangan keluar rumah saat Candhikala bukan sekadar untuk menakut-nakuti anak. Ada pesan yang jauh lebih dalam. Senja adalah waktu berkumpulnya keluarga. Saat itulah ayah pulang dari bekerja. Ibu selesai menyiapkan makan malam. Anak-anak berhenti bermain. Semua kembali ke rumah yang sama. Mereka duduk bersama, makan bersama, salat berjamaah, saling bercerita tentang apa yang dialami sepanjang hari. Rumah kembali menjadi tempat paling hangat.
Mungkin inilah yang sebenarnya ingin dijaga oleh orang tua zaman dahulu. Bukan sekadar agar anak tidak bermain saat magrib, tetapi agar keluarga tidak kehilangan waktu untuk saling bertemu. Karena sesungguhnya rumah bukan hanya tempat tidur. Rumah adalah tempat pulang.
Menariknya, ajaran Islam juga memberikan tuntunan agar anak-anak berada di dalam rumah ketika malam mulai datang. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ – أَوْ أَمْسَيْتُمْ – فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ، فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ
“Apabila malam mulai datang atau kalian memasuki waktu petang, tahanlah anak-anak kalian (agar tidak keluar rumah), karena pada saat itu setan-setan sedang berkeliaran. Apabila telah berlalu sebagian waktu malam, barulah biarkan mereka keluar.” (HR. Al-Bukhari No. 3280 dan Muslim No. 2012)
Anjuran menjaga anak ketika waktu magrib bukan sekadar tradisi masyarakat Jawa, melainkan juga memiliki dasar dalam ajaran Islam. Tentu, yang dimaksud bukan agar kita hidup dalam ketakutan terhadap makhluk gaib. Hikmah yang dapat dipetik adalah pentingnya menjaga keselamatan anak-anak pada waktu pergantian siang menuju malam, sekaligus membiasakan mereka berada di rumah pada waktu yang penuh keberkahan.
Menunggu Kepulangan Orang-orang Tercinta
Ada satu hal yang sering terlupakan. Di dalam rumah, selalu ada seseorang yang menunggu. Ia adalah ibu. Atau seorang istri. Sejak sore ia menanak nasi, memasak lauk, menyapu rumah, lalu sesekali melongok ke luar pintu berharap seluruh anggota keluarganya segera pulang dengan selamat. Baginya, kebahagiaan bukanlah rumah yang besar. Melainkan melihat seluruh anggota keluarganya kembali berkumpul. Tidak ada yang masih bermain di luar. Tidak ada yang masih sibuk dengan urusannya sendiri.Semua hadir dalam satu meja, satu ruang, dan satu doa.
Namun hari ini, mungkin anak-anak sudah tidak lagi takut kepada Candhikala. Mereka lebih sibuk menatap layar telepon genggam daripada memandang langit senja. Ironisnya, meskipun tubuh mereka sudah berada di rumah, hati mereka justru masih berada di luar. Ayah sibuk dengan pekerjaannya. Ibu sibuk dengan telepon genggamnya. Anak-anak sibuk dengan permainan digital. Semua tinggal serumah, tetapi jarang benar-benar berkumpul.
Mungkin inilah Candhikala yang sesungguhnya.Bukan sosok yang datang saat matahari tenggelam. Melainkan hilangnya kebersamaan di dalam keluarga.
Menjaga Senja Tetap Bermakna
Barangkali kita tidak perlu lagi menakut-nakuti anak dengan cerita tentang Candhikala. Namun akan sangat indah jika kita menghidupkan kembali makna yang diwariskan orang tua dahulu. Biarkan senja menjadi waktu untuk pulang. Pulang dari pekerjaan. Pulang dari permainan. Pulang dari kesibukan. Pulang kepada keluarga.Lalu bersama-sama menunaikan salat Magrib, menikmati makan malam, saling mendengarkan cerita, dan mengakhiri hari dengan rasa syukur.
Sebab di balik kalimat sederhana, “Jangan keluar rumah, nanti ada Candhikala,” ternyata tersimpan sebuah pesan yang tak lekang oleh zaman.
Sesungguhnya yang ingin dijaga oleh orang tua kita bukanlah rasa takut kepada Candhikala, melainkan agar rumah tidak pernah kehilangan kehangatan, dan agar keluarga tidak pernah kehilangan kebersamaan.
