Pernikahan tidak sebatas sah dan tidaknya suatu akad karena memenuhi rukun dan syarat. Namun, ada yang perlu diperhatikan lebih dari itu yaitu kesiapan menjalani mahligai rumah tangga. Suami dan istri setelah akad memikul tanggung jawab dunia dan akhirat.
Ketika di dunia keduanya berusaha untuk memenuhi segala hak dan kewajiban agar mampu mencapai sakinah sedangkan di akhirat kelak akan dimintai keterangan bagaimana semua perbuatan yang dilakukan didunia sebagai pasangan.Â
Tugas berat hari ini untuk suami istri adalah mempertahankan rumah tangga dalam berbagai cobaan kehidupan yang serba sulit. Keadaan ekonomi misalkan menjadi salah satu alasan goyahnya ketahanan rumah tangga yang sering saya dapatkan informasi dari rekan kerja di Pengadilan Agama atau teman praktisi hukum (advokat) yang sesekali berbincang perkara-perkara yang sedang ditanganinya.
Masih banyak lagi keadaaan-keadaan yang membuat tujuan dari perkawinan tidak tercapai sehingga stigma negatif perkawinan akan selalu berkembang dan lahir scaryy maried.Â
Menurut data dari Badan Peradilan Agama (Badilag) pada tahun 2023 sekitar 465.063 percerain terjadi di Indonesia yang diajukan ke Pengadilan Agama. Hal ini, sungguh ironis sebagai orang Islam sebab perkara ini semuanya dipastikan dari pasangan muslim.
Fakta ini menjadi bukti bahwa setiap pasangan belum siap menjalani kehidupan rumah tangga. Kemudian, apa sebetulnya persiapan yang harus dimiliki calon suami istri sebelum akad perkawinan? Untuk menjawab pertanyaan itu, saya menawarkan beberapa persiapan untuk calon suami dan istri yang perlu diperhatikan.
Manajemen Diri Sendiri
Pada poin pertama ini calon suami istri diusahakan untuk selesai dengan permasalahan diri sendiri.
Inner child yang sering kita dengan hari ini memang nyata menjadi salah satu masalah.
Hal tersebut merupakan emosi atau kenangan masa kecil yang terbawa sampai dewasa walaupun dalam teori ini ada beberapa pembagian, tapi fokus kita adalah inner child yang memberikan dampak negatif bagi seseorang ketika dewasa.
Seperti dahulu mungkin saja saat masa kanak kanak sering dimarahi orang tua sehingga terbawa sampai dewasa. Akibatnya tidak ada rasa percaya diri. Atau ketika kanak kanak tidak diberikan kesempatan untuk memilih keinginan yang diharapkan, akibatnya menjadi suami atau istri yang tidak mampu mengambil keputusan.Â
Sikap dan prilaku pribadi yang menjadi kebiasaan sehari hari perlu diperhatikan sebelum menikah. Hal hal kecil yang luput dari perhatian seperti contoh terkecil kebersihan diri sendiri yang menyebabkan pasangan kita nanti merasa tidak nyaman saat berdekatan.
Jika hal hal kecil dari sekarang sudah diperbaiki pelan pelan, maka akan menjadi kebiasaan yang baik. Selanjutnya bisa memfokuskan pada hal hal kebiasaan yang kurang baik saat kelak menjadi suami atau istri.Â
Bahkan, dalam poin ini yang tak kalah penting adalah tentang tanggung jawab dan pengelolaan emosi. Kedua hal ini berkaitan erat sebab kelak jika sudah menjadi suami istri ada tanggung jawab yang berkaitan dengan emosi. Kelak, ketika pulang kerja dan sudah menjadi suami rasa lelah dan kerumetan ditempat kerja jangan dibawa kerumah. Sebab, jika dibawa maka akan menjadi masalah dalam keluarga.
Maka dari itu, manajeman diri ini sangat penting untuk memilah mana tanggung jawab dan pengelolaan emosi demi tercipta kerukunan dalam berumah tangga.Â
Manajemen Keuangan
Perbincangan yang sering dipertanyakan adalah calon suami atau istri memiliki pendapatan darimana. Pekerjaan yang selalu dipertanyakan oleh pihak keluarga dan kerisauan yang terkadang hadir saat ingin menikah.
Tidak salah jika pertanyaan itu selalu ada, sebab pendapatan merupakan faktor berjalannya kehidupan rumah tangga. Saat pagi hari, biasanya seorang suami ingin disiapkan sarapan dan itu didapatkan dengan cara kita membeli bahan bahan masakan dengan uang.
