Assalamualaikum wr. wb.,
Mba Retno Rengganis, yang baik.
Saya baru tahu mbak Retno Rengganis orang Cepu. Beberapa tahun silam tepatnya 2008. Saya sempat bertarung selama berbulan bulan. Sambil pameran buku dari kota ke kota. Kota besar maupun kecil di daerah Jateng dan Jatim sudah saya kunjungi. Sayang tidak dalam rangka jalan-jalan bebas dalam artian rekreasi. Kurang tahu seluk beluk wisata yang indah dari setiap kota. Hanya singgah 7 hari atau 12 hari. Kegiatanku hanya jualan buku di stan dalam pameran buku. Biasanya di adakan oleh Ikapi kota tersebut bekerjasama dengan EO.
Tiga hari di Bali setelah pameran di Semarang kota. Saya loncat ke Bali karena merasa sudah dekat Jatim. Di Bali menginap di salah satu kawanku seorang penulis yang tinggal di Jerman. Kebetulan bulan itu bulan Juni ia berlibur di Indonesia. Sambil liburan ia mengadakan bedah buku karya terbarunya: Menyusuri Lorong-lorong Dunia 2. Sebelumnya pernah dibedah di Bandung di tempat kawan saya. Banyak likunya ketika saya datang pertama kali di Bali. Soal komunikasi itu yang jadi masalah dulu belum ada WA, FB. Hanya menggunakan telepon genggam sederhana.
Ketika pulang dari Bali langsung menuju Blora. Saya ditelepon sama bos penerbit Oase harus jaga stand di Blora. Bagi saya tentu tidak asing nama itu. Saya pernah baca karya seorang pengarang tulen bernama Pramoedya Ananta Toer. Tapi belum tahu tempatnya di mana itu Blora. Jaman sekarang mending bisa buka google cari di internet posisi letak blora dimana dan jalannya. Saya dulu datang ke Blora hanya modal bertanya-tanya. Setelah menyeberangi selat Gilimanuk, Ketapang, Banyuwangi.
Naik bus jurusan Semarang. Turun di pinggir jalan Rembang. Pas masjid agung Rembang. Jam satu malam saya turun dari bus. Kota Rembang yang sangat sunyi. Lalu saya datangi terminal Rembang yang kecil, kosong. Hanya beberapa tukang becak yang mangkal. Ada seorang tukang becak datang menghampiri saya. Nanya mau ke mana? Saya jawab mau ke Blora. Tukang becak nawarin: “ayo saya antar Mas!” Saya: “berapa ongkosnya?”. Tukang becak: “30.000!”
Saya: (dalam hati keberatan mahal. Mungkin saja dekat mungkin karena malam jadi mahal. Atau karena ke orang asing.”
Oya, saya cari alamatnya dulu ya. Alamat ada di hape. Hape saya mati. Mungkin sekitar sini ada tukang pulsa? Oh..tukang pulsa sana. (sambil nunjuk keseberang jalan samping masjid agung.
Saya datang ke tempat counter pulsa. Sekalian beli pulsa, ikut ngecas. Sambil ngopi. Ngobrol ngaler ngidul. Akhirnya saya tahu tukang pulsa berasal dari Bandung juga. Ya jadi semakin akrab padahal baru beberapa menit saya datang. Akhirnya ia nanya: Sampean mau kemana? Blora! Jawab saya.
Wah masih jauh. Harus naik mobil elf tapi harus pagi-pagi jam 6 karena kalau siang suka penuh. Saya manggut- manggut.
Tadi kata tukang becak Blora dekat!. Ongkosnya 30 ribu sampai alun-alun.
“Wah…Blora itu jauh, Mas!, 3 jam perjalanan. Jalannya juga rusak. Lewati hutan jati. Jangan mau itu!”
