Angin laut berhembus pelan bersama ombak yang bergulung tenang di Pantai Tambakrejo, seolah menyimpan cerita lama yang tak semua orang ingin mengingatnya. Di sepanjang pesisir, warga tampak sibuk mempersiapkan larung sesaji.
Perahu-perahu kecil dihias janur kuning yang melambai tertiup oleh angin, bunga-bunga dirangkai dengan rapi dalam wadah anyaman, dan hasil laut disusun sebagai persembahan dengan penuh kehati- hatiannya, mulai dari tumpeng nasi kuning, aneka buah, hingga hasil tangkapan laut seperti ikan dan udang yang menjadi simbol rezeki para nelayan.
Suara tawa, percakapan, dan langkah kaki yang berlarian berpadu dengan gemuruhnya ombak, menciptakan suasana hangat yang terasa hidup. Anak-anak berlarian di sekitar tepi pantai dan para orang tua sibuk memastikan setiap detail sesaji dengan indah dan sempurna. Angin laut pun membawa aroma asin yang khas, bercampur dengan wangi bunga-bunga dari sesaji.
Pada tanggal satu Suro, Desa Tambakrejo kembali menggelar tradisi larung sesaji sebuah ritual yang telah diwariskan dengan turun-temurun sebagai bentuk syukur kepada Tuhan atas rezeki laut yang tak pernah berhenti menghidupi mereka.
Namun, tidak semua orang menyambutnya ini dengan perasaan yang sama.
Di ujung pantai yang jauh dari keramaian, seorang gadis berdiri diam dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Bola mata coklat muda itu menatap laut, tetapi bukan dengan kekaguman melainkan dengan tatapan dingin yang sulit untuk diartikan.
Namanya Putri. Di usianya yang baru menginjak tujuh belas tahun, ia memilih berdiri menjauh dari keramaian, tidak ikut sibuk seperti yang lain. Meski beberapa warga sempat memanggilnya, ia tetap bergeming, seolah sudah memutuskan untuk tidak terlibat. Rambutnya yang sebahu dibiarkan terurai sederhana, tertiup angin laut tanpa ia hiraukan.
Wajahnya tenang, namun sorot matanya menyimpan luka yang tidak semua orang tau luka yang sudah lama ia simpan rapat-rapat, bahkan dari orang terdekatnya sekalipun.
Sejak kecil, Putri tidak pernah benar-benar menyukai tradisi larung sesaji. Baginya, semua itu hanyalah kebiasaan lama yang sudah dipertahankan tanpa ada alasan yang jelas. Ia tidak mengerti mengapa warga harus melarung makanan ke laut, seolah-olah laut membutuhkan itu.
Di tengah antusiasme masyarakat, Putri justru merasa asing di tempat yang seharusnya ia sebut rumah.
“Putri!” suara itu memecah lamunannya. Seorang gadis berlari kecil menghampirinya Yaya, sahabatnya sejak kecil tersenyum namun kali ini tampak dengan wajahnya yang sedikit ragu.
“Kamu di sini aja? Nggak ikut bantu?” tanyanya.
Putri menggeleng. “Nggak. Aku lihat aja.”
Yaya menghela napas dengan pelan. “Ini bukan cuma acara, Put. Tapi bentuk rasa syukur.”
Putri menatap ke arah laut. “Kalau memang Tuhan yang ngasih… kenapa harus lewat laut?” Pertanyaan itu menggantung. Tak jauh dari mereka, Mbah Pandoko memperhatikan. Ia adalah sesepuh desa yang selama ini dikenal sebagai penjaga tradisi larung sesaji dan penyimpan cerita lama tentang asal-usulnya.
Setiap tahun, dialah yang memimpin doa dan memastikan ritual berjalan sesuai adat yang diwariskan oleh para leluhur. Ia melangkah mendekat.
“Kamu tidak suka tradisi ini, Putri?” tanyanya lembut.
Putri hanya menatapnya sejenak. “Saya tidak mengerti kenapa harus ada ini semua.”
“Tidak semua hal harus dimengerti untuk bisa dihargai,” jawab Mbah Pandoko. Putri tidak menjawab sedikit katapun, namun sesuatu di dalam dirinya mulai bergejolak.
Prosesi pun dimulai. Doa dipanjatkan, dan perahu-perahu kecil bersiap didorong ke arah laut. Suasana sakral menyelimuti pantai. Namun, di tengah ketenangan itu Putri melangkah cepat ke arah sesaji.
“Put, kamu mau ngapain?” suara Yaya terdengar panik. Tetapi Putri tidak menjawab tangannya gemetar saat meraih rangkaian bunga. Dalam satu gerakan, ia menjatuhkannya ke pasir.
“Semua ini sia-sia!” teriaknya, warga terdiam. Putri menatap laut dengan napas memburu. “Kalian bilang ini bentuk syukur… tapi apa yang kalian dapat?!”
Suasana langsung menjadi kacau. Suara-suara mulai saling bertumpuk ada yang berteriak, ada yang mencoba menenangkan, namun bisik-bisik tak suka justru semakin jelas terdengar.
Angin yang semula berhembus pelan tiba-tiba berubah liar, menerpa wajah dan mengibaskan janur-janur yang tergantung. Langit yang tadi cerah perlahan menggelap, seolah ikut menahan sesuatu yang akan pecah.
“Ini pertanda nggak baik…,” bisik seseorang, suaranya gemetar.
