Berfoto bersama alm. Epy Kusnandar (dokumen pribadi 2021)
Kabar kepergian Epy Kusnandar atau yang lebih kita kenal dengan sebutan “Kang Mus”, bukan hanya menyisakan duka di dunia perfilman. Saya pribadi tanpa sadar sempat menitikan air mata ketika kemarin siang mendengar kabar kepergiannya.
Sebagai orang biasa yang pernah mengenal Kang Muslihat dan bersama-sama dalam sebuah Project iklan sebuah Bank swasta di Jawa Barat tahun 2021, bisa berbincang dengan Kang Mus di sela-sela pekerjaan adalah hal yang luar biasa. Begitu banyak pelajaran yang bisa saya dapatkan dari almarhum.
Kesan Mendalam dari Sosok Kang Mus
Berinteraksi langsung dengan kang Mus selama pengerjaan proyek berlangsung banyak kesan yang sukar dilupakan, membuat dada sesak ketika mendengar kabar kepergiannya.
Bagi saya, bahkan siapapun tentu sepakat, bahwa Kang Mus bukan hanya sosok aktor pemeran senior yang rendah hati. Lebih dari itu, ia memiliki perilaku yang santun kepada orang-orang yang baru ditemui. Pada fans yang tiba-tiba bertemu di jalan, pada saya yang tiba-tiba terlibat dalam penulisan naskah skenario iklan dengan Kang Mus sebagai pemeran utamanya.

Dalam kehidupan sehari-hari, ia tidak mau disebut sebagai artis. Kang Mus beberapa kali bilang, “saya hanya orang biasa.”
Ada satu kejadian yang begitu berkesan dan tidak dapat saya lupakan: ketika kami pertama kali bertemu dalam meeting pertama. Kami bertemu di kantor I-Swara yang waktu itu masih bernama I-Radio Bandung sebagai titik kumpul. Kang Mus datang bersama Kang Dodi (sutradara Ojek Pengkolan). Saya dikenalkan oleh Ronny Urban, dan Kang Mus menyambut dengan sangat ramah. Seperti mimpi saya bisa berhadapan langsung dengan sosok Muslihat dengan gestur sangat ramah.
Dari titik kumpul, kami berangkat menuju lokasi meeting menggunakan mobil Kang Ronny Urban, “biar praktis,” katanya. Saya adalah satu-satunya perempuan yang ada dalam Project tersebut. Kang Mus dan kawan-kawan mempersilahkan saya untuk duduk di kursi samping pengemudi (Kang Ronny Urban penyiar i-Radio Bandung).
Jujur, kali itu saya sangat merasa canggung. Sebab harus duduk di depan membelakangi para orang hebat. Di belakang saya ada Kang Mus, Kang Dodi Sanjaya, Kang wanda Urban dan Kang Elmy Urban.
Selama perjalanan menuju tempat meeting, perbincangan hangat ala komedian Urban pun muncul. Tawa canda yang ada membuat canggung saya berkurang. Lantas, saya memberanikan diri untuk berkata, “Akang-akang, jujur saya merasa tersanjung dan merasa bangga berada di sini hari ini. Namun rasanya saya malu, saya bukan siapa-siapa sementara Akang semua sudah pada hebat dan melanglang buana.”
Namun tahukah, apa yang dikatakan Kang Mus saat itu? Kang Mus berkata, bahwa saya tidak perlu minder karena saya, kang Mus dan semua yang ada di dalam mobil rombongan itu memiliki satu kesamaan yaitu sama-sama didoakan oleh seorang ibu.

