Seseorang Sedang Mengakses Bahan Bacaan di Perpustakaan (Sumber: Unsplash/ Syaiful Lil M)
Melihat desa sendiri dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Saya sangat berharap bahwa ada banyak infrastruktur dukungan dan hal-hal baik ke depan untuk desa yang saya cintai ini. Betul ya ternyata, bukan hanya negara yang sangat bergantung pada tangan kepemimpinannya, desa saja dalam skup kecil sangat bergantung pada bagaimana cara pemimpin memberikan sudut pandang.
Banyak sekali transisi yang masyarakat rasakan. Sepertinya era sekarang tak ada jeda dari regulasi A ke regulasi B. Mereka berubah drastis, seiring dengan kebutuhan realita di lapangan.
Sangat wajar, jika sekarang banyak pernyataan masyarakat yang menyatakan bahwa betapa sulit bertahan hidup di era sekarang. Bersaing dengan pekerja dan penjual lain, semakin tercekik rasanya. Hal itu pun terjadi di sektor pemerintahan desa yang terkena dampak efisiensi.
Berimbas pada pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia. Nampaknya minim sekali terlihat, bahkan semakin semakin kecil kemungkinan untuk anggaran kegiatan pemberdayaan manusia. Bahkan terjadi juga ketika seseorang ingin mengharumkan nama desa, dan daerah namun tak mendapat respon baik dari pemerintah setempat.
Alasan efisiensi ini membuat siapapun merasa sulit sekali mendapatkan dukungan, bukan hanya dukungan materi bahkan kalimat dorongan yang menyemangati pun tidak ada. Entah bagaimana caranya memajukan desa. Jika pun bisa, dari mana kita melangkah pertama kali?
Terlepas dari segala kerumitan yang terjadi, saya sangat bermimpi secara pribadi. Jika ada alokasi anggaran yang jumlahnya besar dan menyasar alokasi fasilitas dan sarana untuk pemberdayaan masyarakat. Saya sangat ingin Desa Indragiri, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis memiliki pusat perpustakaan.
Saya sebenarnya bermimpi, jika saya sudah merasakan kemerdekaan secara mental dan finansial, saya ingin sekali berkeliling ke setiap kampung untuk membawakan buku-buku bagi masyarakat. Mengakses bacaan, dan memperluas edukasi baru yang direkam dengan cara membaca. Sebab saya percaya, segala hal yang akan mendukung kemajuan sebuah desa bersumber dari keberdayaan manusianya.

Kita bisa membiasakan dan memulainya dengan membaca buku. “Ilmu kan didapat tidak dari buku saja?” Betul memang, seseorang hari ini bisa mengakses apa saja dengan perangkat elektronik yang semakin hari semakin canggih.
Semua berawal dari akses menuju bacaan. Yakin, masyarakat akan antusias jika buku yang ada adalah buku yang disukainya dan menarik jika dibaca. Melalui sedikit kemungkinan itu, masyarakat membiasakan diri membaca melalui buku yang diminati.
Bagi saya secara pribadi, sebenarnya bukan minat baca masyarakatnya yang minim. Namun akses menuju bahan bacaan yang diminatinya masih sulit. Contohnya pedagang yang tak sempat baca buku karena sibuk, ia mungkin saja akan tertarik pada buku yang isinya berhubungan langsung dengan jenis usaha yang mereka geluti.
Meski pengalaman adalah guru terbaik. Namun dengan membaca, kita dapat melihat banyak hal, cara, pemikiran, dan cara hidup manusia di belahan dunia lain. Membaca membuka mata manusia, bahwa ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi selain apa yang selama ini mereka ketahui dan lakukan.
Saya yakin, perpustakaan bisa menjadi pusat kegiatan sosial. Perpustakaan bisa menjadi tempat berinteraksi yang cukup hangat, dan merekatkan kembali ikatan sosial yang terjalin. Masyarakat bisa membaca nyaring, membaca bersama, ataupun membedah buku untuk membuka pengetahuan baru tentang sesuatu.
Kita bisa perlahan membiasakan literasi di masyarakat. Bisa jadi dengan itu, orang juga bisa lebih terbuka pikirannya, bukan hanya setelah membaca buku atau membedah buku memiliki pengetahuan baru. Tapi diharapkan setelahnya, ilmu-ilmu yang didapat diterapkan.
Karena menyimak dan membaca, atau melihat video saja secara tutorial di media sosial. Tentunya beda pemahaman dan maknanya ketika seseorang diberikan pemahaman melalui buku. Melalui kebiasaan menyimak dan melalui cara belajar, diharapkan masyarakat akan berdaya di dalam bidangnya masing-masing.
Misal petani tambak ikan memiliki pengetahuan baru dalam ilmu pemijahan. Dalam buku-buku yang berasal dari jurnal ilmiah, seperti hasil penelitian di daerah lain atau cara alternatif memijahkan ikan. Mereka bisa saja melakukan studi, apakah di daerah kita bisa apakah menghasilkan lebih banyak pendapatan atau bagaimana cara terbaiknya.
Meski banyak tayangan dan teori yang berasal dari ponsel, namun saya sangat mempercayai bahwa segala hal yang didapat dari buku akan dirasakan oleh manusia secara berbeda. Respon otak juga akan sangat berbeda ketika menangkap informasi. Meski mungkin hal ini terdengar gila di era modernisasi, tapi kembali pada buku adalah cara manusia benar-benar hidup.
Jika saya menjadi pemimpin di desa, saya ingin sekali memiliki perpustakaan yang nyaman, penuh buku dan pustakawan yang ramah. Entah sampai kapan saya berangan-angan, tapi itulah harapan saya sebagai warga. Saya hanya menuliskan harapan saya, dan semoga suatu hari nanti tulisan saya ini akan dibuka kembali sebagai bentuk harapan masa lalu yang terwujud.
Di waktu itu, semoga saat saya meninggal pun tulisan saya ini masih bisa diakses oleh siapapun. Di kemudian hari, tulisan saya ini diakses di perpustakaan yang semakin maju milik Desa Indragiri. Artikel kenangan yang entah kapan terwujudnya, bahkan beberapa generasi setelah saya yang memimpin, saya haturkan terima kasih.
