Ilustrasi: Berke Citak/Unsplash
Sebentar lagi bulan Ramadan datang. Rasanya pasti sudah tidak sabar ya menantikan bulan penuh berkah ini. Ibadah menjelang bulan Ramadan pun menjadi salah satu fokus utama. Banyak hal dilakukan demi mempersiapakan kedatangan bulan mulia yang satu ini. Pahala ibadah di bulan Ramadan akan berlipat ganda jika dilakukan dengan sepenuh hati dan niat yang tulus karena Allah.
Namun, di tengah semangat menyambut Ramadan, kita juga perlu bijak menyikapi berbagai tradisi yang berkembang di masyarakat. Ada banyak kebiasaan yang dilakukan menjelang Ramadan. Sebagian memang bernilai positif sebagai bentuk kebersamaan dan rasa syukur, tetapi ada juga yang tanpa sadar dianggap sebagai bagian dari ajaran agama, padahal sebenarnya tidak dicontohkan secara khusus dalam Islam.
Sebagian dari kita mungkin pernah mengalami, waktu kecil, diminta mandi besar sehari sebelum Ramadan. Seolah-olah jika tidak melakukannya, puasa menjadi tidak sah. Padahal, mandi sebelum Ramadan bukanlah syarat sah puasa. Jika mandi hanya untuk membersihkan diri, tentu itu baik. Tetapi jika diyakini sebagai kewajiban agama yang menentukan sah atau tidaknya puasa, di situlah kita perlu meluruskannya.
Ada juga tradisi munggahan, yaitu makan bersama keluarga atau tetangga satu atau dua hari sebelum Ramadan. Biasanya dilakukan dengan hidangan yang istimewa, bahkan kadang berlebihan, dengan anggapan “sekarang makan enak, besok sudah tidak bisa.” Padahal, Ramadan bukan berarti kita tidak bisa menikmati makanan enak, hanya saja waktunya yang diatur.
Di berbagai daerah pun ada tradisi seperti padusan di Jawa, balimau di Sumatera Barat, nadran, nyorong, malamang, dan ziarah kubur menjelang Ramadan. Semua itu adalah bagian dari budaya yang sudah turun-temurun. Selama tidak diyakini sebagai kewajiban agama atau sesuatu yang menentukan kesempurnaan ibadah puasa, maka itu kembali pada ranah budaya.
Melakukan hal-hal positif sebelum Ramadan tentu sah-sah saja. Membersihkan diri, berkumpul dengan keluarga, atau berziarah kubur untuk mengingat kematian dan mendoakan orang tua adalah hal yang baik. Namun, yang perlu diperhatikan adalah niat dan keyakinannya. Jangan sampai tradisi dianggap sebagai bagian dari syariat yang jika ditinggalkan dianggap berdosa.
Contohnya, ziarah kubur. Dalam Islam, ziarah kubur memang dianjurkan untuk mengingat kematian dan mendoakan yang telah wafat. Tetapi tidak harus dilakukan khusus menjelang Ramadan. Kita bisa melakukannya kapan saja. Dan yang perlu diingat, kita datang untuk mendoakan, bukan meminta doa atau pertolongan kepada yang telah meninggal.
Di sinilah pentingnya membedakan antara tradisi dan ibadah. Tradisi adalah budaya, sedangkan ibadah harus memiliki dasar yang jelas dalam ajaran Islam. Agama ini sudah sempurna dan tidak perlu ditambah-tambahi dengan keyakinan-keyakinan yang memberatkan. Islam adalah agama yang mudah dan tidak mempersulit.
Menyambut Ramadan sebenarnya cukup dengan menyiapkan diri: memperbaiki niat, memperbanyak taubat, dan meningkatkan ketaatan. Fokus pada hal-hal yang jelas dianjurkan dalam agama, agar ibadah kita lebih tenang dan penuh keberkahan.
Berikut adalah ibadah menjelang bulan Ramdan sesuai tuntunan yang bisa dilakukan sebelum memasuki bulan Ramadan antara lain:
- Membayar utang puasa bagi yang masih memiliki
- Memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban.
- Lebih sering membaca Al-Qur’an.
- Memperbanyak doa agar dipertemukan dengan Ramadan.
- Menambah ilmu tentang fiqih dan keutamaan Ramadan
- Menata dan meluruskan niat.
- Mengikuti rukyatul hilal bagi yang memiliki ilmunya.
- Membiasakan diri bersedekah agar semakin ringan melakukannya saat Ramadan.
Semoga Ramadan kali ini benar-benar menjadi momen untuk memperbaiki diri, bukan sekadar meramaikan tradisi. Semoga kita dipertemukan dengan Ramadan dalam keadaan sehat dan bisa menjalankannya dengan penuh keikhlasan. 🌙