“Dian, jangan minder! Akang dan Dian juga semua yang ada di sini memiliki sebuah kesamaan yaitu sama-sama didoakan oleh ibu kita masing-masing. Karena doa ibu kita masing-masing, kita berada di sini. Akang bisa ketemu dengan Dian, Dian bisa bertemu dengan Akang, itu karena doa ibu kita.” Katanya. Kalimat itu disampaikan benar-benar ala Kang Muslihat kalau sedang bicara. Sampai sekarang terngiang-ngiang di telinga.
Pernah Bilang Ingin Belajar Menulis Cerita
Pada kesempatan lain, kamus pernah berkata bahwa ia ingin belajar menulis kepada seorang Diantika IE. Ia punya mimpi ingin menuliskan kisah hidupnya sendiri. Namun karena berbagai kesibukan, pertemuan untuk menyengaja “diskusi soal menulis” itu tidak kunjung datang.
“Akang insyaallah akan jadi kuncen di Kamojang. Ke tempat Dian jadi dekat. Kapan-kapan Akang ingin belajar membuat cerita,” katanya.
Oh iya, Kang. Terima kasih karena Akang sudah pernah bertemu dengan novel Handaru dan membacanya. Saya bangga, bawa karya saya pernah dipegang dan diberikan review positif oleh Akang.
Mudah Mengingat Wajah
Hal lain yang tidak lepas dari ingatan adalah ketika kang Mus bisa mengingat wajah saya walaupun baru satu kali bertemu. Setelah pertemuan meeting itu, kami kembali ke aktivitas masing-masing sambil menunggu jadwal proyek dimulai.
Saat itu saya masih menjabat sebagai kepala sekolah di daerah Ibun. Daerah yang tidak jauh dari lokasi proyek Kang Aris Nugraha (pembukaan lahan untuk sebuah projek bangunan) di Samarang Garut.
Ketika itu saya sedang berdiri di depan sekolah menunggu ojek. Saya memakai masker karena bersiap pergi. Tiba-tiba ada yang berteriak memanggil nama saya sambil lewat, “Dian…!” katanya. Motornya berhenti sejenak di kejauhan. Ternyata itu kang Mus yang akan bepergian menggunakan ojek juga. Ia pun menggunakan masker karena masih masa new normal. Kang Mus pun pergi kembali sambil melambaikan tangannya, seolah berpamitan dari kejauhan.
Beberapa saat kemudian, Kang Mus mengirim pesan WA, “Maafkan Akang tidak mampir. Akang lagi buru-buru ke suatu acara. Sengaja naik ojek lewat sana biar cepat,” katanya.
Tidak Ingin Diistimewakan
Sebagai seorang yang dikenal luas oleh masyarakat sebagai sosok aktor senior, kang Mus tidak ingin diistimewakan. Ia bahkan tak segan memberikan tempat duduknya kepada yang lain. Bahkan ketika akan menyeberang jalan, kang Mus malah orang yang dengan sigap menyetop kendaraan yang melintas dan mempersilahkan kami semua untuk menyebrang secara bersamaan. Seperti petugas penyelamat yang menyebrangkan anak-anak ketika pulang sekolah. He he.

Banyak lagi kenangan berkesan yang dirasakan dengan kang Muslihat meskipun hanya bersama dalam penggalan babak kehidupan saya yang singkat.
Akan tetapi, caranya bersikap, caranya berkomunikasi dan caranya memperlakukan orang lain selama ada dalam projek yang sama, kang Mus adalah sosok yang menurut saya bukan hanya baik hati tetapi ia pun seseorang yang rendah hati dan sangat layak untuk diteladani sebagai seorang aktor.
Ingin Hidup Lebih Baik di Masa Tua
Ketika adzan berkumandang ia pun akan meminta kami mencari amsjid untuk menunaikan solat. Di sela-sela pekerjaan, kang Mus pernah berkata, “Dian doakan Akang sebentar lagi akan menjadi mapan.”
Saya pun langsung menjawab, “Sekarang juga Akang sudah mapan kan? Apalagi yang Akang pikirkan?”
Setelah kang Mus menjelaskan, ternyata saya baru paham bahwa yang dimaksud mapan itu adalah usia “lima puluh delapan”. Ia berpikir bahwa ia harus lebih baik lagi karena usianya sudah menjelang 58.
Projek teaser iklan selesai. Namun keramahan Kang Mus tidak berubah. Sesekali ia masih menyempatkan mampir di postingan saya, masih merespon komentar di media sosial atau sekadar membaca, membalas atau sekadar menambahkan like pada komentar saya.
Selamat Jalan Kang Mus…
Saya bersaksi bahwa Akang orang baik hati, orang yang rendah hati dan tak pernah melupakan jasa ibu kandung sendiri. Semoga Allah menerima amal ibadah Akang. Kebaikan Akang akan selalu saya ingat.
Allahummagfirlahu warhamhu waaafihi wa’fuanhu. Semoga Allah menempatkan Akang di tempat yang terbaik di sisi Allah Subhanahu wa Taala. Aamin Allahuma Aamiin.
*Artikel sudah tayang di Kompasiana
