Tulisan ini hanya sebagai upaya untuk terus mengingatkan diri sendiri. Peran kita untuk Indonesia sebenarnya bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana, namun dampaknya luar biasa: menjaga bahasa Indonesia dengan sebaik-baiknya.
Terlebih bagi mereka yang mengaku—atau merasa—dekat dengan dunia tulis-menulis. Ah, tapi tunggu dulu, bukankah sebenarnya hampir semua orang menulis? Kita menulis pesan, surat, laporan, caption, hingga sekadar catatan kecil untuk mengingat sesuatu. Artinya, tanggung jawab menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar tidak hanya melekat pada mereka yang menyebut dirinya penulis, tetapi pada siapa pun yang menggunakan bahasa sebagai alat menyampaikan maksud.
Seorang informan menuliskan informasi agar dapat dipahami dengan jelas. Seorang akuntan, meski sehari-hari bergelut dengan angka, tetap memerlukan tulisan sebagai pengantar, penjelasan, dan laporan hasil pekerjaannya. Tanpa bahasa yang tertata, angka-angka itu pun bisa kehilangan makna.
Begitu pula dengan fotografer, content creator, pembuat video, hingga pelaku periklanan. Semua karya visual pada akhirnya membutuhkan teks: judul, deskripsi, naskah, atau keterangan singkat yang mengantarkan pesan kepada audiens. Bahkan mereka yang sekadar “bucin”—yang katanya hanya sibuk dengan perasaan—tetap membutuhkan tulisan untuk menumpahkan rindu, kegalauan, dan emosi yang sulit diucapkan secara lisan.
Karena itu, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar bukan soal gaya, apalagi sok pintar. Ini tentang tanggung jawab kecil yang kita ambil hari ini agar generasi setelah kita ikut teredukasi. Ilmu bahasa dan penulisan memang luas, bahkan bisa terasa rumit. Namun, bukankah tak ada salahnya jika kita memulai dari hal-hal paling mendasar? Dari ejaan, tanda baca, hingga struktur kalimat yang lebih rapi dan mudah dipahami.
Jangan sampai, tanpa sadar, kita justru menjadi bagian dari perusak bahasa sendiri karena terlalu menyepelekannya. Bahasa adalah identitas. Ketika bahasa diperlakukan asal-asalan, di situlah perlahan karakter bangsa ikut tergerus.
Tulisan ini pun bukan datang dari orang yang merasa paling bisa. Justru sebaliknya, ini adalah pengingat untuk diri sendiri agar tidak sekadar pandai merangkai kata, tetapi juga terus belajar memperbaiki cara menuliskannya. Teknik penulisan, kaidah bahasa, dan kebiasaan menyunting adalah bagian dari proses yang tidak boleh berhenti.
Karena apa gunanya tulisan yang sudah terlanjur dipublikasikan, tetapi masih dipenuhi kekeliruan? Selain mengganggu pembaca, rasa malu itu pun akhirnya kembali kepada kita sendiri.
Maka, selain mengingatkan diri sendiri, saya sengajak mari terus belajar bersama. Sebelum publikasi, editlah sekali. Lalu baca ulang, edit lagi, dan periksa kembali. Tidak harus sempurna, tetapi setidaknya kita sudah berusaha menghargai bahasa Indonesia sebaik mungkin—sebagai bentuk cinta kecil kita kepada negeri ini.
