Sebagian besar orang tua yang belum sepenuhnya memahami konsep pendidikan kerap tanpa sadar menerapkan pola asuh yang sama dari generasi ke generasi. Cara mendidik, mengajari, bahkan ngemong anak sering kali tidak jauh berbeda dengan cara mereka dulu dibesarkan. Prestasi anak perempuan maupun prestasi anak laki-laki mendapat perlakuan yang hampir seragam, terutama dalam hal tuntutan akademik.
Anak-anak dituntut belajar keras, mengerjakan PR dengan sempurna, dan menjaga nilai agar tetap tinggi. Turun peringkat dimarahi, nilai buruk dimaki. Tanpa disadari, anak pun tumbuh sebagai pusat ekspektasi orang tua. “Pokoknya anak mama harus lebih unggul dari anak tetangga, lebih hebat dari anaknya teman mama, lebih segalanya dari teman-temannya di sekolah.” Perbedaannya sering kali hanya satu: anak laki-laki tidak boleh cengeng, sementara anak perempuan masih diberi ruang untuk menangis dan mengadu.
Tak berhenti di situ, banyak orang tua kemudian mengikutsertakan anak-anaknya dalam berbagai kegiatan tambahan demi menambah prestasi. Les bahasa, bimbingan belajar matematika, kursus ini dan itu—pokoknya anak tidak boleh kalah. Terutama anak laki-laki, yang diharapkan jago matematika, IPA, atau biologi, agar terlihat pintar dan bisa dibanggakan. Tak jarang terdengar kalimat penuh kebanggaan di sela obrolan arisan, “Anak saya calon mahasiswa kedokteran.”
Saat libur pun, anak-anak diarahkan untuk “tetap produktif.” Agar tidak keluyuran, mereka diajak ke toko buku dan diborongkan banyak bacaan. Tujuannya mulia: supaya pengetahuan bertambah, supaya di kelas anak mama sudah bisa menjawab pertanyaan bahkan sebelum gurunya selesai bertanya. Lho, kok? He-he.
Hari libur seolah tak boleh diisi dengan terlalu banyak bermain. Lebih baik di rumah saja. Orang tua khawatir salah pergaulan. Di luar sana, kata mereka, terlalu banyak pengaruh buruk: anak-anak jadi badung, merokok, mabuk, dan berbagai kekhawatiran lain yang terasa menakutkan. Maka semua diatur sedemikian rupa, dibingkai dengan satu kalimat sakti, “Mama sayang sekali sama kamu, Nak.”
Namun, Bunda… apakah semua itu sudah benar-benar tepat?
Anak-anak kita tumbuh di zaman yang jauh berbeda. Penyimpangan akhlak memang ada di mana-mana. Kekerasan dan kejahatan yang melibatkan remaja pun semakin sering kita dengar. Tetapi, apakah memproteksi anak secara berlebihan benar-benar membuat mereka aman? Atau justru menjauhkan mereka dari kemampuan menghadapi realitas hidup?
Membekali anak dengan seabrek ilmu pengetahuan tanpa diiringi keterampilan sosial yang memadai patut kita renungkan bersama. Apakah anak-anak kita akan cukup kuat secara mental saat tiba waktunya mereka harus berbaur dengan masyarakat yang sesungguhnya—yang tidak selalu ramah, tidak selalu sesuai harapan?
Kita sering menjumpai anak usia sekolah dasar yang cerdas, hafalannya luar biasa, dan nilainya mengagumkan. Namun di sisi lain, mereka belum mampu mengikat tali sepatu sendiri, belum terbiasa makan sendiri, belum bisa membereskan barang-barangnya ke dalam tas. Hari-harinya dipenuhi buku pelajaran, sementara keterampilan hidup dasar luput dari perhatian. Tanpa sadar, kita terlalu menekankan kemampuan kognitif, padahal kemampuan lain tak kalah penting untuk bekal hidup.
Bahkan tidak sedikit anak yang tumbuh menjadi remaja dan dewasa dengan kecerdasan luar biasa. Mereka piawai menyelesaikan soal-soal sulit, tetapi gagap saat harus bersosialisasi. Mereka belum terbiasa mengucapkan kata “tolong”, “maaf”, “permisi”, atau “terima kasih”. Tata krama sederhana yang membuat hidup bermasyarakat terasa hangat justru tertinggal jauh di belakang prestasi akademik.
Tulisan ini bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk mengajak kita—para orang tua—merenung sejenak. Bahwa mendidik anak bukan hanya tentang nilai, peringkat, dan prestasi, tetapi juga tentang membentuk manusia seutuhnya. Anak-anak tidak hanya perlu menjadi pintar, tetapi juga tangguh, mandiri, dan berakhlak. Karena pada akhirnya, hidup bukan sekadar soal siapa yang paling unggul di kelas, melainkan siapa yang paling siap menjalani kehidupan.
