Burung Pipit yang Malang

Burung Pipit

Di sebuah ladang yang luas, hiduplah sekumpulan hewan yang rukun dan damai. Burung Pipit dan burung-burung lainnya, serangga, ular dan hewan melata lain saling rukun dan damai hidup berdampingan.

Ladang yang luas itu merupakan milik seorang petani kaya raya. Ia merupakan sosok manusia yang dermawan. Selain merawat ladang dengan telaten, juragan ladang pun tidak serta merta mengganggu ekosistem yang ada di dalam ladang tersebut.

Di tengah ladang, sang pemilik membangun sebuah rumah untuk ia beristirahat. Halamannya sangat luas ditumbuhi berbagai macam tanaman dari mulai bunga, buah dan sayur. Tempat itu sengaja dibuat

Di sanalah para burung malah betah tinggal. Selain lebih aman dari predator, tinggal di halaman luas sang pemilik pun lebih menyenangkan karena sang tuan memiliki sikap yang ramah.

“Aku senang kalian ada di sini, wahai sesama mahluk hidup!” ujar Tuan suatu hari.

“Ampun, Tuan. Maafkan kami jika kami menganggu ketenangan Tuan siang ini,” jawab pipit dengan penuh hormat. Lantas memberikan kode kepada teman-temannya agar mereka tidak terlalu berisik.

“Aku justru senang, Pipit. Aku ke sini hanya sesekali. Aku perintahkan kau untuk mengawasi ladang ini ketika aku tidak ada. Kau memiliki banyak kawan. Jika ada yang berniat jahat, maka kalian harus melapor kepadaku.

Pipit mengangguk patuh, “baik, Tuan,” jawabnya.

Sang tuan pun berlalu meninggalkan mereka.

Setiap musim panen, ladang itu menghasilkan banyak bahan pangan. Berkat pengawasan Pipit dan kawan-kawanya yang senantiasa berjaga, membuat ladang itu aman terkendali. Bahkan para serangga pendatang pun selalu bisa diajak kerja sama untuk memakan makanan tanpa merusak tumbuhan yang ditanamkan tuan ladang.

Sang tuan pun sangat senang dan senantiasa berterima kasih kepada para hewan yang ada di sana karena setiap musim hasil panennya selalu melimpah.

Sampai pada suatu hari, kejadian yang tidak diinginkan pun terjadi. Burung Pipit dibuat kalang kabut karena sebagian besar tumbuhan ladang rusak hanya dalam satu malam saja.

“Siapa yang melihat pelakunya?” tanya Pipit pada kawan-kawanya.

“Aku tidak tahu! Namun beberapa hari ini aku melihat dua sekawanan tikus bolak-balik di sekitar ladang,” jawab pak Ular.

“Kau yakin itu bukan bangsa tikus di ladang ini?” tanya Pipit.

“Bukan. Aku tidak mengenal mereka,” jawabnya lagi.

Tiba-tiba tuan ladang datang. Diiringi seekor burung Elang yang terbang di belakangnya.

“Aku kecewa dengan kinerjamu, Pipit. Hanya karena selama ini baik-baik saja, kau bahkan sampai tega menyembunyikan ancaman besar pada ladangku. Beruntung, burung Elang datang ke rumahku, melaporkan semua kejadian ini. Kalau saja aku tidak segera mengetahuinya, mungkin ladangku sudah habis semuanya,” ujar tuan ladang.

“Demi ladang ini, aku benar-benar tidak mengetahui kejadian ini, Tuan. Ini terjadi begitu saja hanya dalam waktu semalam,” jawab Pipit mencoba menjelaskan.

Burung Elang tersenyum sinis, “itu karena kau terlalu lalai, Pipit. Kau bahkan tidak pernah patroli. Karena kau lemah! Sayapmu pun kecil. Tidak akan mampu mengitari ladang dengan cepat atau mengawasinya dari ketinggian! Seharusnya sejak awal, aku lah yang dipilih Tuan untuk mengawasi ladang ini. Bahkan untuk terbang melaporkan kejadian ini pun, kau tak akan sanggup!” hardik burung Elang.

“Tuan…, maafkan hamba…,” burung Pipit memohon, “hamba sadar diri, hamba hanya seekor burung Pipit yang lemah. Tetapi percayalah, sama sekali hamba tidak pernah berniat membiarkan ladang Tuan secara sengaja,” ucap burung Pipit lirih.

“Aku sudah tidak peduli. Sekarang aku sudah tidak percaya lagi kepadamu!” ujar tuan ladang sambil berlalu pergi.

Burung Pipit hanya bisa menunduk lesu. Tubuhnya terasa begitu lelah. Setiap hari dihabiskan untuk berpatroli mengawasi ladang dengan kekuatan yang dia punya. Namun kini semua sia-sia.

“Satu lagi,” tuan ladang menghentikan langkahnya, “aku tidak lagi mengizinkan kau tinggal di sini. Carilah tempat lain!” tuan ladang berlalu meninggalkan Pipit dan kawan-kawanya.

“Sudahlah, Pipit. Pada akhirnya kebenaran akan terungkap tanpa harus susah payah membuktikan. Mari kita pergi dari sini,” ujar pak Ular. Dibenarkan oleh seluruh bangsa serangga dan burung-burung yang lainnya.

“Besok pagi kita akan pergi bersama,” kata Ular.

“Jangan, Pak! Biar aku saja. Tuan ladang hanya tidak ingin aku ada di sini. Sementara kalian, tetaplah tinggal mungkin kelak ada pemimpin ladang yang baru yang akan menggantikan aku,” ujar Pipit sedih.

Dengan sayapnya yang lunglai, ia terbang meninggalkan teman-temannya yang sedang bersedih.

Sementara burung Elang, bertengger sombong di atas dahan pohon.


"Semua konten menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi RuangPena."

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *