Lebaran kali ini adalah lebaran ke sekian yang dilalui sendirian. Air mata Fitri tidak berhenti mengalir deras. Ada sensasi sesak di dada membuat napasnya terasa begitu berat.
Bagaimana pandangan orang-orang di kampung nanti kalau ternyata ia masih pulang sendiri?
Kadang ingin berteriak, memberikan pengumuman kepada semua orang, bahwa ia pun memiliki kehidupan seperti halnya semua orang.
Hidup layak, menjalani hari-hari yang menyenangkan, dicintai, dikasihi, dengan sepenuh hati oleh suami.
Namun ketika pulang ke kampung, Arya tidak pernah tinggal lama. Datang, makan, istirahat sejenak lalu pergi pulang lagi.
Alasan sibuk, nampaknya sudah tidak bisa digunakan lagi kali ini. Fitri hanya ingin suaminya bisa duduk barang sejenak. Menginap, jalan-jalan, menemui sanak saudara di desa. Menyapa orang-orang yang selama ini baik padanya; mengasuh Fitri sepeninggalan ibu bapaknya.
Ya, Fitri adalah perempuan sebatang kara. Pulang ke desa hanya untuk mengunjungi pusara ibu dan bapak yang tidak jauh dari rumah mereka.
Rumah kosong yang hanya dikunjungi sesekali oleh sanak saudara, disapu, dibersihkan sekadar agar tidak terlalu kotor dan dijadikan sarang laba-laba.
“Padahal pada pindah saja ke sini, sayang rumahnya kosong,” ujar salah satu tetangga.
Fitri hanya bisa tersenyum miris. Jangankan bisa tinggal di sana, sekadar menginap satu malam saja Arya enggan.
“Aku harus buru-buru ke Jakarta lagi. Kerjaan nungguin!” Kalimat itu yang selalu terlontar dari mulut Arya.
Fitri tidak habis pikir, apa yang sebenarnya ada di benak suaminya itu. Kenapa begitu susah untuk tinggal? Apakah urusan pekerjaan begitu menyita perhatian. Tidak kah seharusnya dirinya sebagai istri juga diprioritaskan?
Ada perasaan yang terlalu sakit, saat harus melepaskan kepergian suami saat hari raya tiba. Hari-hari biasa memang bisa bersama walau hanya beberapa jam saja sepulang kerja. Akan tetapi, tidak kah Arya ingin mencoba merayakan hari raya di rumah masa kecil istrinya? Bersama saudara yang selama ini telah merawat sang istri hingga akhirnya bertemu dan dinikahi Arya?
“Mas, apa sih yang membuat kamu begitu enggan?” tanya Fitri suatu hari.
Arya bergeming. Lalu mencoba mengukir seulas senyum yang Fitri tahu itu hanya cara suaminya agar ia bisa memaklumi alasan ketidaksiapan untuk yang kesekian puluh kali.
“Lain kali, kalau situasi memungkinkan ya!” jawab Arya seraya mengelus pipi halus istrinya itu.
Fitri menghela napas panjang. Kehangatan akal. Meminta, membujuk, merajuk sudah dilakukan setiap tahunnya tanpa mendapatkan alasan jelas, mengapa begitu kerasnya hati sang suami.
“Aku tidak minta lama. Hanya ketika hari raya. Setelah itu, terserah kamu mau kemana, Mas. Kalaupun aku harus ikut langsung ke Jakarta lagi, aku ikuti! Tapi tolong, Mas. Sempatkan untuk sekadar berkumpul dengan keluargaku. Apakah terlalu hina keluargaku di sini sampai kamu tidak ingin membuat mereka merasa menjadi bagian dari hatimu?” Fitri mencoba bernegosiasi.
Arya kembali bergeming. Diam, dan seperti biasanya meminta Fitri bersabar.
“Aku tidak keberatan jika kamu dan Anya berlibur beberapa hari di sini. Aku akan jemput kalau kamu dan Anya sudah merasa ingin pulang ke Jakarta,” ucap lelaki itu seraya memeluk tubuh Fitri yang membeku.
“Sampai kapanpun sepertinya kamu tidak akan pernah mau berada di sini, Mas. Apa yang harus aku ubah? Apakah rumah ini terlalu kotor dan menjijikkan hingga kamu tidak pernah merasa betah? Jika iya, renovasi seperti apa yang kamu inginkan agar aku bisa menahanmu dan kau merasa nyaman untuk tinggal barang semalam saja?”
Arya tertegun lalu memeluk Fitri lebih erat lagi. Lelaki itu tidak pernah bisa mengungkapkannya.
