Sarjana untuk sebagian orang berarti harus mendapat pekerjaan yang tempatnya ber-AC, harus memakai pakaian rapi dan wangi. Tak sedikit orang-orang di kampung halaman saya menilai bahwa yang kuliah atau yang sudah jadi sarjana harus jadi “orang”, harus kerja di tempat yang nyaman. Kalau seorang sarjana turun ke sawah, maka orang akan berkata, “lah untuk apa capek-capek kuliah kalau hanya merepotkan orang tua saja?” begitu katanya.
Menjadi sarjana adalah impian saya sejak kecil. Impian anak remaja yang saat itu belum tahu harus apa setelah menjadi sarjana. Setelah lulus SMA saya melanjutkan pendidikan di salah satu Universitas di Bandung.
Ya saya happy menjalankan aktivitas saya sebagai mahasiswa. Sampai akhirnya saya sering mendengar nyinyiran tetangga, kerabat dan teman-teman saya di kampung mengenai yang sarjana akhirnya hanya menjadi ibu rumah tangga di kampung terpencil.
“Kuliah itu biayanya mahal, kalau sudah lulus lalu hanya bekerja menjadi kasir, atau jualan di pasar itu sayang sekali ya. Gak kasian tah sama orang tuanya?” begitulah celetukan teman saya saat saya berkunjung ke rumahnya.
Setelah lulus kuliah, saya bekerja lalu menikah dan hamil. Saya resign di pekerjaan saya saat itu, saya memilih menjadi ibu rumah tangga, sampai anak saya memungkinkan bisa ditinggal atau bisa dibawa bekerja. Selama 2 tahun saya menjadi ibu rumah tangga dan setiap saya mudik yang tetangga atau kerabat tanyakan adalah pekerjaan saya dan suami.
“Gak kerja apa-apa ya, sekarang nganggur? Terus suaminya kerja apa?”
Selalu pertanyaan itu yang mereka tanyakan.
Ada lagi cerita teman saya yang orang tuanya ditanya tetangga, “anakmu sudah jadi apa jauh-jauh kuliah di Bandung?” Seketika orang tua teman saya langsung nangis lemas karena pertanyaan memojokan tadi. Padahal teman saya ini sudah bekerja sebagai pegawai desa.
Saya sendiri tidak tahu persis berapa banyak pertanyaan yang diterima orang tua saya selama 2 tahun saya hanya menjadi ibu rumah tangga. Semoga hatinya selau dikuatkan, dan diberi keikhlasan. Sekarang saya sudah bekerja lagi dan alhamdulillah bisa bawa anak juga.
Mengerikan ternyata ya dari gelar sarjana harus memenuhi tuntutan dari orang-orang sekitar yang selalu menaruh ekspektasi yang berlebihan. Hal itulah yang kerap membuat orang yang sudah mempunyai gelar merasa was-was kalau memilih pekerjaan yang tidak sesuai jalurnya. Ada rasa takut dicaci sama orang-orang yang berpikir kalau sudah sarjana harus kaya raya dan punya jabatan tinggi.
Terkadang gengsi itu tidak hanya datang dari orang itu sendiri tapi bisa jadi dari orang tua, pasangan atau kerabat.
Semoga ke depan keadaan berubah dan tidak lagi menyudutkan para sarjana yang belum bekerja. Setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing, dengan kesuksesan yang berbeda.
