Aku merdeka, katanya.
Sebab pagi ini merah putih kembali dikibarkan,
lagu kebangsaan dinyanyikan dengan lantang,
dan anak-anak berbaris rapi
dengan wajah yang dipoles semangat
tentang sebuah bangsa yang telah lama bebas.
Aku berdiri di bawahnya,
menatap bendera yang menari diterpa angin Agustus.
Lalu diam-diam aku bertanya kepada diriku sendiri—
Benarkah aku merdeka?
Aku merdeka, katanya.
Mengapa kebenaran kadang harus disunyikan
terusikksh telinga orang-orang yang duduk di kursi “sana”?
Mengapa kejujuran terkadang terasa seperti dosa
di negeri yang mengajarkan bahwa kejujuran adalah kemuliaan?
Aku merdeka, katanya.
Tetapi ada yang masih bekerja dari pagi hingga petang
hanya untuk memastikan anaknya esok hari bisa makan.
Ada yang tundukkan kepala bukan karena rendah hati,
melainkan terpaksa harus mengalah.
Aku merdeka, katanya.
Dulu penjajah datang dengan bedil dan meriam.
Sekarang ia mungkin datang dengan angka-angka,
dengan hutang, dengan keserakahan, dengan jabatan,
dan dengan harga yang terus menjulang.
Dulu rakyat dipaksa bekerja demi kepentingan penjajah.
Sekarang kita kadang bekerja sepanjang hidup
demi sesuatu yang tidak pernah benar-benar kita miliki.
Rumah dan kendaraan mewah serta validasi sosial
Hingga kehidupan yang tampak bahagia di layar orang lain.
Kita menyebutnya kemajuan.
Padahal mungkin kita hanya mengganti bentuk rantainya.
Mengganti wajah ,
memolesnya dengan bedak import
Yang sewaktu- waktu akan hilang di sapu hujan
Aku merdeka, katanya.
Tetapi lihatlah, aku bebas memilih, asal pilihan itu
tidak berbeda dari pilihan mayoritas.
Aku bebas berbicara, asal suaraku
tidak menyentuh kepentingan mereka yang punya kuasa.
Aku bebas menjadi diri sendiri,
asal diriku tetap disukai banyak orang.
Dan kita bebas menjadi siapa saja
asal jangan terlalu berbeda.
Lucu kan?
Aku takut kepada manusia
yang sama-sama akan kembali menjadi tanah.
Aku mengejar tepuk tangan dari manusia
yang besok mungkin bahkan lupa namaku.
Ini kurang lucu .
Aku merdeka, katanya.
Tetapi barangkali aku tahu, penjajahan paling licik
bukanlah ketika seseorang merantai kedua tanganku.
Melainkan ketika ia berhasil membuatku merantai diri sendiri.
Dengan keserakahan,iri hati,gengsi dan ketakutan.
Aku merdeka ,katanya.
Dengan keinginan untuk selalu dianggap benar.
Dan dengan kebutuhan untuk selalu terlihat lebih baik
daripada orang lain.
Betapa anehnya aku ini .
Aku ikut merayakan kemerdekaan negeri setiap tahun,
tetapi aju selalu lupa bertanya
apakah hatiku sudah terbebas dari penjajahan nafsuku.
Aku sibuk membersihkan jalan menjelang perayaan,
tetapi lupa membersihkan dendam yang bersarang di dada.
Aku ikut meneriakkan, “Merdeka!”
dengan suara paling keras,
tetapi diam ketika melihat ketidakadilan.
Mungkin itulah kemerdekaan yang paling menyedihkan
Aku merdeka, katanya.
Mungkin. Tetapi hari iniaku sedang belajar
membebaskan diriku.
Bukan dari negeri ini.
Bukan dari bangsaku.
Melainkan dari segala sesuatu yang membuatku lupa
bahwa kemerdekaan seharusnya membuat manusia lebih bermartabat.
Binti Wasunah , Agustus 2026
