Hai! Aku Alya, baru saja diterima di kampus impianku. Rasanya sangat senang bisa kuliah di sini. Awal semester, kelas-kelas baru dimulai. Aku duduk di bangku paling belakang, mencari-cari teman yang bisa diajak ngobrol.
Seorang cowok yang duduk di sebelahku, mengulurkan tangannya. “Hai, namaku Rizky.” Aku pun menyambut jabat tangannya itu. Selanjutnya obrolan kami berlanjut kepada pembicaraan soal kehidupan kampus mulai dari perkuliahan dan hari-hari kami yang disibukan dengan pengerjaan tugas.
Rizky yang sejak awal terlihat pintar dan berwawasan luas memang tidak pernah berubah. Sering dengan berjalannya waktu, ia selalu membuktikan bahwa ia memang bunkan hanya terlihat ointar. Namun dia memang benar-benar pintar.
Waktu berlalu, tanpa disadari kami semakin dekat. Rizky selalu membantuku ketika aku kesulitan dengan tugas-tugas kuliah. Dia juga selalu mengajakku jalan-jalan ke tempat-tempat yang menyenangkan. Aku merasa sangat nyaman dan senang bersama Rizky. Perhatian yang diberikannya membuatku merasa bahwa aku berhak berharap besar kepadanya.
“Ya, walaupun dia belum nembak, pastinya dia suka lah sama aku!” gumamku.
Namun, kemudian semuanya berubah. Aku mengetahui bahwa Rizky mempunyai pacar. Hati yang semula berbunga-bunga mendadak penuh hujan badaoi. Selama ini, aku berpikir bahwa Rizky mau berada di dekatku karena dia menginginkan lebih dari sekadar pertemanan.
Salahku sendiri terlalu banyak berharap. Rasanya kini aku sangat kesepian dan terluka. Rizky yang selama ini baik, perhataian, perlahan abai bahkan sering menghindar.
Aku merasa seperti tidak ada yang peduli dengan perasaanku. Aku merasa seperti tidak ada yang mau menjadi temanku lagi.
Waktu terus berlalu, aku mulai merasa semakin kesepian. Aku merasa seperti tidak ada satu pun teman yang benar-benar peduli dengan perasaanku. Aku mulai merasa putus asa sampai suatu hari, aku bertemu dengan seseorang yang bernama Dika.
Dika datang ke kelasku dan duduk di sebelahku, sambil tersenyum ramah. Dia mengatakan namanya, dan aku membalasnya dengan senyuman. Kami mulai berbicara, dan aku merasa sangat nyaman dengan kehadirannya. Dika adalah orang yang sangat ramah dan murah senyum.
Kami berbicara tentang hobi, kuliah, dan keluarga. Aku merasa seperti kami memiliki banyak kesamaan. Kami berdua juga merasa kesepian setelah kecewa dengan seseorang yang pernah dekat dengan kami. Kami mulai membangun hubungan yang kuat dan saling mendukung satu sama lain.
Dika selalu menghiburku ketika aku sedih, dan aku melakukan hal yang sama padanya. Kami mulai berbagi cerita dan pengalaman hidup kami. Kami berdua merasa seperti kami menemukan teman yang kami cari selama ini.
Aku merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan Dika. Dia adalah teman sejati yang benar-benar peduli dengan perasaanku. Dia selalu ada untukku ketika aku butuh seseorang untuk berbicara. Aku merasa seperti aku tidak lagi kesepian dan terluka.
Aku mulai belajar bahwa kekecewaan yang aku rasakan sebelumnya hanya membuatku lebih kuat dan berani. Aku mulai membangun hubungan baru yang lebih sehat dan berarti. Aku belajar bahwa kebahagiaanku tidak tergantung pada orang lain, tetapi tergantung pada diriku sendiri.
Waktu terus berlalu, dan hubungan antara Dika dan”Pertemuan Terakhir” aku semakin kuat. Kami mulai merencanakan masa depan kami bersama dan saling mendukung dalam pencapaian tujuan kami. Aku merasa seperti menemukan teman sejati yang akan selalu ada untukku.
Namun, suatu hari, semuanya berubah. Aku mengetahui bahwa Dika akan pindah ke luar negeri untuk melanjutkan studinya. Aku merasa seperti kehilangan teman sejatiku, dan sedih karena kami harus berpisah.
Aku merasa kesepian kembali, dan seolah-olah kehidupanku kembali seperti sebelumnya. Aku merasa seperti tidak ada yang peduli dengan perasaanku, dan aku mulai merasa kecewa dengan hidupku sendiri.
Namun, Dika memberikan kejutan yang tak terduga. Dia mengatakan bahwa dia akan kembali ke Indonesia setelah selesai melanjutkan studinya. Dia juga menjanjikan bahwa kita akan tetap berteman dan saling mendukung satu sama lain dalam mencapai tujuan kita.
Aku merasa sangat senang mendengar kabar itu. Aku merasa seperti menemukan harapan baru dan semangat untuk menjalani hidupku. Aku mulai membangun hubungan baru yang lebih kuat dan berarti dengan Dika, meskipun kami berada di tempat yang berbeda.
Aku belajar bahwa kecewa dan kesepian adalah bagian dari hidup, tetapi aku juga belajar bahwa hubungan yang kuat dan sehat bisa membuatku menjadi lebih kuat dan berani. Aku belajar bahwa teman sejati akan selalu ada untukku, bahkan ketika kami berada di tempat yang berbeda.
