Bagiku, sebagai seorang perempuan biasa yang menikah dan menjadi ibu di usia muda, keputusan ini adalah langkah yang besar. Aku tahu menemani anak dalam fase Golden Age atau usia emas adalah waktu yang sangat berharga, meski aku sering merasa tertinggal dari teman sebayaku. Tapi aku yakin, Tuhan tak pernah salah memilih kepada siapa menitipkan tanggung jawab dan kepercayaan.
Menjadi ibu adalah perjalanan hidupku yang paling sulit. Lahirnya anakku adalah lahirnya kepribadianku yang baru ke dunia, yakni menjadi ibu. Fase yang sangat sulit, berat dan penuh tantangan.
Aku sendiri secara pribadi, tak pernah terang-terangan menyarankan teman-temanku untuk cepat menikah dan punya momongan. Sebab aku menyadari, memiliki pasangan dan buah hati secara bersamaan, tidak semudah yang dibayangkan.
Benar kata Bintang Emon, “Menjadi pasangan yang baik saja saya masih belajar, apalagi jadi orang tua?”
Ditengah banyak perasaan yang berkecamuk atas kehidupanku yang dirasa tertinggal jauh dari teman-teman. Aku selalu ingat bahwa ini pilihanku, hidupku, dan keputusan yang aku rasa tak pernah salah. Menunda banyak hal, untuk menghidupkan mimpi anakku, individu baru yang masih sangat butuh aku.
Banyak perkembanganan anakku yang tidak disadari orang lain. Banyak yang bilang kalau anakku pasti akan cerdas, “Pantas memang kalau dia cerewet dan pintar, kakek neneknya sekolah tinggi, mana mungkin anaknya cucunya biasa saja.”
Kadang aku sering bergumam, betapa tersisihnya aku sebagai ibu yang hanya di rumah saja. Kadang orang hanya menilai latar belakang ayahnya yang cerdas dan secara otomatis akan turun pada anaknya, padahal seharusnya pandangan mereka tidak sesempit itu. Karena tak sepenuhnya peran ayah menemani belajar dan bermain anak, bahkan sibuknya dan aktivitas yang padat kadang membuatnya minim interaksi dengan anak.
Mereka melupakan aku, ibunya yang hanya ibu rumah tangga. Ibunya yang serius membentuk karakter dan pola asuh untuk anaknya. Mereka tidak tahu sejak enam bulan usia anakku, usia itu juga aku membeli banyak mainan dan buku penunjang perkembangan anak, hingga sekarang anakku hampir berusia tiga tahun.
Senang Bersosialisasi

Banyak hal yang membuatnya selalu ingin tahu, termasuk caranya bermain dengan anak lain. Uniknya bukan hanya dengan anak-anak di sekitar rumah, anakku menyukai banyak kegiatan yang dilakukan orang dewasa. Seperti kegiatan yang dia sukai selama berinteraksi dengan kakek dan neneknya, yakni memberi makan hewan, juga kegiatan sederhana seperti belanja ke warung dekat rumah mertua.
Kegiatan bersosialisasi ini mulai dilatih sejak dari rumah. Anak diajarkan untuk berinteraksi dengan ayah dan ibunya untuk mencontohkan, cara dia bermasyarakat. Mulai dari berbagi, merasakan perasaan orang lain, merasa kasihan, tidak tertawa ketika temannya menangis, dan sebagainya.
Kami terapkan cara bersosialisasi di rumah dengan sederhana agar anak bisa mengerti cara berinteraksi dengan orang lain dan menghargai teman sebayanya. Kami sebagai ayah dan ibunya kadang melakukan simulasi menjadikan diri kami sebagai temannya. Dalam beberapa kesempatan kami memberinya perlakuan sebagai seorang teman, teman yang jadi media berbagi dan melatih empati.
Mengekspresikan Diri

Di usia tiga tahunnya ini emosinya memang belum benar-benar stabil. Tetapi anak mulai mampu mengungkap dan merasakan apa yang dia alami. Anak mulai mengatakan keinginannya untuk buang air, memilih baju yang akan dipakai dan mulai suka bercermin.
Pengungkapan perasaan di usia golden age ini berdampak pula pada cara anak mengekspresikan diri di hadapan orang lain. Termasuk caranya berekspresi di depan kamera, anak mulai mengenal dirinya, percaya diri, dan penuh energi. Anakku suka kamera, dan tak jarang menggunakan ponselku dengan kamera depannya, meski tak terlihat sempurna tapi dia sudah mengerti fungsi dan cara menggunakannya.
Menceritakan Peristiwa yang Telah Berlalu

Motivasi kami sesekali mengajaknya keluar rumah adalah kemampuan istimewanya yang menggemaskan. Anak kami punya daya ingat yang mampu menyimpan dengan detail kegiatan kami di suatu hari bersamanya. Setelah bepergian dengan ayah dan ibunya, maka ia akan menceritakan kembali setelah pulang dengan raut wajah yang antusias.
Jika seseorang mengulasnya, dia selalu mengungkapkan bahwa dirinya pernah pergi ke tempat itu bersama ayah dan ibunya. Jadi, bercerita atau membuat janji dengan anakku pasti akan diingat, sebab peristiwa yang lalu akan selalu dia ceritakan dalam beberapa waktu ke depannya. Rasanya perkembangannya sangat berharga, dan aku bersyukur bisa menemani usia emasnya.
