Dedi Supriadi dan Yayah Rodiah/ Kedua Mertua (Sumber: FB/ Iod Iyoy)
Kedua mertua saya kerap memberi contoh yang baik, bagi saya itu sudah lebih dari sekadar harta. Mereka sangat sederhana dan rendah hati. Melalui sikap yang ditampilkan setiap hari, membuat saya sangat terkesan dan bangga dibuatnya.
Dalam sebuah buku berjudul Reset Indonesia, ada satu kalimat yang cukup menyentuh bagi. Ada satu penggalan kalimat dalam sebuah halaman yang menuliskan pengalaman seorang petani yang menolak kebun dan hutan yang dimilikinya dibeli oleh investor. Menurutnya, berapa miliar pun hari ini tidak bisa menggantikan panen berbagai komoditas yang ia miliki selama 5 tahun kedepan.
Ia menolak berdasarkan pengalaman teman-temannya yang memutuskan untuk menjual kebun dan hutannya untuk uang. Kabarnya, mereka menyesal karena uang memang habis di waktu yang singkat, sedangkan alam menyediakan berbagai hal yang tidak bisa di nominalkan. Seperti kepuasan batin, ketenangan, dan manfaat berkelanjutan lainnya.
Ia percaya bahwa sumber air, oksigen, habitat hidup berbagai makhluk di muka bumi, adalah sesuatu yang sangat mahal dan harus diwariskan pada anak dan cucu manusia. Berbarengan dengan itu saya melihat betapa interaksi manusia dengan alam sangat indah, bukan hanya tentang budidaya dan kasih sayang petani pada tanamannya. Melainkan melibatkan adab, perilaku bersahaja, cinta, dan kebersihan jiwa.
Lantas pemikiran ini saya selami, rasanya petani dalam buku itu benar. Biarpun dunia menganggap bahwa para petani di Indonesia memiliki tingkat kesejahteraan yang rendah, namun mereka memiliki jiwa yang kaya. Mereka telaten, cenderung sangat sabar, jiwa sosial yang erat, sederhana dan bersahaja.
Lebih lagi, para petani di desa yang betul-betul memanfaatkan tanahnya untuk sumber pangan sehari-hari.
Saya menemukan kesedehanaan dan jiwa bersahaja ini pada orang terdekat di lingkungan saya, yakni bapak mertua saya bernama Dedi Supriadi dan Yayah Rodiah. Kedua mertua saya ini pernah meminta maaf atas nama anaknya, sebab mereka tak bisa mewariskan banyak hal, terutama kebun dan sawah seperti yang orang tua lain berikan. “Jangan berharap banyak, kami tak punya apa-apa,” Ujarnya.
Namun saya justru merasakan bahwa mertua saya dan keluarganya akan mewariskan banyak hal yang lebih istimewa dari harta. Satu hal yang sangat istimewa, mertua saya suka menanam dan memelihara banyak tanaman yang hasilnya sering dibuat percuma dengan membagi-bagikannya ke tetangga. Selain memiliki sifat yang telaten dalam melakukan banyak hal, mertua saya juga keduanya memiliki jiwa sosial yang tinggi.
Menurut saya, menampilkan contoh menjadi manusia yang baik, sudah lebih dari sekadar harta.
Berkat bapak, keluarga kami mengalami beberapa kali panen buah-buahan. Mulai dari Pisang, Nangka, Jambu air, Belimbing, Petai, sampai mengolah Singkong. Pekarangan Bapak memang tidak luas, hanya sepetak dua petak, namun pohon tumbuhan ada banyak di sana.
Panen bersama bapak kerap kali menggembirakan, sebab bapak pernah berkelakar bahwa semua tanaman yang bapak tanam akan ia biarkan tumbuh dan berbuah khusus dibudidayakan untuk anak dan cucunya. Sama seperti prinsip petani yang tak menjual tanahnya pada siapapun, ia mempertahankan untuk anak cucu ke depan. Lebih dari itu, mertua saya ini suka sekali berbagi, termasuk membagikan hasil panen tanamannya.
Akhirnya, bapak saya bukan saja mewariskan pepohonan sebagai sumber daya alam dari orang tua pada kami. Tetapi kami juga dituntun soal adab dan jiwa sosial oleh mereka. Mereka kerap membagi-bagikan apapun yang mereka punya.
Kadang ketika musim buah, para tetangga tak usah membeli, sebab sudah banyak diberi oleh bapak.
Jika ada pepatah berbunyi, “Rezeki datang melalui tiga hal. Pertama dengan dicari, kedua karena Allah memberi, ketiga dengan berbagi.” Sedangkan saya lihat bapak dan mama melakukan ketiganya.
Akhirnya saya dan anak saya sebagai cucunya sering mendapatkan banyak keajaiban yang saya lihat mungkin berasal dari kebaikan bapak dan mama. Kami sering mendapat kiriman berupa bingkisan dari orang lain ke rumah, berupa makanan, buah, bahkan beras. Saya mempercayai, bahwa memang rezeki bisa datang setelah seseorang berbagi. Kami mudah menyimpulkan sebab orang sekitar, memberi bapak sesuatu dengan alasan bahwa bapak juga pernah berbuat demikian pada mereka.
Jadi bagi saya, bapak dan mama bukan hanya sekedar mewariskan sumber daya hayati pada kami. Melalui membagikan buah-buahan hasil panennya, bapak memberi contoh dan tata cara menjadi manusia pada kami. Karena bukan hanya berbagi hasil panen, secara tidak langsung bapak pun berbagi kebahagiaan pada sesama.
Saking terbiasanya kebiasaan bapak dan mama berbagi, kami sebagai anak dan cucunya sudah tak heran dan tak berkeberatan sama sekali dibuatnya. Bahkan ketika memiliki apapun yang tiba-tiba habis dibagikan, kami tak pernah bertanya apa alasan mereka melakukan hal itu. Konsep yang bapak miliki adalah sesuatu yang sangat indah, karena setelahnya bukan saja kehidupan hari ini yang memberikan manfaat tapi esok dan seterusnya.

Bapak dan mama akan dikenang sebagai orang baik yang sering berbagi. Mewariskan nama yang abadi sebagai manusia yang bukan hanya suka membagikan hasil panennya, namun berbagi kebahagiaan untuk orang banyak. Sehat selalu bapak dan mama, semoga selalu dikelilingi orang baik, yang baiknya sama seperti dirimu.
