Makin banyak membaca, makin banyak tahu. Makin banyak tahu, ternyata makin banyak pula yang dipikirkan. Hari-hari tak seluruhnya tenang sampai menjelang malam. Pillow talk pun tak lagi jadi pengantar tidur yang menenangkan. Malah berujung susah tidur.
Beberapa waktu terakhir ini memang saya jadi sering terlambat tidur. Bukan karena menonton film atau asyik bermain media sosial, melainkan karena memikirkan banyak hal yang sebenarnya mungkin tidak perlu saya pikirkan terlalu dalam.
Mulai dari berita tentang pejabat yang korup, program pemerintah yang terasa kurang jelas arahnya, kenaikan BBM, berbagai penghematan yang dilakukan atas nama efisiensi.
Sering sekali listrik padam, hingga petugas sensus ekonomi yang datang ke rumah kemudian saya kaitkan dengan urusan perpajakan yang sedang ramai diberitakan. Belum lagi berbagai kabar lain yang setiap hari berseliweran di media social, seperti kasus kekerasan pada perempuan, penyekapan dan lain sebagainya.
Rasanya cukup membuat kepala terasa linu cenat-cenut. Sepekat itu pengaruhnya pada saya.
“Sudah jangan terlalu dipikirkan. Kita fokus saja sama apa yang sedang kita jalani dan ada dalam jangkauan kita,” bujuk suami.
Nasihat itu hampir sama setiap malamnya, tetapi tak bisa mengubah pikiran saya dan membuat tidur lebih nyenyak seperti sebelumnya.
Padahal kalau dipikir-pikir, apa urusan saya sampai harus memikirkan hal-hal sebesar itu? Bukankah yang seharusnya berpikir keras adalah para pemangku kebijakan yang memang diberi amanah untuk mengurus negara?
Namun mau bagaimana lagi, sebagai rakyat biasa saya tetap merasakan dampaknya. Terlebih saya memiliki rasa cinta yang besar kepada Indonesia. Sulit rasanya untuk benar-benar tidak peduli pada sesuatu yang saya cintai.
Ketika Pillow Talk Tidak Lagi Ringan
Dulu, sebelum tidur, saya dan suami sering menghabiskan waktu dengan pillow talk yang menyenangkan. Kami membicarakan kejadian lucu sepanjang hari, mengenang perjalanan pernikahan, menyusun cita-cita masa depan, atau sekadar saling meminta maaf jika ada kesalahpahaman yang terjadi sebelumnya.
Obrolan-obrolan sederhana itu selalu membuat hati terasa lebih ringan dan tidur menjadi lebih nyenyak. Beristirahat setelah semuanya plong dan dibicarakan dengan pasangan memang membuat tidur kami lebih berkualitas.
Namun belakangan suasananya berubah. Percakapan yang awalnya ringan perlahan berkembang menjadi diskusi yang cukup berat. Saya dan suami memiliki keresahan yang sama. Akan tetapi kami berbeda dalam cara menyikapinya.
Misalnya ketika saya bercerita bahwa siang hari ada petugas sensus ekonomi yang datang ke rumah, saya menceritakannya pada suami. Saya bercerita bahwa setelah menjawab berbagai pertanyaan, kemudian membaca sebuah unggahan di media sosial yang menyebutkan bahwa sensus ekonomi bisa menjadi cara untuk mengetahui siapa saja yang memiliki penghasilan tetapi belum dikenai pajak.
Saya membicarakan kemungkinan-kemungkinan buruk dan suami menenangkan.
“Katanya konten kreator harus punya NIB,” ucap saya.
“Mungkin karena sudah banyak yang memiliki penghasilan besar. Dianggap sudah harus bayar pajak,” jawab suami.
Memang saya bukan orang berpenghasilan besar. Bahkan kemungkinan besar tidak termasuk kelompok yang dimaksud dalam unggahan tersebut. Namun tetap saja muncul berbagai pertanyaan di kepala.
Mengapa masyarakat yang berusaha kreatif mencari penghasilan sendiri seolah terus diawasi? Mengapa mereka yang berjuang mandiri membangun sumber penghidupan dari nol justru sering merasa khawatir akan berbagai aturan baru?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu kemudian berkembang menjadi diskusi panjang dengan suami sampai larut malam.
“Tapi kalau betul begitu, bukankah pemerintah zolim?”
“Maksudnya?”
“Lapangan pekerjaan sulit. Sekarang menciptakan pekerjaan sendiri malah masih mau dipajakin,” saya ngotot.
“Iya tapi itu kan buat yang penghasilannya sudah besar di atas 500 juta,” jawab suami.
Malam di tempat tidur tak lagi tenang. Ada beban yang awalnya hanya menggantung di langit-langut kamar, kini pindah ke kepala kami. Eh, mungkin hanya ke kepala saya. Karena beberapa saat kemudian suami berhasil tidur nyenyak.
Overthinking yang Datang Saat Lampu Sudah Padam
Masalahnya, percakapan seperti itu tidak berhenti ketika kami mengucapkan selamat malam. Sering kali setelah suami tertidur, saya masih terjaga. Mata memang terpejam, tetapi pikiran terus berjalan ke mana-mana.
Setengah jam, satu jam, bahkan lebih, saya susah sekali untuk lelap. Mata terpejam, tetapi pikiran masih bekerja. Terus memutar berbagai kemungkinan, berbagai kekhawatiran, dan berbagai harapan tentang kondisi negeri ini. Mungkin ini yang disebut overthinking.
Rindu Pillow Talk yang Membuat Hati Ringan
Jujur saja, saya rindu pillow talk yang dulu. Obrolan yang membuat hati terasa hangat, bukan penuh pertanyaan. Obrolan yang membuat tidur lebih nyenyak, bukan malah membuat pikiran terus bekerja hingga larut malam.
Meski demikian, saya sadar bahwa semua kegelisahan ini muncul karena rasa peduli. Karena masih ada cinta kepada Indonesia. Saya masih berharap keadaan akan semakin membaik.
Saya berharap masyarakat bisa hidup lebih tenang, merasa aman, nyaman, dan sejahtera secara ekonomi. Saya berharap para pemimpin benar-benar bertanggung jawab atas keputusan yang mereka buat dan mempertimbangkan dampaknya terhadap rakyat.
Kalau beban ekonomi sudah terasa berat, setidaknya jangan ditambah lagi dengan kebijakan-kebijakan yang membuat rakyat semakin banyak pikiran.
Bukankah setiap orang berhak mendapatkan tidur yang nyenyak setelah seharian berjuang menjalani hidup?
