Lapor Pak! episode Inaya Wahid membuat penulis tertawa sekaligus degdegan menontonnya. Bagaimana tidak, pasalnya mereka menyajikan satir komedi yang padat hampir tanpa jeda. Seperti biasa, telah populer di masyarakat bahwa Lapor Pak! menjadi model komedi masa kini yang mempertontonkan kecerdasan, kemampuan analisis, realita dan spontanitas.

Lapor Pak! dikenal sebagai gaya seni yang menunjukkan simulasi aparat penegak hukum di Indonesia. Mereka mengangkat kasus-kasus yang sedang ramai diperbincangkan masyarakat dan memparodikannya. Skenarionya sering menggabungkan antara fakta dengan harapan masyarakat, yang mengalami kesenjangan.
Para talent menunjukan kemampuan masing-masing individu mereka. Menyampaikan dan mewakili isi hati masyarakat, serta harapan untuk penegakan hukum di Indonesia. Hal unik terjadi ketika bintang tamu yang didatangkan adalah Inaya Wahid, ia berperan sebagai wartawan saat itu.
Inaya habis-habisan menanyai para polisi yang sedang bertugas dalam memecahkan masalah. Bertanya tentang banyaknya persoalan yang sedang terjadi, namun tak kunjung di tangani oleh para polisi di kantor itu. Diantara padatnya satir yang mengisi segmen tersebut, ada 4 statement yang faktanya cukup miris di masyarakat.
1. Tarif Layanan Polisi
“Padahal kalian pasang tarif deh, untuk menyelesaikan kasus semacam ini berapa rupiah, laporin ini harus bayar berapa. Pampang aja.”
Inaya Wahid sangat menyentuh hati penulis. Banyak oknum yang memanfaatkan kesulitan masyarakat, sehingga mereka mematok tarif untuk menyelesaikan sesuatu. Padahal kita adalah masyarakat yang berdiri di negara hukum, dan memang sudah berhak mendapatkan pelayanan selayaknya negara hukum itu dibuat.
2. Anak Presiden
Hal menarik terjadi saat Inaya Wahid ditanya mengenai latar belakangnya. Ditanya oleh talent lain, mengapa profesi dia menjadi wartawan, bukan yang lain. Inaya Wahid dengan gayanya sambil membawa alat tulis menjelaskan kepribadian yang sebenarnya.
“Harusnya anak presiden jadi wapres, bukan jadi wartawan.”
Satir yang ini sudah tidak asing lagi di mata publik. Model komedi ini pula yang membuat Panji Pragiwaksono menuturkan bahwa, sebenarnya apa yang dilakukan Wendi Cagur dan teman-teman lebih vokal dan lebih berani dari pada mereka yang berprofesi sebagai stand up comedy di Indonesia. Karena mereka dinilai menyajikan satir yang lebih tajam dan berani.
3. Komedi Serius
Kini giliran Ayu Tingting dan Andhika yang memang sebagai pendatang di dunia komedi. Mereka mengawali karir tidak dari komedi, tapi mereka juga semakin cerdas, terarah, dan larut di dalamnya. Ayu yang berperan sebagai office girl selalu merasa ketakutan jika kantor sedang menangani kasus besar.
“Apaan sih pak Dika, ini kan komedi.” Tutur Ayu.
Andhika menyahut dengan lantang, “Memang ya, komedi di seriusin. Tapi yang serius dijadiin komedi.”
Menurut penulis, satir ini menunjukkan respon atas banyaknya kasus besar di Indonesia yang seringkali terbengkalai dan perlahan dilupakan publik. Tak heran jika kepercayaan masyarakat mungkin naik turun terhadap kepolisian. Terkesan adanya keberpihakan, penyelesaian kasus yang bertele-tele, atau dugaan petinggi-petinggi yang terlibat di dalam beberapa kasus.
4. Survei Kepuasan
Bab yang paling menohok dan menjadi sorotan penulis ketika Inaya Wahid sebagai wartawan bertanya dan ingin melakukan validasi atas hasil survei yang dia temukan. Yakni survei tentang kinerja kepolisian. Sebab menurut Andhika, masyarakat merasa puas dengan pelayanan mereka hingga 98% tingkat kepuasan.
Hati penulis kembali tergelitik karena Inaya Wahid kembali mempertanyakan, apakah pengisi survei itu benar-benar manusia atau bot. Penulis sering belajar dari sitkom Lapor Pak! Tentang betapa banyaknya kenyataan hukum di Indonesia yang timbang dan mengalami kesenjangan.
Mereka mengupasnya dan menampilkannya di televisi. Penulis sebagai masyarakat sendiri merasa terwakili. Jadi keberadaan mereka sangat memacu penulis, untuk tidak diam saja jika di negara terjadi sesuatu.
Lpor Pak! Memberikan gambaran bahwa siapapun berhak bersuara dengan cara apapun termasuk kita sebagai masyarakat. Mengemukakan pendapat dan harapan tanpa kritik berlebihan. Sebab suara masyarakat bisa menjadi indikator apakah regulasi yang dibuat sesuai atau tidak.
