Saya, Diantika IE, seorang penulis amatiran yang memiliki mimpi selangit: ingin membuat orang merasakan betapa asiknya menulis, pada siapapun yang belum melakukannya. Kepada saudara, kepada teman dekat bahkan yang baru saja berjumpa. Kepada para peserta kelas dan siapa saja yang menyatakan diri memiliki minat dan ketertarikan kepada dunia kepenulisan. Kalau perlu, yang tidak suka sama sekali pun akan saya buat menjadi suka dan ketagihan menuangkan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan.
Mengapa saya merasa perlu menularkan kebiasaan menulis kepada banyak orang? Alasannya sangat sederhana karena saya sendiri sudah merasakan betapa banyak manfaat dari menulis. Setiap ide/gagasan dan segala sesuatu yang berkecamuk di dalam kepala, hati dan pikiran tercurahkan tanpa harus dipendam. Efeknya? Hati tenang, pikiranpun lapang.
Bagi saya menulis adalah obat terutama bagi para perempuan yang suaranya nyaris jarang didengar. Yang ide dan gagasannya sering dipandang sebelah mata, langkah kakinya dianggap lebih pendek daripada kaum laki-laki. Yang kalau menyuarakan perlawanan atas tindakan diskriminasi dan kekerasan pada perempuan malah jarang yang mendengarkan, dibungkam dan malah disudutkan.
Berangkat dari itu semua, saya merasa bahwa meskipun jiwa dan fisiknya terkungkung oleh ruang, tetapi perempuan dengan otaknya bisa menuangkan ide dan gagasan sebebas mungkin.
Tidak ada yang benar-benar bebas di dunia, kecuali pikiran kita. Karena itu siapapun yang tidak bisa bersuara, siapapun yang tidak bisa menuangkan dan menyampaikan gagasannya, maka orang tersebut masih memiliki satu cara yaitu: menuliskannya.
Tulisan saya memang tidak semenarik tulisan orang-orang hebat. Bahkan jika dibandingkan dengan para pemenang Kompasiana Awards beberapa hari lalu, kualitas tulisan saya tentu saja masih jauh berada di bawah beliau semua. Namun meskipun demikian, saya masih terus bersemangat untuk menyuarakan dan mengajak siapapun bahwa menulis itu tidak sesulit yang dibayangkan.
Saya bahkan ingin memberitahu pada siapapun yang masih menganggap bahwa menulis itu susah, yakinlah bahwa menulis itu bukan bakat. Siapapun bisa melakukannya jika dilatih sedemikian rupa. Siapapun akan bisa menulis karena pada dasarnya menulis semudah berbicara.
Menulis juga tidak harus memiliki target tertentu, misalkan untuk menjadi terkenal, untuk mengajari seseorang, untuk menebarkan manfaat mungkin lebih jauhnya, tapi jadikanlah menulis itu sebagai obat.
Tidak perlu menjadi hebat untuk menjadi seorang penulis yang berbakat. Kamu hanya cukup memiliki keberanian untuk memulainya, menuangkan apa yang kamu rasakan dalam hati dan apa yang kamu pikirkan di kepala. Lalu menuangkannya dalam bentuk tulisan.
Setelah menjadi tulisan pun kamu tidak perlu khawatir bahwa tulisan yang kamu buat tidak ada yang membaca. Karena pada dasarnya setiap tulisan akan bertemu dengan pembacaannya—setidaknya akan dibaca oleh orang yang nantinya akan memberikan kritik dan saran.
Jadi, jangan sampai berkecil hati ketika tulisan kita yang tayang media sepi pembaca. Mungkin saja karena ia belum menemukan pembacanya. Buat saja lagi dan tulis aja lagi. Suatu hari tulisanmu akan menemukan pembacanya.
Tidak perlu susah payah mencari ilmu dan seminar kepenulisan sana-sini. Kamu hanya perlu terus berlatih dan memperbanyak membaca. Dengan banyak berlatih dan banyak membaca kualitas tulisanmu akan membaik dengan sendirinya.
