Bagi warga Kampung Melati, Idulfitri bukan sekadar tentang kumandang takbir, melainkan tentang launching identitas baru. Sebulan penuh mereka berpuasa menahan lapar, namun di minggu terakhir, nafsu itu meledak di pusat perbelanjaan.
Ibu Ratna adalah salah satu “panglima” dalam perburuan ini. Baginya, pakaian adalah harga diri yang bisa diukur dengan harga per meter kain.
“Tahun ini temanya Sage Green, tapi harus yang kain shimmer premium, Pak,” ujar Ibu Ratna tegas kepada suaminya. “Jangan sampai kita terlihat pucat di foto keluarga. Malu sama grup WhatsApp komplek kalau gaya kita kalah dari tahun lalu.”
Suaminya hanya mengangguk pasrah, sambil menghitung sisa THR yang kian menipis. Di kepala Ibu Ratna, Lebaran telah bergeser menjadi panggung sandiwara besar, di mana kemenangan spiritual diukur dari seberapa mewah “kostum” yang dikenakan para aktornya.
Bahkan kesucian shalat Id pun tak luput dari kontaminasi gengsi. Ibu Ratna membeli mukena yang disebut penjualnya sebagai “Mukena Sultan”—penuh dengan payet yang dijahit tangan dan renda yang menjuntai hingga ke lantai.
Saat ia berdiri di barisan (saf) terdepan lapangan masjid, mukenanya seolah berteriak minta diperhatikan. Setiap gerakan ruku dan sujudnya diikuti oleh gemerincing payet yang beradu. Ia merasa sangat percaya diri, merasa paling layak merayakan kemenangan karena penampilannya paling paripurna.
Namun, di tengah kekhusyukan khutbah, Ibu Ratna tak sengaja menoleh ke arah barisan paling belakang. Di sana, ia melihat Mbok Jum, penjual jamu keliling yang sudah renta.
Mbok Jum mengenakan mukena katun yang sudah sangat tipis, warnanya sudah menguning di bagian dahi karena sering dicuci. Tak ada payet, tak ada renda. Namun, pemandangan itu justru menghantam jantung Ibu Ratna. Mbok Jum bersujud begitu lama, pundaknya berguncang pelan karena isak tangis yang tulus. Wajahnya memancarkan kedamaian yang tidak bisa dibeli dengan kain sutra manapun.
Sepulang shalat, Ibu Ratna sibuk mengatur posisi anak-anaknya untuk berfoto. “Ayo senyum! Bajunya ditarik dikit biar payetnya kelihatan!” teriaknya. Ia menghabiskan waktu dua jam hanya untuk mendapatkan satu foto keluarga yang sempurna demi diunggah ke media sosial.
Namun, saat ia duduk di ruang tamu, rasa lelah yang luar biasa menyergapnya. Bajunya yang mewah terasa gatal di kulit karena cuaca panas. Payet di pinggangnya menusuk-nusuk badannya setiap kali ia duduk. Ia merasa seperti memakai baju zirah yang berat, bukan baju kemenangan.
“Bu,” suaminya berbisik sambil menyerahkan segelas sirup. “Tadi aku lihat Mbok Jum di jalan. Dia membagi-bagikan bungkusan kecil berisi nasi kuning buat anak-anak yatim di gang sebelah. Dia masih pakai baju lama yang bersih, tapi wajahnya bahagia sekali.”
Ibu Ratna menatap bayangannya di cermin besar. Ia melihat wanita dengan pakaian mahal yang berkilauan, namun matanya kosong. Ia telah menghabiskan energi sebulan penuh hanya untuk menghias “bungkus”, sementara “isinya”—yakni jiwanya—masih tetap sama, masih dipenuhi rasa ingin dipuji dan ketakutan akan penilaian manusia.
“Idulfitri sejati bukanlah tentang mengganti kulit luar dengan kain yang baru, melainkan tentang menanggalkan sifat-sifat lama yang kusam dari dalam jiwa. Sehelai benang tidak akan pernah bisa menambal lubang di hati yang kurang bersyukur. Sebab, Tuhan tidak melihat seberapa mahal ‘jubah’ yang kita pakai saat bersujud, melainkan seberapa hancur ego kita di hadapan kebesaran-Nya.”
