Ada buku yang kita baca, lalu kita tutup dan lupakan. Namun, ada pula buku yang membacanya ulang kehidupan kita, menyelipkan halaman-halamannya di antara lembaran kenangan kita sendiri. “Bukan Pasar Malam” karya Pramoedya Ananta Toer adalah yang kedua bagiku.
Pram, sastrawan yang teguh berdiri dari Angkatan 45 hingga melintas ke Generasi Horison, telah menulis banyak mahakarya yang abadi, seringkali lahir dari kesunyian sel penjara. Karyanya bukan sekadar cerita, melainkan potret jiwa zamannya. Dan di suatu senja yang kelam, novel itulah yang menjadi cermin bagi getirnya hidupku sendiri.
Cerita dalam “Bukan Pasar Malam” terasa begitu dekat, bagai kabar dari tetangga sebelah. Ia berkisah tentang tokoh “aku” yang dipanggil pulang ke Blora untuk menjenguk ayahnya, seorang mantan pejuang gerilya yang kini terbaring tak berdaya diterkam TBC. Sang ayah, pilar perjuangan republik, akhirnya harus berjuang melawan musuh yang jauh lebih personal: ajal. Perjalanan pulang yang penuh harap itu berujung pada pertemuan sekaligus perpisahan. Sang ayah pergi untuk selamanya, meninggalkan segunung pertanyaan yang menggelisahkan.
Dan di titik itulah, dunia sastra Pramoedya bersinggungan langsung dengan realitasku. Ketika kabar tentang sakitnya kakak laki-lakiku sampai ke telinga, aku menyaksikan sendiri sebuah kehidupan yang memprihatinkan. Aku melihat perjuangannya, ketakutan yang tersembunyi di balik senyumnya, dan sebuah kesendirian yang mulai menggerogoti. Lalu, kutemukan lagi kalimat-kalimat Pram yang seperti palu, menghantam relung hatiku yang paling dalam:
> “mengapa kita harus mati seorang diri? Lahir seorang diri pula? Dan mengapa kita ini harus hidup di dunia yang banyak manusianya? Dan kalau kita sudah mencintai seorang manusia, mengapa kemudian kita harus bercerai-berai dalam maut? Mengapa kita tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti pasar malam.” (Halaman 97)
Kalimat itu bergema dalam kepalaku setiap kali aku menatap kakaku. Pram, dengan geniusnya, tidak hanya melukiskan latar zaman Belanda atau Jepang melalui bayang-bayang pikiran tokohnya. Ia menyentuh sebuah kebenaran universal yang pahit: kesendirian eksistensial manusia. Kita lahir sendiri, dan pada akhirnya, kita akan menghadapi maut sendiri. Pelukisan Pram tentang keindahan desa, kesusahan zaman, dan nestapa perang, ternyata hanya latar belakang dari drama kesendirian yang abadi ini.
Kini, aku memahami kesimpulan itu dengan seluruh keberadaanku. Pesan “Bukan Pasar Malam” bukan lagi tulisan di atas kertas, melainkan ukiran di nisan kehidupan. Hidup memang bukan pasar malam. Ia bukan pesta yang ramai, di mana kita bisa datang dan pergi bersama-sama dalam tawa. Kita tidak selamanya bebas menggunakan tubuh dan hidup ini. Akan tiba masanya, seperti ayah dalam novel Pram dan seperti kakaku, kita terbaring tak berdaya, mempersiapkan perjalanan terakhir yang harus ditempuh seorang diri, sebagaimana kita pertama kali dilahirkan ke dunia.
Melalui “Bukan Pasar Malam”, Pramoedya Ananta Toer tidak hanya memberitahuku tentang kematian, tetapi juga mengajariku tentang kehidupannya yang fana ini. Bahwa di balik keramaian dan cinta, ada sebuah kesunyian final yang harus kita jalani dengan ikhlas.
