Ilustrasi Ramadan (Umar Ben/Unsplash)
Bulan Ramadan kita menjalani puasa tapi anggaran menjadi bengkak? Apa saja ya alasannya? Selain untuk war takjil dan baju hari raya, untuk apa saja alokasi anggaran selama puasa?
Di tahun ini bulan Ramadan masuk di bulan Maret, dimana tanggal satu Ramadan persis tanggal satu Maret. Bagi umat muslim, puasa ini tujuannya untuk menahan diri dari segala sesuatu yang membuat pahala berkurang, bahkan batal. Puasa melatih orang untuk mengendalikan diri, selain menahan haus dan lapar, orang harus belajar menahan emosi.
Di Indonesia sendiri, puasa menjadi ajang yang sangat ditunggu-tunggu. Bukan hanya nuansa yang khidmat dan berlipatnya pahala, namun puasa menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan bagi sebagian banyak orang. Karena orang Indonesia cukup antusias menyambut Ramadhan, banyak hal yang pastinya dipersiapkan.
Momen Ramadan dan Idul Fitri, orang-orang banyak mempersiapkan makanan. Dari mulai ragam kue kering dan basah, camilan manis, gorengan, hampers, sembako, sirup, sayur-mayur persiapan lebaran, hingga rupa-rupa pakaian. Jasa angkut seperti ojek online dan ekspedisi juga tak kalah ramainya.
Pernah mendengar musim Ramadan kemarin, ada jasa ekspedisi yang overload karena banyak pesanan yang menumpuk harus terkirim sebelum hari raya. Adanya tradisi semacam ini, membuat orang-orang yang berekonomi biasa saja menjadi harus putar otak dengan dalih banyak kebutuhan. Semula membeli barang atau makanan tidak bisa beli, jadi terpaksa beli.
Awalnya tidak membuat, menjadi buat meski seadanya. Padahal taraf ekonomi masing-masing orang tentunya berbeda. Tradisi membuat sesuatu yang berat menjadi wajib, menghidangkan makanan sebanyak-banyaknya dalam ajang silaturahmi.
Ada yang rela utang sana sini untuk membuat makanan tradisi. Bergengsi ria memakai baju mahal dengan angsuran sepuluh bulan. Beberapa keluarga merasa perlu bekal yang banyak untuk berpuasa, harus banyak uang untuk Idul Fitri.
Harus beli banyak bingkisan karena mengunjungi keluarga. Belum lagi anggaran mudik dan bersilaturahmi yang mengharuskan membawa buah tangan, THR ponakan, juga anggaran bahan bakar. Terlalu banyak tradisi yang hampir mencekik bagi banyak orang Di Indonesia.
Di sisi lain yang bisa kita lihat mengenai tradisi ini di Indonesia sendiri, adalah Tunjangan Hari Raya atau biasa disebut THR. Hal itu menjadi kewajiban bagi lembaga atau perusahaan untuk ditunaikan kepada karyawannya. Sifatnya itu menjadi hak bagi pegawai.
Baru-baru ini ada mitra penyedia jasa transportasi online yang ingin diberikan Tunjangan Hari Raya oleh penyedia jasanya. Mereka merasa berhak ditunaikan THR-nya atas pekerjaan yang padat selama bulan Ramadhan. Puasa, menjadi sesuatu yang bagi sebagian orang bukan khidmatnya yang dipikirkan, tapi anggaran yang harus dikeluarkan.
Alih-alih berbekal kesiapan diri dan mental untuk memperoleh ketenangan dalam beribadah. Justru banyak orang lebih pusing mempersiapkan uang untuk berbagai keperluan Ramadhan dan Idul Fitri. Sebenarnya sangat baik menyambut bulan Ramadhan dengan suka cita, dan mengapresiasi diri dengan hal-hal istimewa.
Tapi alangkah baiknya mengukur diri, bila tak sanggup tidak usah dipaksakan. Silaturahmi dengan buah tangan semampunya, berbuka puasa dengan lauk yang cukup, hari raya berpakaian bersih dan rapi tidak berarti harus baru. Bulan penuh berkah ini selayaknya dipakai untuk ajang ibadah lebih baik dan lebih tenang.
Pandailah memilah dan memilih mana yang harus dilakukan karena menambah kadar pahala puasa, atau hanya tradisi belaka yang andai tidak dilakukan pun tidak akan membuat kita berdosa.
Semoga kita setiap hari senantiasa bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita. Senantiasa menjadikan bahan renungan untuk kita, bahwa menghadapi Ramadan dan Idul Fitri bukan hanya memperberat barang belanjaan dan memperbanyak anggaran. Tapi berusaha memperbanyak amalan, untuk menabung kebaikan juga bekal pahala di akhirat kelak.
