Stasiun waktu itu bernama “Sepuluh Malam Terakhir”, dan kini, jarum jam raksasanya telah bergeser ke angka lima. Lima hari tersisa. Udara sore di pelataran Masjid Al-Ikhlas terasa berbeda; ada aroma kesedihan yang samar tertiup angin, bercampur dengan wangi tanah yang basah oleh sisa air wudhu.
Di atas bangku kayu yang sudah mulai lapuk, duduklah Malik. Pria itu menatap lurus ke arah langit yang perlahan berubah warna menjadi jingga keunguan. Di tangannya, ia memegang sebuah tasbih tua pemberian ayahnya. Namun, jemarinya tak bergerak. Hatinya sedang riuh oleh suara mesin kereta yang seolah menderu di kejauhan—sebuah kereta imajiner yang ia sebut sebagai “Kereta Ampunan”.
Bagi Malik, Ramadan tahun ini terasa seperti perjalanan yang ia sia-siakan. Ia sempat terlelap di gerbong-gerbong awal, terbuai oleh urusan dunia yang tak kunjung usai. Ia melewati stasiun “Rahmah” dengan mata mengantuk, dan hampir tertinggal di stasiun “Maghfirah” karena sibuk menghitung angka-angka di layar ponselnya.
Kini, ia berada di peron terakhir. Lima hari terakhir. Ini adalah gerbong paling belakang dari rangkaian kereta panjang yang membawa muatan keberkahan.
“Masih sempatkah?” bisiknya lirih, suaranya tenggelam dalam riuh suara anak-anak yang berlarian menunggu adzan Maghrib.
Ia teringat sebuah pesan lama: Ramadan adalah tamu yang mulia, ia datang membawa permata, namun ia tak akan memelas jika kau menutup pintu. Ia akan pulang tepat waktu, dengan atau tanpa permatamu.
Malik memejamkan mata. Di dalam kegelapan matanya, ia melihat dirinya sendiri sedang berlari di sepanjang rel waktu, mencoba menggapai pintu gerbong terakhir yang sudah mulai bergerak perlahan. Pintu itu adalah pintu tobat, dan penjaganya adalah keikhlasan.
Ia mulai menyadari bahwa lima hari ini bukan lagi soal berapa banyak hidangan yang tersaji di meja makan, bukan pula soal baju baru yang akan dikenakan saat fajar Idul Fitri menyingsing. Lima hari ini adalah tentang “membersihkan koper” jiwanya dari pakaian kotor bernama dosa, sebelum ia benar-benar sampai di stasiun tujuan.
Seketika, ia teringat pada wajah ibunya yang setiap malam bersujud lama di atas sajadah usangnya. Ibunya selalu berkata, “Nak, Tuhan itu tidak melihat seberapa cepat kau berlari di awal, tapi seberapa tulus kau bertahan hingga garis akhir. Jangan biarkan keretamu berangkat dalam keadaan kursi hatimu kosong dari dzikir.”
Air mata Malik jatuh, hangat membasahi pipinya. Ia bangkit dari bangku kayu itu. Ia tak ingin lagi hanya menjadi penonton di peron. Ia harus melompat masuk ke gerbong terakhir itu.
Ia melangkah masuk ke dalam masjid. Ruangan itu mulai dipenuhi cahaya lampu yang temaram. Ia memilih sudut paling sunyi, di mana hanya ada ia dan bayangannya sendiri. Malik bersujud. Kali ini, sujudnya bukan lagi sekadar gerakan fisik. Ia merasa sedang meletakkan seluruh beban hidupnya di bawah kaki Sang Pencipta.
Dalam sujud yang panjang itu, ia seolah mendengar deru kereta ampunan itu melambat, memberinya kesempatan untuk naik. Tidak ada lagi suara bising dunia. Hanya ada detak jantungnya yang berbisik, “Ampuni hamba… terima hamba di gerbong terakhir ini.”
Lima hari memang singkat bagi mereka yang merugi, namun terasa seperti keabadian penuh makna bagi mereka yang benar-benar ingin pulang. Malik tahu, gerbang keberkahan akan segera ditutup, namun selama napas masih berhembus, tiket ampunan itu masih terselip di saku niatnya.
Saat adzan Maghrib berkumandang, Malik berbuka dengan seteguk air dan sebongkah kesadaran. Ia bukan lagi pria yang tertinggal di stasiun. Ia sudah berada di dalam kereta, duduk di pojok gerbong terakhir, menatap jendela waktu yang membawanya pulang menuju cahaya Fitrah.
“Ramadan adalah kereta yang tak pernah terlambat berangkat, namun seringkali kita yang terlambat menyadari nilai perjalanannya. Jangan biarkan lima hari terakhir ini menguap begitu saja bersama uap masakan Lebaran. Kejar gerbong terakhir itu dengan tangisan tobat, sebab pintu ampunan tak pernah terkunci bagi mereka yang datang dengan hati yang pecah dan ingin kembali utuh.”
