Kata orang lain, menjadi orang tua adalah satu fase belajar seumur hidup. Bagi saya, menjadi orang tua adalah belajar menjadi manusia. Secara teknik, Parenting memang ada kelas dan teorinya, tapi untuk menjadi orang tua yang baik, seseorang harus belajar menjadi manusia terlebih dahulu.
Jika dipelajari menggunakan teori, menjadi orang tua tidak bisa di generalisasi. Anda mungkin bisa mengklaim bahwa diri anda sendiri telah siap menjadi pasangan, dan memiliki pasangan. Tapi, di langkah selanjutnya ketika anda telah melanjutkan ke jenjang berikutnya bagaimana?
Jika suatu saat anda merencanakan memiliki keturunan, apakah memang benar-benar siap menjadi orang tua? Sebenarnya tidak ada manusia yang benar-benar siap menjadi orang tua. Siap menjadi pasangan mungkin bisa diselesaikan oleh diri sendiri, dengan menjadi mapan dan bertanggung jawab.
Ketika menjadi wanita, kita disiplin mempelajari ilmu agama yang baik dan berusaha menjadi perempuan dan istri yang baik. Pengelolaan dan kontrol emosi yang baik, dan segala persiapan dasar perempuan saat menjadi istri. Kelak mungkin semua itu bisa diusahakan oleh masing-masing pribadi.
Ketika belajar menjadi pasangan adalah langkah penyesuaian dengan seseorang, bagaimana ketika kita menjadi orang tua?
Beda situasinya ketika kita menjadi orang tua. Jika dengan pasangan mungkin kita bisa mengendalikan diri kita untuk menjaga perasaannya. Namun ketika menjadi orang tua kita harus mengendalikan diri kita sendiri untuk membangun emosi, karakter, dan perasaan seseorang.
Berat bukan?
Sebagai orang tua, kita yang harus memperlihatkan bagaimana kita hidup, bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain, bagaimana caranya bersosialisasi. Menjadi orang tua adalah contoh, role model menjadi manusia yang baik dihadapan anak kita. Meski beberapa orang telah mempersiapkan banyak hal untuk menjadi orang tua, mereka melupakan satu hal yang penting, yakni naluri.
Lebih dari teori, naluri orang tua bisa dipakai sebagai alat ukur, atau indikator sampai mana anak mulai keluar dari karakternya. Karakter yang telah dibangun oleh orang tua sebagaimana hubungan sesama manusia. Saya sangat menyetujui satu kutipan menarik di sosial media.
” Awalnya saya kira, menjadi orang tua adalah mengajarkan. Tapi justru dengan kehadirannya, Saya banyak belajar banyak hal.”
Memiliki anak justru membuat seseorang menjadi lebih belajar, membuat seseorang justru lebih melihat dirinya sendiri sekarang. Maraknya kasus kekerasan dan pelecehan pada anak, seharusnya yang bertanggung jawab adalah kita orang dewasa. Mereka perlu dijaga, karakternya perlu dibentuk, dan dilindungi.
Saat anak melakukan kesalahanpun, layaknya kita yang harus banyak belajar. Anak tidak akan berperilaku buruk jika lingkungannya terbentuk dengan baik. Lagi-lagi kita sebagai orang tua yang perlu banyak belajar saat anak tumbuh dan berkembang.
Sebagai orang tua, kita harus menjadi contoh, karena mereka melihat banyak hal dari kita. Mereka mempelajari cara kita berinteraksi dengan orang lain. Tugas kita adalah mengendalikan emosi, tutur kata, dan perilaku di masyarakat.
Semua orang tua belajar, menikah dan berpasangan juga terus belajar. Menjadi orang tua adalah belajar untuk hidup, belajar mengelola dan kontrol diri, belajar menjadi manusia, menjadi seseorang yang memperlakukan baik orang terdekatnya. Menjadi orang tua itu berat, namun kehidupan akan membentuk banyak hal.
Kita mengusahakan yang terbaik untuk anak kita, membentuk karakter kita sekaligus anak kita sebaik-baiknya. Namun sebelum kita benar-benar menularkan pada anak, kita harus menjadi baik, menjadi contoh, banyak belajar. Betapa sulitnya menjadi manusia yang baik, dan anak akan tahu itu dari kita orang tuanya.
Jika terbiasa, anak akan meniru. Tak perlu lagi kita membeberkan teori, dan kehidupan akan berjalan dengan baik ketika anak melihat orang tuanya baik pula.