Istri yang ingin selalu ingin membeli segala kebutuhannya atau rumah bahkan anak yang harus disekolahkan. Semuanya membutuhkan uang sebagai alat tukar untuk memenuhi segalanya tentunya diharapkan pencarian pendapatan melalui cara yang halal dan berkah.Â
Suami istri selain fokus untuk memenuhi kebutuhan harus fokus juga menabung untuk prospek kedepannya. Ada beberapa cara untuk melakukan itu, bisa menabung dengan melalui emas untuk menjaga nilai uang atau cara investasi lainnya yang bisa terukur segala resikonya.
Saran, pilihlah sesuai kebutuhan dan kemampuan setiap keluarga sebab kita tidak tahu kedepannya ada masalah apa yang dihadapi dan anggap saja tindakan ini sebagai dana darurat.
Jika mampu menghindari utang maka lakukanlah. Sebab terkadang utang itu menjadi sebab masalah dirumah tangga. Jika utang karena kebutuhan yang primer bukan kebutuhan untuk gaya hidup maka silahkan saja namun perlu didiskusikan dengan pasangan batas nominal yang tidak boleh dilewati.Â
Manajemen Keluarga
Interaksi suami istri dalam rumah tangga membutuhkan komunikasi untuk saling mengerti satu sama lain. Pola komunikasi yang ingin diterapkan dalam rumah tangga bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai.
Terkadang, permasalahan yang timbul dalam rumah tangga gara gara komunikasi yang tidak berjalan. Seperti, istri yang secara alamiah membutuhkan teman dengar (curhat) sebab pada dasarnya perempuan lebih banyak berbicara untuk mengeluarkan emosi.
Sebuah studi yang mengatakan perempuan itu bisa mengerluarkan 11.000 s/d 16.000 kata perharinya. Sedangkan laki laki tidak sebanyak itu. Maka dari itu, disini membutuhkan komunikasi untuk menemukan titik temu satu sama lain.Â
Konsekuensi lain dari perkawinan adalah pembagian peran dalam rumah tangga. Umumnya suami mencari nafkah untuk memenuhi sandang, pangan dan papan sedangkan istri mengelola hasil dari suami dengan sebaik mungkin.
Keunikan Indonesia dengan banyak budaya terkadang setiap daerah memiliki perbedaan peran juga dalam keluarga. Sebagian istri yang keluar rumah untuk mencari rezeki sedang suami dirumah mengelola kehidupan agar bejalan sebaik mungkin.
Perbedaan ini cukup kita terima saja tanpa perlu dikritik apalagi dengan kacamata agama akan terjadi perdebatan yang sangat tajam. Selagi semua peran dijalankan dengan berdasarkan sesuai amanah dan tidak menyalahi nilai nilai sosial maka itu tidak jadi kesalahan yang perlu diperdebatkan.Â
Sendok mah moal paketrok jeng pacul (sendok tidak akan terbentur dengan pacul) merupakan ibarat orang tua sunda dulu yang memberikan pengertian bahwa setiap konflik itu terjadi dengan orang orang dekat.
Dalam keluarga pasti terjadi konflik antara suami istri. Terkadang hal itu disebabkan dari berbagai penyebab mulai dari hal kecil sampai hal serius.
Jika konflik itu bisa diselesaikan dengan 4 mata maka itu bagus namun jika konflik itu cukup tajam sampai kederajat siqaq (konflik yang mengarah kepada peceraian) maka Islam menawarkan nasihat (mau’izhah hasanah) yang dilakukan oleh keluarga besar dari kedua belah pihak (min ahlihi wa min ahliha).
Cara tersebut merupakan sebuah ikhtiar untuk mengelola konflik yang terjadi diantara suami istri dengan tujuan rumah tangga bisa rukun kembali.   Â
 Dari beberapa tawaran persiapan diatas semoga menjadi langkah kecil untuk menjadi calon suami dan istri yang siap menjalani rumah tangga.
Tentunya tulisan ini terinspirasi dari sebuah buku yang berjudul Filsafat Rumah Tangga yang merupakan terjemahan dari kitab Assasiyyah karya Ibnu Sina. Dalam buku tersebut lebih detail dan rinci bagaimana kita harus mengatur segala hal yang berkaitan dengan suami istri dalam membina rumah tangga.Â

