Suara klakson mobil sewaan beradu dengan riuh takbir yang memantul di dinding-dinding kayu rumah panggung Nenek. Paman Kurman turun dengan setelan jas kasual yang tampak mahal, jam tangan yang berkilau tertimpa lampu teras, dan senyum yang ia tata sedemikian rupa agar terlihat seperti pria sukses dari ibu kota.
“Paman Kurman datang! Paman sukses datang!” teriak keponakan-keponakannya kegirangan.
Kurman tertawa lebar, menepuk-nepuk bahu saudara-saudaranya, dan membagikan cerita tentang proyek-proyek besar yang sebenarnya hanya ia dengar dari obrolan di kantin kantor. Di kampung ini, Kurman adalah legenda hidup. Ia adalah “si bungsu yang menaklukkan Jakarta.” Namun, di balik saku jasnya yang tampak kaku, ada rahasia yang membuat dadanya sesak setiap kali ia bernapas.
Malam takbiran itu, Kurman duduk di tengah lingkaran keluarga. Di depannya tersedia toples-toples kue dan kaleng Khong Guan berisi rengginang. Saudara-saudaranya menatapnya dengan kekaguman yang tulus.
“Wah, Kurman, mobilnya baru ya? Pasti bonus tahun ini besar,” seloroh Kang Dadang, kakaknya yang petani.
Kurman hanya tersenyum simpul, menyembunyikan fakta bahwa mobil itu ia sewa dengan uang pinjaman online yang bunganya mulai mencekik leher. “Ah, biasa saja, Kang. Rezeki anak sholeh,” jawabnya singkat, meski hatinya mencelos.
Ia meraba saku jasnya. Di sana ada tumpukan amplop berwarna emas yang elegan. Amplop-amplop itu nampak tebal dan menjanjikan. Namun, Kurman tahu betul isinya: sebagian besar hanya berisi selembar uang sepuluh ribu rupiah yang dilipat tebal, dan sisanya… benar-benar kosong.
Ia telah menghabiskan tabungannya untuk menyewa mobil, membeli setelan jas ini, dan membayar tunggakan kontrakan yang hampir diusir pemiliknya sebulan lalu. Namun, pulang dengan tangan hampa ke kampung adalah aib yang lebih menakutkan daripada kemiskinan itu sendiri.
Pagi Idul Fitri tiba dengan wangi opor dan gemuruh doa. Kurman berdiri di barisan depan shalat Ied, mencoba terlihat berwibawa. Saat kembali ke rumah, ritual yang paling ia takuti dimulai: pembagian “salam tempel”.
Satu per satu keponakan mendekat. Kurman dengan gaya flamboyan merogoh sakunya. Ia memberikan amplop emas itu dengan gerakan tangan yang cepat, layaknya seorang pesulap.
“Ini untukmu, belajar yang rajin ya,” katanya sambil menyerahkan amplop kepada si kecil Dani.
Dani membukanya di pojok ruangan dengan mata berbinar. Detik kemudian, wajah bocah itu berubah bingung. Ia merogoh ke dalam amplop yang panjang itu, tapi jemarinya hanya menyentuh udara. Kosong.
Dani menatap Pamannya, lalu menatap amplop itu lagi. Ia ingin bertanya, tapi melihat Paman Kurman yang sedang asyik bercerita tentang “investasi saham” kepada orang dewasa lainnya, Dani hanya bisa terdiam dan menyimpan amplop kosong itu ke saku celananya.
Sore harinya, saat keriuhan mulai mereda, Kurman duduk sendirian di bangku bambu belakang rumah. Ia menatap sawah yang membentang luas. Topeng suksesnya mulai terasa berat. Ia merasa lelah harus terus berbohong, lelah harus menjadi “pahlawan” yang sebenarnya sedang sekarat.
Nenek mendekatinya, membawa segelas teh hangat. Beliau tidak bicara soal sukses atau uang. Beliau hanya menatap mata anaknya yang lelah.
“Kur, saku jasmu itu… tadi Ibu lihat ada amplop yang jatuh,” kata Nenek lembut, menyerahkan sebuah amplop emas yang terbuka.
Kurman membeku. Ia tahu itu adalah salah satu amplop kosongnya.
“Ibu tahu Jakarta itu keras, Nak. Jangan paksa dirimu untuk jadi orang lain di sini. Di rumah ini, kamu cuma Kurman, anak Ibu yang dulu suka main di sawah tanpa alas kaki. Kami tidak butuh amplop emasmu, kami cuma butuh kamu pulang dengan hati yang tenang,” lanjut Nenek, suaranya tenang namun menghujam jantung Kurman.
Air mata yang sejak kemarin ia tahan akhirnya tumpah. Kurman tertunduk, meremas jas mahalnya yang kini terasa seperti kain rongsokan. Ia menyadari bahwa selama ini ia sedang memuja berhala bernama “Gengsi”, hingga lupa bahwa fitrah Lebaran adalah kembali ke kejujuran.
Malam itu, Kurman tidak lagi bercerita tentang saham atau proyek. Ia duduk di lantai bersama kakak-kakaknya, membantu mengupas bawang untuk sisa opor besok, dan tertawa tulus tanpa beban—meskipun sakunya kini benar-benar kosong dari amplop emas. Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, hatinya merasa penuh.
“Jangan biarkan gengsi membungkus hidupmu dalam kepalsuan. Lebaran adalah waktu untuk melepaskan topeng duniawi, bukan malah mempertebalnya. Sebab, kebahagiaan yang dipaksakan hanya akan menyisakan kekosongan, seperti amplop emas yang nampak mewah namun tak berisi apa-apa di dalamnya.”
