Seperti biasanya, gosip tentang kasus selebritas selalu berhasil menyita perhatian netizen Indonesia. Banyak yang tanpa sadar ikut mengurusi masalah hidup orang lain, menghujat, menghakimi, bahkan merasa memiliki hidup yang lebih sempurna dibandingkan mereka yang sedang tersandung masalah. Mirisnya, semua itu sering kali dilakukan tanpa mengetahui fakta sebenarnya. Akibatnya, bukan hanya sang publik figur yang terganggu kesehatan mentalnya, tetapi netizennya pun ikut “sakit”—kehilangan akal sehat untuk melihat persoalan secara jernih, membandingkan hidup orang lain yang bahkan tidak pernah ditemui, dan hanya mengambil kesimpulan dari potongan-potongan cerita di media.
Saya tidak sedang memihak siapa pun. Namun, menurut saya kasus seorang publik figur yang namanya tercoreng seharusnya menjadi bahan renungan untuk hidup kita sendiri—bukan malah menjadi alasan untuk sibuk menghujat dan membuang energi.
Bukankah mengumbar aib orang lain sangat dilarang dalam agama? Bukankah menggunjing dan menggibah sama saja seperti “memakan daging saudara sendiri”?
Bukankah ketika kita menggunjing, kita justru sedang memindahkan pahala kepada orang yang kita omongkan? Semakin banyak kita membicarakan keburukannya, semakin banyak pula pahala yang beralih padanya, sementara dosa kita sendiri semakin bertambah banyak.
Lagipula, menggosip tidak pernah memberi manfaat. Yang tumbuh justru rasa kedengkian dan hati yang semakin gelap. Semakin sibuk mengurusi kehidupan orang lain, sedikit banyak akan berdampak pada kehidupan sehari-hari. Ada baiknya perhatian kita diarahkan pada hal-hal yang lebih bermanfaat. Fokus pada hal positif yang menumbuhkan empati dan kesadaran sosial.
Dibandingkan memperhatikan gosip perselingkuhan, bukankah lebih baik kita peka terhadap isu kemanusiaan? Bencana alam di Sumatera, kebijakan pemerintah yang belum sepenuhnya berpihak kepada rakyat—bukankah hal-hal seperti itu lebih layak diperhatikan?
Ada pula pilihan lainnya yang tak kalah lebih selamat. Bagaimana kalau kita memilih diam? Mengambil waktu untuk memperbaiki diri. Menjadikan setiap kasus yang terjadi sebagai cermin agar kita bisa menjaga sikap dan perilaku, supaya tidak mengalami atau melakukan kesalahan yang sama.
Nyatanya, masih banyak sekali hal positif yang bisa kita lakukan. Kita bisa terus fokus untuk meningkatkan kualitas diri dan mengganti kebiasaan buruk dengan hal yang jauh lebih bermanfaat.
Agar energi kita tidak habis untuk mengurusi hidup orang lain, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk memperkaya diri, memperbaiki kebiasaan, dan mengisi hari dengan aktivitas yang lebih bermakna:
1. Batasi konsumsi gosip dan media yang tidak sehat
Buat aturan untuk diri sendiri: misal, maksimal 10 menit sehari melihat media sosial. Sisanya silakan gunakan untuk membaca informasi yang lebih bermanfaat bagi kehidupan. Baca artikel-artikel yang membuat wawasan kita bertambah.
2. Unfollow akun gosip atau konten negatif.
Algoritma media sosial bekerja dengan sangat cerdas. Ketika kita pernah membaca, mencari tahu, bahkan memfollow akun-akun yang berisi gosip, maka gosip-gosip itu semakin berdatangan. Semakin masif juga kita disuguhi berita-berita yang berisi komentar hujatan.
Mengunfollow akun gosip yang selalu menyajikan berita gosip terkini adalah salah satu cara untuk meminimalisir penemuan gosip miring para artis. Ganti dengan mengikuti akun edukatif, literasi keuangan, kesehatan mental, inspirasi bisnis, atau motivasi harian.
3. Isi waktu dengan kegiatan yang mengembangkan diri
Membaca 10–20 halaman buku setiap hari, mengikuti kelas daring singkat (public speaking, desain, fotografi, memasak, dll), belajar skill baru minimal 10 menit sehari (bahasa asing, editing video, menulis) akan jauh lebih bermanfaat dibandingkan dengan hanya menyimak gosip seharian. Kegiatan seperti ini membuat pikiran lebih sibuk pada hal produktif sehingga tidak mudah tergoda mengikuti drama orang lain.
4. Mulai journaling untuk mengelola emosi
Menulis hal-hal yang dirasakan setiap hari dapat membantu meredakan emosi negatif dan menghindari dorongan untuk bergosip.
Contoh isi jurnal:
- Apa hal baik yang terjadi hari ini?
- Apa pelajaran yang saya dapat dari sebuah masalah?
- Kebiasaan buruk apa yang ingin saya kurangi?
5. Melatih empati dan kesadaran sosial
Alihkan perhatian pada hal-hal yang lebih layak diperjuangkan seperti, mengikuti kegiatan sosial di lingkungan sekitar, mengumpulkan donasi untuk bencana alam, menyebarkan informasi positif dan bermanfaat. Semakin fokus pada kebaikan, akan semakin kecil ruang dalam hati untuk menghujat atau menghakimi.
6. Rawat kesehatan fisik dan mental
Daripada sibuk mengurusi perihal hidup orang lain, ada baiknya kita menyibukan diri untuk merawat kesehatan diri. Kegiatan ini bisa dimulai dengan aktivitas sederhana seperti jalan kaki 15 menit setiap pagi, meditasi atau pernapasan 3–5 menit, merawat rumah agar lebih rapi dan nyaman, bercocok tanam dan berkebun, atau sekadar menghabiskan waktu tanpa gawai selama 1 jam sehari akan sangat membantu menjaga dan mengembalikan kesehatan mental kita setiap harinya.
7. Bangun lingkungan yang positif
Kita bisa mulai memilih sirkel pertemanan atau bahkan memperbaiki lingkaran pertemanan yang sudah terjalin sebelumnya. Jika mereka adalah penggosip, maka arahkan obrolan bersama teman pada hal-hal yang lebih berisi.
Jika lingkungan kita sukar diperbaiki, maka jangan ragu untuk memilih lingkaran pertemanan yang lebih sehat. Misalkan dengan bergabung ke komunitas membaca, olahraga, kewirausahaan, atau kelompok kajian.
Ini mungkin terdengar terlalu ideal. Akan tetapi bagi yang ingin hidup dan isi kepalanya lebih positif, maka tips yang sudah disampaikan di atas patut dicoba. Selain akan memperkuat identitas diri, kita pun akan terhindar dari dosa iri dengki yang hanya akan membebani hati.
Semakin kuat identitas diri, semakin kecil kebutuhan untuk ikut campur urusan orang lain. Mari hidup berdampingan tanpa kepo berlebihan.
Semoga bermanfaat.
*Artikel serupa sudah tayang di Berita Jabar News
