Negeriku hari ini seperti halaman buku yang penuh coretan. Ada kalimat keadilan yang tercoret, ada tanda tanya besar di margin kemanusiaan, dan ada air mata yang jatuh di sela-sela paragraf kehidupan. Kita hidup di masa ketika kabar buruk datang silih berganti, seolah tak memberi jeda bagi hati untuk bernapas.
Ketidakadilan terasa begitu dekat. Ia hadir dalam berita, dalam percakapan sehari-hari, bahkan dalam diam yang panjang. Ada saat-saat ketika kebenaran terasa terbalik: yang bersuara lantang merasa paling benar, yang terluka justru harus membela diri. Penjahat menuntut hak dengan percaya diri, sementara korban berjalan tertunduk, membawa luka yang belum sempat sembuh. Semua itu bukan sekadar cerita, tetapi potret getir yang pelan-pelan menggerus kepercayaan.
Alam pun seakan ikut menangis. Bencana datang silih berganti, bukan semata karena murka langit, tetapi sering kali karena kelalaian manusia sendiri. Hutan ditebang tanpa rasa, sungai diperlakukan seperti tempat sampah raksasa, tanah dipaksa menanggung beban yang tak semestinya. Ketika banjir datang dan tanah longsor merenggut segalanya, kita baru sadar: alam tidak pernah berkhianat, manusialah yang sering lupa batas.
Namun, di tengah carut-marut itu, aku masih ingin percaya. Bahwa negeri ini belum kehilangan nuraninya sepenuhnya. Di balik kebisingan, masih ada orang-orang yang memilih jujur meski sunyi, memilih adil meski sendirian, memilih peduli meski tak disorot kamera. Mereka mungkin tak viral, tetapi merekalah denyut harapan yang menjaga negeri ini tetap hidup.
Mencintai negeri bukan berarti menutup mata dari lukanya. Justru sebaliknya, cinta membuat kita berani mengakui bahwa ada yang keliru dan perlu dibenahi. Kritik yang lahir dari kepedulian bukanlah kebencian, melainkan doa yang disampaikan dengan kata-kata.
Aku menulis ini bukan untuk menghakimi, apalagi menuding. Aku menulis karena aku bagian dari negeri ini. Aku menulis karena diam terlalu mahal harganya, dan putus asa bukan pilihan. Semoga suatu hari nanti, halaman-halaman kelam ini bisa kita baca kembali sebagai pengingat bahwa kita pernah hampir kehilangan arah, namun memilih untuk kembali pulang pada keadilan, kemanusiaan, dan akal sehat. Negeriku sedang luka. Tetapi selama masih ada yang peduli, luka itu masih mungkin disembuhkan.
Catatan Akhir
Tulisan ini lahir dari kegelisahan, bukan dari kebencian. Dari cinta yang belum selesai, bukan dari amarah yang ingin dilampiaskan. Jika ada nada lirih di dalamnya, itu karena negeri ini terlalu berharga untuk dibicarakan dengan teriakan.
Aku sadar, negeri tidak dibangun oleh satu tangan, dan kerusakan pun bukan ulah satu wajah. Karena itu, catatan ini tidak mencari siapa yang harus disalahkan, melainkan siapa yang masih mau menjaga. Menjaga kata, menjaga sikap, menjaga nurani—di tengah zaman yang sering menguji kesabaran dan kejujuran. Barangkali kita tak selalu mampu mengubah keadaan besar. Namun kita selalu punya pilihan untuk tidak ikut memperparahnya. Berlaku adil meski kecil, jujur meski sepi, peduli meski tak dihitung. Dari hal-hal itulah negeri ini diam-diam diselamatkan.
Jika suatu hari tulisan ini dibaca kembali, semoga ia tidak hanya menjadi arsip kegelisahan, tetapi juga saksi bahwa pernah ada generasi yang memilih tetap waras, tetap berharap, dan tetap berdoa meski keadaan tak selalu ramah. Karena pada akhirnya, negeri ini bukan hanya soal tanah dan aturan, tetapi tentang manusia-manusia yang masih mau bertanya: apa yang bisa aku perbaiki, mulai dari diriku sendiri?
