Hari itu, Taman Badak seperti panggung kecil yang menyiapkan kejutan untukku. Angin pagi menyapu daun-daun flamboyan, kolam di tengah taman berkilau seperti kaca yang baru saja dipoles, dan bangku batu tempat aku duduk terasa dingin, seolah ikut menahan degup jantungku yang tak karuan.
Aku menunggu seorang perempuan. “Si dia.” Wanita yang pertama kali membuatku berani menunggu dengan rasa yang campur aduk: romantis, lucu, sekaligus menegangkan.
Sebelumnya, aku hanya mengenalnya lewat cerita temanku, seorang tukang buku yang selalu hadir di bazar-bazar. Temanku bilang, wanita itu adalah sahabat istrinya. Aku hanya mengangguk, tak pernah menyangka bahwa perkenalan singkat itu akan mengubah jalan hidupku.
Pagi itu, aku mengirim SMS: “Aku pakai dress batik.” Pesan sederhana, tapi bagiku seperti kode rahasia. Aku duduk di bangku batu depan kolam, membayangkan rupa wanita itu. Apakah ia ramah? Apakah ia akan tersenyum? Atau justru kecewa melihat wajahku yang jelas bukan Anjasmara?
Tak lama, aku melihat seorang perempuan berjalan pelan, celingukan, matanya menyapu sekeliling taman. Ia berhenti di tepi kolam, masih celingukan, seolah mencari seseorang. Saat pandangan kami bertemu, ada getaran aneh yang membuat jantungku berlari lebih cepat. “Tagiwur teu puguh rasa,” pikirku. Deg-degan tanpa alasan yang jelas.
Aku memberanikan diri. “Apakah saudari bernama Tati?” tanyaku.
“Iya,” jawabnya singkat. Wajahnya datar, tanpa senyum. Aku bisa merasakan sedikit kekecewaan di matanya. Mungkin ia berharap bertemu lelaki dengan wajah rupawan, bukan aku yang sederhana ini. Tapi justru di situlah letak ketegangan yang membuat pertemuan ini terasa nyata.
Kami duduk berdua di bangku batu. Aku mencoba mencairkan suasana dengan candaan kecil. “Kalau aku bukan Anjasmara, paling tidak aku bisa jadi tukang ojeg yang setia mengantar.” Ia menoleh, menatapku, lalu tersenyum tipis. Senyum itu seperti matahari yang muncul setelah hujan deras.
Percakapan kami mengalir. Tentang buku, tentang bazar, tentang hal-hal remeh yang tiba-tiba terasa penting. Sesekali aku melontarkan humor receh, dan ia tertawa kecil, menutup mulut dengan tangan. Tawa itu membuatku semakin yakin: ada sesuatu yang tumbuh di antara kami.
Namun, di balik kelucuan itu, ada ketegangan yang tak bisa diabaikan. Aku tahu, setiap pertemuan pertama selalu menyimpan misteri. Apakah ini awal dari sebuah kisah panjang, atau hanya fragmen kecil yang akan segera hilang?
Aku menatap kolam di depan kami. Bayangan pepohonan bergoyang di permukaan air, seperti menari mengikuti irama jantungku. Aku ingin mengatakan banyak hal, tapi kata-kata sering kalah oleh rasa.
Tati menatapku, kali ini lebih lama. “Kamu orangnya beda ya,” katanya pelan.
“Beda gimana?” tanyaku, pura-pura tak paham.
“Ya… bukan seperti yang aku bayangkan. Tapi mungkin justru itu menarik.”
Aku tertawa. “Kalau begitu, biarkan aku jadi kejutan kecil di Taman Badak.”
Ia ikut tertawa, dan untuk pertama kalinya aku merasa lega. Tegangan yang sejak tadi menjerat dadaku perlahan mengendur.
Hari itu, aku menemukan cinta. Bukan cinta yang langsung meledak seperti kembang api, melainkan cinta yang tumbuh pelan, seperti bunga liar di tepi jalan. Lucu karena penuh salah paham, romantis karena ada getaran yang tak bisa dijelaskan, dan menegangkan karena aku tak tahu ke mana arah cerita ini akan berjalan.
Taman Badak menjadi saksi. Di bangku batu depan kolam, aku bertemu dengan wanita yang kelak menjadi istriku. Pertemuan pertama yang sederhana, tapi justru karena kesederhanaannya, ia abadi dalam ingatan.
Dan setiap kali aku melewati taman itu, aku selalu tersenyum. Mengingat pagi yang penuh degup, senyum tipis yang akhirnya muncul, dan cinta yang kutemukan—tak terduga, tapi begitu nyata.
—
