Udara pagi di Cimahi selalu punya cara sendiri untuk menyapa. Ada kesejukan yang merayap pelan dari pepohonan, ada kabut tipis yang menggantung di antara rumah-rumah, dan ada suara ayam yang bersahut-sahutan dari kejauhan. Di tengah semua itu, aku duduk di meja kayu sederhana, ditemani secangkir kopi hitam yang baru saja kuseduh. Kehangatan uapnya seolah menjadi jembatan antara dunia luar yang dingin dan ruang dalam yang penuh keintiman.
Sarapan sederhana menunggu: semangkuk oatmeal dengan taburan pisang dan sedikit madu. Aku selalu percaya bahwa makanan hangat di pagi hari bukan sekadar pengisi perut, melainkan pengantar suasana hati. Ada rasa syukur yang tumbuh dari hal-hal kecil seperti ini, seakan tubuh dan pikiran diberi kesempatan untuk memulai hari dengan tenang.
Setelah itu, aku membuka sebuah buku yang sudah lama menunggu di rak. Membaca di pagi hari memberi ruang bagi imajinasi untuk berkelana sebelum dunia riuh kembali. Kata-kata di halaman pertama langsung menyalakan percikan rasa ingin tahu. Aku tersenyum, mengingat betapa sering aku menunda membaca buku ini, padahal ia sudah lama menatapku dari rak seakan berkata: “Saatnya kau membuka aku.”
Kadang, aku merasa perlu keluar rumah hanya untuk merasakan udara segar Cimahi. Jalan kecil di sekitar kampung membawa langkahku ke sebuah kafe sederhana. Di sana, aku duduk dengan cappuccino hangat, membuka beberapa bab buku, dan membiarkan waktu berjalan tanpa tergesa. Ada kebahagiaan yang lahir dari kesunyian, dari melihat orang-orang lalu lalang, dari merasakan bahwa hidup bisa berjalan pelan tanpa kehilangan makna.
Dalam perjalanan pulang, aku singgah sebentar ke perpustakaan kota Cimahi. Rak-rak buku yang berjajar rapi selalu membuatku merasa seperti anak kecil di toko permen. Aku memilih satu-dua buku untuk dibaca sekilas, bukan karena aku kekurangan bacaan, melainkan karena setiap buku baru adalah janji akan pertemuan dengan dunia lain. Seperti buku Kisah Mawar Pandanwangi
Penulis: Sori Siregar & Tim S. Sudjojono Center
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal : 134 halaman
Terbit : 2017
Cover : Softcover
Rose Pandanwangi, berjudul Kisah Mawar Pandanwangi. Meski dihadirkan dalam dua bentuk terpisah, menarik membaca kedua buku ini secara berurutan.
Dalam buku yang ditulis , kita diajak mengikuti cerita-cerita tentang pengalaman-pengalaman dan pandangan-pandangan sang pelukis terkait seni dan lainnya. Misalnya, sang maestro membeberkan lima syarat penting yang menurutnya harus dimiliki pelukis untuk mencapai hasil yang bagus. Sudjojono menulis begini:
Seorang pelukis mencapai hasil yang bagus kalau dia punya kebisaan lima syarat penting:
Pengertian tentang mana yang benar dan tidak benar dalam lukisan (visi);
Pengertian tentang corak;
Punya kepercayaan diri, bahwa dia bisa menggambar;
Pengetahuan seluas mungkin dan
Keberanian dalam banyak soal. (halaman 157)
Menjelang sore, rumah kembali menjadi pusat kehangatan. Istriku sibuk di dapur, anak-anak berceloteh tentang hari mereka di sekolah. Makan bersama dengan menu ayam goreng sambel ijo.
Aku sering berpikir bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar. Ia justru bersembunyi di balik rutinitas sederhana: secangkir kopi, halaman buku, obrolan ringan di meja makan. Di Cimahi, dengan segala kesederhanaannya, aku belajar bahwa hidup bisa menjadi catatan panjang yang indah bila ditulis dengan rasa syukur.
Pagi ini, aku menutup catatan dengan satu kesadaran: dunia mungkin terus bergerak cepat, tetapi aku memilih berjalan pelan. Aku memilih menikmati aroma kopi, suara anak-anak, dan halaman buku yang terbuka. Karena di sanalah, di antara hal-hal kecil, aku menemukan rumah bagi jiwa.
—
