Ilustrasi (Jr Korpa/Unsplash)
Narasi Prosa
Puisi Rumi ini membuka dengan pengakuan yang jujur: manusia tersesat. Ada kerinduan untuk pulang, sebuah perjalanan batin yang belum menemukan ujung. Pertanyaan “Siapa yang akan mengantar kita pulang?” bukan sekadar tentang arah, melainkan tentang makna hidup yang hilang di tengah keramaian dunia.
Lalu hadir sosok pemabuk, yang dalam simbol sufi bukan sekadar orang kehilangan kendali, melainkan jiwa yang mabuk oleh cinta Ilahi. Tatapannya menyimpan “seratus taman cerah”—sebuah gambaran tentang keluasan batin, keindahan yang tak bisa dijangkau oleh logika. Ia bagai kapal tanpa jangkar, bebas dari ikatan duniawi, sehingga bahkan orang bijak pun iri padanya.
Rumi kemudian menyingkap asal-usul jiwa: separuh dari timur, separuh dari barat. Jiwa manusia adalah perpaduan unsur kosmik—air, tanah liat, hati, napas, dan mutiara. Di sini, Rumi menegaskan bahwa manusia adalah jembatan antara bumi dan langit, antara materi dan cahaya.

Ada pula ajakan untuk bersaudara: “Jadilah temanku, karena engkau kerabat sejati.” Namun segera muncul paradoks: di dunia ini, tidak ada orang asing, tidak ada kerabat. Semua adalah satu, semua berasal dari sumber yang sama. Dada penuh kata-kata, tetapi dilema tetap ada—apakah harus diucapkan, atau disimpan dalam diam? Inilah ketegangan antara ekspresi dan keheningan, antara kata dan makna.
Ulasan Singkat
Puisi Rumi ini adalah perjalanan spiritual yang penuh simbol. “Tersesat” bukan berarti hilang arah secara fisik, melainkan kehilangan makna, kehilangan pusat. “Pemabuk” adalah simbol jiwa yang larut dalam cinta Ilahi, bebas dari aturan dunia. “Seratus taman cerah” menggambarkan keluasan batin yang tak terbatas. Dan dilema antara kata dan diam adalah inti dari pengalaman mistik: kadang kata-kata tak mampu menampung kedalaman rasa.
Esai ini mengajak kita untuk membaca puisi bukan sekadar sebagai teks, melainkan sebagai cermin perjalanan batin. Rumi menulis bukan untuk memberi jawaban, melainkan untuk menyalakan api pencarian dalam diri kita.
