Jalanan Bogor perlahan meredup, lampu-lampu kota tinggal menyisakan cahaya pucat yang berpendar di atas aspal basah. Angin malam turun dari Puncak, membawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Aku berdiri di tepi jalan, menunggu kendaraan yang bisa membawaku pulang ke Bandung. Ragu menyelimuti dada: apakah malam ini aku benar-benar bisa kembali?
Di sudut-sudut kota, para tunawisma sudah terlelap, mimpi mereka beralaskan langit biru yang kini berganti kelam. Trotoar menjadi kasur, dan dingin menjadi selimut yang tak pernah diminta. Aku menatap mereka sejenak, lalu kembali pada kegelisahan sendiri: masih berdiri, masih menunggu, masih bertanya pada malam.
Perjalanan panjang sudah kulalui. Jasinga pernah kusambangi, Leuwiliang kulewati, Laladon kuinjak, Terminal Baranangsiang sudah kukibaskan. Kini aku berdiri di Ciawi, tengah malam yang sepi, dengan harapan tipis bisa pulang.
Jam terus merayap, suara kendaraan semakin jarang. Sesekali hanya terdengar deru truk yang melintas, meninggalkan jejak lampu merah di kejauhan. Aku merasa seperti titik kecil yang ditelan gelap, seorang ayah yang masih terjebak di jalan, sementara anak dan istrinya mungkin sudah lelap dalam hangat rumah.
Bogor di tengah malam bukan sekadar kota, ia menjadi ruang perenungan. Dingin yang menusuk seakan menguji keteguhan hati. Aku teringat kata-kata Ajip Rosidi: “Hidup adalah perjalanan, dan perjalanan adalah cara kita mengenali diri.” Malam ini, perjalanan terasa lebih berat, lebih sunyi, namun justru di situlah aku belajar tentang kesabaran.
Ada rasa getir ketika menatap jam, ada rasa pasrah ketika kendaraan tak kunjung datang. Namun di balik itu, ada secercah harapan: bahwa setiap langkah, meski tertunda, tetap menuju rumah. Malam hanyalah ujian, dan jalan hanyalah perantara.
Aku berdiri di Ciawi, menatap langit yang gelap, mendengar bisikan angin yang dingin. Dalam hati, aku berdoa agar perjalanan ini segera menemukan ujungnya. Pulang bukan sekadar tiba di Bandung, melainkan kembali pada pelukan keluarga, kembali pada kehangatan yang tak bisa digantikan oleh apa pun.
Tengah malam di Bogor adalah catatan sunyi, prosa yang ditulis oleh langkah-langkah ragu di jalanan sepi. Dan aku, seorang pengembara yang masih menunggu, percaya bahwa setiap malam, betapapun dingin dan panjang, selalu menyimpan janji akan fajar.
