Aku yang jatuh dalam pekat janji semu,
Menggenggam cahaya palsu dari bibir yang beku,
Kupeluk harap, ternyata duri menyelinap di kalbu,
Kutimba doa, yang naik hanya gemetar pilu,
Langit kucari, yang turun abu-abu kelabu,
Hatiku jadi laut karam oleh angin semu.
Kau lukis surga di kelopak mataku yang lugu,
Namun kaubakar musim saat bunga baru bertamu,
Kata-katamu madu, menyaru jadi racun bertalu,
Setiap senyum menjelma pisau yang mengoyak rindu,
Aku menanak setia di tungku yang kelu,
Lalu kausajikan sunyi sebagai jamu.
Telah kupungut serpih diriku dari lantai waktu,
Yang kaurempahkan diam-diam di lorong restu,
Kulebur tangis menjadi doa yang membatu,
Kupahat sabar pada dinding hari yang kelu,
Rasaku jadi debu beredam dalam badanku,
Namun nyeri tetap bernyanyi di dadaku.
Lelahku menjelma senja berarak di bahu,
Mengusung matahari patah ke ujung kelabu,
Kuajarkan jantung berjalan tanpa baramu,
Kutarik simpul rindu dari nadi yang beku,
Kubiarkan namamu jatuh jadi bisu,
Agar malam memberiku jeda yang syahdu.
Dan bila esok lahir dari luka yang bisu,
Kutulis diri sebagai doa yang bertamu,
Tak lagi kupercaya cahaya yang memalsu,
Kupilih sunyi sebagai guru yang setia memandu,
Dari keplantrang bangkit aku, utuh dan baru,
Perempuan pulang dengan sayap dari debu.

Hemmmm keren ……