Hati-hati! Nanti Mas di…(sambil tangannya seret.. kayak menyembelih hewan) Saya bergidik ngeri.
la nawarin tempat tidur. Saya mengucapkan terima kasih. Sambil ngopi saya tiduran di taman masjid agung Rembang. Suasana yang sepi, dingin. Sesekali mobil besar lewat. Saya mulai merebahkan badan di rumput tipis dengan bantal jaket. Sambil menatap bintang di langit Rembang. Pikiran damai, tentram. Akhirnya terpejam mataku. Bangun karena terdengar suara adzan subuh. Saya bersih-bersih, wudu dan salat subuh berjamaah. Sambil nunggu pagi. Segelas kopi susu dan roti. Menemani pagi Juni di Rembang.
Saya sudah duduk dijok elf paling depan. Si akang tukang pulsa ikut ngantar sampai mewanti-wanti ke kernet minta di turunkan di terminal Blora. Setelah mengucapkan perpisahan. Terima kasih padanya.
Mobil elf mulai meluncur perlahan. banyak Perjalanan ke Blora ternyata benar apa yang di katakan si akang tukang pulsa. Jauh. Sepanjang perjalanan sawah- sawah kering kerontang maklum musim kemarau. Pohon-pohon jati mendulang tinggi sudah memasuki hutan yang sepi. Jalan tidak beraspal dan berdebu. Bukit-bukit Blora gundul. Teringat pada kisah Pram di buku Bukan Pasar Malam. Itu beberapa puluh tahun silam kisahnya. Tapi ko masih relevan dengan apa yang saya lihat.
Buku setebal 104 halaman, terbitan Lentera Dipantara ini menceritakan tentang bagaimana dunia ini tidak seperti pasar malam, dimana manusia berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang, seperti dunia pasar malam, seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah kemana.
Dikisahkan juga bagaimana keperwiraan seorang dalam revolusi yang pada akhirnya melunak ketika dihadapkan pada kenyataan sehari-hari: ia menemukan ayahnya yang seorang guru penuh bakti tergolek sakit karena TBC, anggota keluarganya yang miskin, rumah tuanya yang sudah tidak kuat lagi menahan arus waktu, dan menghadapi istri yang cerewet.
Potongan-potongan kisah itu diungkapkan dengan sisa- sisa kekuatan jiwa yang bertentangan dalam jiwa seorang mantan tentara muda revolusi yang idealis. Lewat tuturan yang sederhana dan fokus, tokoh “Aku” dalam roman ini tidak hanya mengkritik kekerdilan diri sendiri, tapi juga menunjuk muka para Jenderal atau pembesar- pembesar negeri pasca kemerdekaan yang hanya asik mengurus dan memperkaya diri sendiri.
Disini kita bisa dengan jelas dan gamblang mendapati bahwa Pramoedya Ananta Toer dengan sangat lihai membawa kita kembali kepada masa ketika awal kemerdekaan. Gambaran tentang kegelisahan seorang anak mendapati surat dari seorang paman yang mengabarkan berita duka, bahwa Ayahanda yang sangat dicintainya terbaring lemah dirumah sakit.
Gambaran tentang pandangan hidup seorang pejuang revolusi yang berakhir menjadi seorang pegawai kecil yang terlupakan. Dan bagaimana demokrasi mempengaruhi semua pandangan hidupnya tentang kemiskinan, dan semua hal yang pantas dan tidak pantas didapat oleh setiap orang. Karena orang yang tidak punya selamanya akan menjadi penonton dari sandiwara di dunia ini. Dunia demokrasi dimana kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau.
Dan kesadaran bahwa nasib setiap anak manusia itu tidak ada ditangan manusia itu sendiri, bahwa umur, kesehatan dan kematian itu ada ditangan Tuhan. Kita hanya bisa berserah diri dan selalu berjuang untuk bisa melewati semua cobaanNya.
Dan pada akhirnya satu persatu dari kita, harus meninggalkan bumi ini. Sedangkan satu persatu juga anak manusia terlahir di dunia ini. Karena dunia ini bukan pasar malam, dimana orang terlahir ramai-ramai, dan meninggal beramai-ramai
