Bagi Aris, bangun sahur adalah sebuah operasi militer tingkat tinggi. Sebagai budak korporat yang hobi begadang demi menuntaskan serial streaming atau sekadar scrolling sampai jempol kapalan, Aris punya protokol keamanan berlapis. Ia punya tiga alarm di ponselnya: pukul 03.15 (fase sadar), 03.30 (fase kumpul nyawa), dan 03.45 (fase red alert). Aris merasa aman. Baginya, bangun sahur adalah kepastian hukum.
Namun, semesta punya cara unik untuk bercanda. Pukul 04.15 dini hari. Aris terbangun bukan karena bunyi ringtone standar yang berisik, melainkan karena suasana kamarnya mendadak sunyi sesunyi kuburan digital. Hawa AC yang biasanya menusuk tulang berganti dengan udara gerah yang pengap. Mati lampu.
Ia meraba nakas, mencari ponselnya. Mati. Tablet? Mati juga. Jam tangan pintarnya? Layarnya gelap gulita karena lupa diisi daya semalam. Gawai-gawai yang selama ini ia puja sebagai asisten hidupnya mendadak melakukan aksi mogok massal. Mereka berkhianat di saat paling krusial.
Dengan langkah sempoyongan dan jantung yang mulai berdisko, Aris keluar kamar. Di ruang tengah, ia melihat Ibu, Ayah, dan adiknya, Maya, sudah duduk rapi di meja makan dengan piring yang hampir bersih.
“Eh, bangun juga Tuan Muda kita,” sindir Ibu sambil merapikan sisa lauk. Suaranya tenang, tapi Aris tahu itu adalah tanda badai kategori lima akan segera datang.
“Bu… kok nggak ada yang bangunin Aris?” tanya Aris dengan suara parau.
Ibu menggebrak meja pelan, bukan karena marah, tapi karena gemas. “Nggak ada yang bangunin? Ibu sudah gedor pintu kamu dari jam tiga sampai tangan Ibu pegal! Ayah juga sudah teriak-teriak di depan kuping kamu, kamu cuma jawab ‘ya, lima menit lagi’ sambil narik selimut. Malah tadi Maya sengaja nyalain senter ke muka kamu, kamunya nggak gerak sama sekali!”
Ayah menghela napas panjang, meletakkan gelas tehnya, dan mulai mengeluarkan mode ‘Ustadz Dadakan’. “Itulah kalau hidup cuma bergantung sama benda mati, Ris. Kamu pasang alarm lima, tapi hati kamu nggak kamu pasang buat bangun. Kamu lebih percaya sama baterai HP daripada suara orang tua. Sekarang HP-mu mati, kamu mau minta tolong siapa? Minta tolong sama kabel charger?”
Maya, sang adik yang paling senang melihat kakaknya menderita, menyambung dengan cengiran lebar. “Lagian gaya banget sih pakai smartwatch segala, tapi orangnya nggak smart bangun pagi. Tadi aku sudah kasih ‘alarm’ air dingin dikit ke kaki Kakak, eh malah kakinya narik kayak kura-kura masuk tempurung. Kasihan deh, imsak lima menit lagi tuh. Selamat menikmati kenyang lewat bayangan ya!”
Aris mematung melihat jam dinding. 04.25. Benar kata Maya, waktu makannya sudah habis secara teknis.
“Udah, nggak usah bengong. Nih, minum air putih yang banyak. Makanya kalau tidur itu HP ditaruh, jangan dipeluk kayak guling. Sekarang mati lampu, semua HP mati, kamu jadi kayak orang hilang arah kan?” tambah Ibu sambil menyodorkan segelas air putih terakhir sebelum adzan berkumandang.
Aris meminum air itu dengan rasa sesal yang lebih pahit dari jamu. Ia terduduk di kursi makan yang sudah mulai sepi. Tanpa cahaya layar yang biasanya mendominasi matanya, Aris baru menyadari betapa payahnya ia selama ini. Ia merasa hebat karena punya gawai canggih yang bisa mengatur hidupnya, namun saat baterai-baterai itu habis dan lampu padam, ia hanyalah seorang pemuda yang bahkan tidak bisa mendengar panggilan nyata dari orang-orang yang menyayanginya.
Suara Tarhim dari masjid mulai terdengar. Aris terdiam dalam kegelapan. Ia baru menyadari betapa sunyinya malam jika ponselnya tidak berisik.
“Gue terlalu sibuk sama yang digital, sampai lupa cara dengar suara yang nyata,” bisiknya pada diri sendiri.
Pagi itu, Aris shalat Subuh dengan kondisi perut yang belum sempat menyentuh nasi, namun pikirannya sangat jernih. Ia menyadari bahwa teknologi sehebat apa pun hanyalah alat. Inti dari Ramadan adalah tentang kesadaran diri. Hari itu ia belajar: alarm terbaik di dunia bukanlah getaran di pergelangan tangan, melainkan niat di dalam hati dan kepatuhan pada suara orang tua yang memanggil sebelum waktu terlambat.
“Jangan biarkan hidupmu dikendalikan oleh bar baterai yang bisa habis kapan saja. Seringkali, Tuhan mematikan semua ‘cahaya palsu’ di tanganmu agar engkau sadar bahwa selama ini engkau mengabaikan panggilan tulus dari manusia di sekitarmu demi mengejar notifikasi yang tak pernah tidur.“
