Makan ramen? Hm, sebenarnya saya bukan penyuka makanan Jepang. Lidah saya benar-benar tidak terbiasa dengan cita rasa khas negeri sakura yang kadang terasa asing. Bisa dibilang, lidah saya ini lidah asli orang Sunda.
Namun, ada satu hal yang selalu menggugah selera: makanan berkuah, gurih, dan pedas. Jenis makanan seperti itu hampir selalu membuat saya bersemangat menghabiskannya. Kecuali—tentu saja—jika rasanya tidak cocok dengan lidah saya yang sederhana ini.
Suatu malam, suami mengajak saya dan anak-anak makan di luar. “Sudah lama gak makan bareng,” katanya. Saya pun setuju, dengan syarat anak-anak yang memilih tempatnya. Kebetulan mereka memang bukan tipe pencari nasi setiap kali makan, berbeda dengan orang tuanya. Mereka lebih suka mencoba makanan baru sesuai selera mereka.
Pilihan mereka jatuh pada ramen.
Saya agak ragu. Sudah lama sekali saya tidak makan ramen, dan terus terang saya punya pengalaman kurang menyenangkan. Dulu, ketika diajak makan ramen yang benar-benar otentik Jepang, saya hampir tidak bisa menikmatinya. Rasanya asing, terlalu jauh dari lidah saya. Akibatnya, saya pulang dengan perut keroncongan meski sudah duduk lama di meja makan.

Namun, demi anak-anak yang begitu bersemangat, saya mengangguk setuju. “Tidak apa-apa, asal mereka senang,” jawab saya pada suami. Dalam hati saya berharap ada menu yang lebih bersahabat dengan lidah orang Sunda.
Ketika sampai di kedai pilihan mereka, hati saya sedikit lega. Tempatnya ramai oleh pengunjung lokal. Wajah-wajahnya terlihat akrab, suasananya hangat. Saya langsung berpikir, “Kalau ramai orang sini, berarti rasa makanannya pasti sudah menyesuaikan.”
Benar saja, menunya ternyata sangat ramah di lidah. Rasa kuahnya gurih, pedasnya bisa dipilih, dan topping-nya bervariasi. Saya menemukan satu menu yang pas, anak-anak menikmati pesanan mereka dengan lahap, dan suami asyik mencoba varian baru.

Malam itu, saya bukan hanya berhasil menikmati ramen—saya juga belajar sesuatu. Bahwa makanan khas dari negeri lain bisa diadaptasi agar lebih dekat dengan lidah kita. Bahwa keraguan bisa berubah menjadi pengalaman menyenangkan jika kita memberi kesempatan.
Dan yang terpenting, saya menyadari bahwa kebahagiaan bukan semata-mata soal rasa makanan. Kebahagiaan hadir ketika duduk bersama keluarga, berbagi tawa, melihat anak-anak lahap menyantap makanan mereka, dan merasakan hangatnya kebersamaan di atas meja.
Semangkuk ramen, ternyata bisa menyajikan lebih dari sekadar rasa. Ia membawa cerita baru, kenangan sederhana, dan rasa syukur yang mendalam.