Menularkan Minat Menulis Melalui Blog Kecil Bernama ruangpena.id
Berangkat dari kesenangan saya pada menulis saya membuat blog bernama ruangpena.id. Pada awalnya memang web/blog ini hanya dibuat untuk menampung curahan isi hati dan pikiran saya sendiri.
Namun, mendapati pengalaman dan melihat fenomena bahwa tidak banyak perempuan yang mampu menyuarakan isi hatinya maka saya merasa mereka harus bisa menulis untuk bersuara. Saya sadar, betul banyak perempuan yang fisiknya terkungkung dalam sebuah ruang tetapi saya percaya mereka memiliki ide dan gagasan yang luar biasa lebih dari apa yang dipikirkan orang lain. Akhirnya ruangpena.id beranjak menjadi sebuah wadah yang saya khususkan untuk penulis perempuan, atau penulis laki-laki yang ingin menyikapi dan menuliskan hal-hal yang berhubungan dengan perempuan.
Bsampai pada akhirnya kini, saya mempersilakan siapapun menggunakannya. Mereka bisa membuat akun dan menuliskan apapun di sana.
Tentu saja Ini berkaitan dengan tulisan-tulisan yang mengangkat harkat dan martabat perempuan. Tulisan-tulisan yang berpihak pada perempuan bukan yang justru mematikan dan mengecilkan juga mendiskriminasi para perempuan.
Beberapa orang bergabung menjadi penulis ruangpena.id sampai kemudian ternyata orang-orang yang sudah biasa menulis di media besar pun tertarik untuk melirik ruangpena.id sebagai tempat menayangkan tulisannya.
Saya sangat berterima kasih kepada Pak Jumari Haryadi kohar atau lebih dikenal dengan J. Haryadi dan Bapak Didin Tulus serta penulis-penulis lain yang berasal dari kalangan dosen, konten kreator, dan penulis-penulis lepas yang sering menayangkan tulisannya di media-media yang lebih besar. Saya berterima kasih, karena Anda semua sudah membuat ruang pena bertahan hingga saat ini.
Saya juga sangat berterima kasih kepada teman-teman yang katanya penulis pemula masih malu menuangkan ide dan gagasan, tetapi akhirnya berani mempublikasikannya tulisan-tulisan terbaiknya di ruang pena. Bahkan lebih dari itu, beberapa orang kini sudah mulai menulis di Kompasiana, IDN time dan media besar lainnya karena berlatih keberanian di web kecil sekelas ruang pena.id.
Bagi yang lain mungkin ruangpena.id hanyalah website kecil yang pengunjungnya masih bisa dihitung jari. Iklannya pun baru sedikit saja. Namun bagi seorang “ibu yang melahirkan dan merawatnya” hingga saat ini, ruangpena adalah harapan besar bagi saya sebagai tempat saya menebar manfaat, mengajak orang-orang untuk terus menulis dan menyuarakan isi hati dan kepalanya dalam bentuk tulisan.
Saya berharap ruang pena.id bisa menjadi media yang besar. Bukan hanya dibesarkan oleh para penulis, tetapi benar-benar mampu membesarkan nama-nama penulis suatu saat nanti.
Akhirnya saya hanya bisa berkata, jika ide dan gagasanmu hanya ingin didengar maka kamu cukup mengatakannya. Akan tetapi jika itu dan gagasanmu ingin meresap ke hati sanubari orang-orang satu dunia, maka kamu harus menuliskannya.
Ketika orang-orang di sekitarmu tidak mendengarkan dengan baik ide dan gagasan atau apa yang kamu katakan, maka percayalah ketika kamu menuliskannya, ide itu akan sampai kepada siapapun bahkan kepada orang-orang yang tak pernah terbayangkan akan sampai kepadanya.
Teruslah menulis, jangan pernah takut jika tulisanmu tidak ada yang membaca. Karena seiring dengan waktu, ketika kamu terus menulis kamu akan menemukan versi terbaik dari tulisanmu sendiri.
Semoga bermanfaat.