“Karena ada yang menolak…,” sahut yang lain, kali ini lebih jelas, seolah sengaja didengar.
Hujan turun tanpa aba-aba. Butir-butir air jatuh deras, disertai angin yang semakin kencang. Ombak menggulung tinggi, memukul bibir pantai dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.
Mbah Pandoko bergerak cepat. Dengan langkah tergesa namun tetap hati-hati, ia mendekati sesaji yang hampir berserakan. Ia mengambil kembali wadah-wadah anyaman yang berisi bunga-bunga, menutupnya dengan kain, lalu mengangkatnya menjauh dari hempasan angin dan hujan. Tangannya yang sudah renta tetap sigap, seolah menjaga sesuatu yang sangat berharga.
“Amankan sesajinya!” serunya tegas.
Beberapa warga segera membantu. Bunga-bunga yang tadi hampir beterbangan kembali dikumpulkan, dimasukkan ke dalam wadah, lalu dibawa ke tempat yang lebih aman.
“Tarik perahunya!” teriak seseorang.
Beberapa orang bergegas menarik perahu ke darat. Prosesi yang seharusnya sakral berubah menjadi kepanikan. Larung sesaji terpaksa dihentikan. Semua ditunda hingga sore hari. Perlahan satu per satu tatapan warga beralih dan semuanya tertuju pada Putri.
“Gara-gara dia ini semua!!!”
“Dari tadi menentang!!!”
“Makanya jangan melawan adaat!!!”
“Pantesan bapaknya diambil laut… orang bapak sama anak sama-sama nggak tau tradisi!”
“Dari dulu juga keluarganya begitu… nggak pernah benar-benar mengikuti adat!”
“Kalau dari awal sudah menghargai, mungkin nggak akan kejadian seperti itu!”
“Ini akibatnya kalau merasa selalu paling benar sendiri!”
Suara-suara itu tidak lagi sekadar bisikan. Kini terdengar jelas, tajam, dan saling bersahutan, seolah tanpa peduli bahwa setiap kata yang mereka lontarkan menusuk lebih dalam dari ombak yang menghantam pantai.
Putri terdiam. Dadanya terasa sesak, napasnya tertahan. Kata-kata itu seperti mengulang luka lama yang belum sempat benar-benar sembuh. Jemarinya perlahan mengepal keras, bukan untuk melawan, tetapi untuk menahan dirinya agar tidak runtuh di hadapan semua orang.
Yaya menggenggam tangannya. “Put, ayo ke sana dulu…,” Mereka berjalan ke arah perahu. Mbah Pandoko mendekat “Putri, kamu harus tahu sesuatu.” Ia menunjuk sebuah perahu yang sudah tua. Di sana, tersangkut sebuah gelang tali lusuh.
“Ini milik ayahmu. Kami menemukannya saat itu.” Putri membeku.
“Banyak yang bilang ayahmu hilang karena tidak ikut tradisi,” lanjutnya. “Tapi itu tidak benar. Ia terseret ombak saat menolong orang lain. Itu takdir.”
Kenangan itu datang.
Putri kecil berdiri di tepi pantai, kakinya mulai terendam air laut yang dingin. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya, mengibaskan rambutnya hingga menutupi sebagian wajah. Tubuh kecilnya sedikit goyah diterpa oleh angin, sementara tangannya menggenggam erat tangan ayahnya, jemarinya mencengkeram kuat hingga kuku-kuku jarinya memutih.
Ia mendongak, menatap wajah ayahnya yang masih berusaha untuk tersenyum, meski suasana di sekitar mulai berubah. Dari kejauhan, suara orang-orang terdengar saling bersahutan ada yang memanggil-manggil, ada yang meminta tolong. Ombak datang lebih besar dari sebelumnya, menyapu pasir hingga hampir mencapai kaki mereka.
“Ayah…,” suaranya pelan.
Ayahnya menoleh, mengusap kepala Putri dengan lembut. Sentuhan itu hangat, berbeda dengan udara yang mulai terasa dingin.
“Ayah harus bantu yang lain.”
Genggaman itu perlahan terlepas. Putri mencoba meraih kembali genggaman ayahnya, tetapi jemarinya hanya menyentuh ujung tangan ayahnya sebelum akhirnya benar-benar lepas. Ia melangkah maju, namun kakinya terasa berat, seperti tertahan oleh pasir basah yang menghisap setiap langkahnya.
“Ayah!”
Sosok ayahnya semakin menjauh, berlari menuju ombak yang meninggi. Angin menderu, suara laut menguat, dan dalam sekejap semuanya terasa begitu kacau. Putri kecil ikut berlari, napasnya tersengal-senggal, matanya tak lepas dari punggung ayahnya.
Namun ombak datang lebih cepat. Satu gelombang besar menghantam, menelan langkah ayahnya, membuat sosok itu hilang di antara buih putih yang bergejolak.
“Ayah…!” teriaknya, suaranya pecah diterpa oleh angin.
Putri terhenti. Kakinya lemas, tubuhnya jatuh di atas pasir yang basah. Tangannya masih terulur ke depan dengan gemetar, seolah berharap seseorang akan menyambutnya kembali. Tapi yang datang hanya ombak yang terus bergulung datang, lalu pergi tanpa pernah mengembalikan apa yang telah dibawanya.
Saat Putri tersadar kembali, air matanya jatuh dengan deras.
“Ayahku hilang di hari ini!” teriaknya, suaranya pecah. “Di saat kalian bilang ini hari penuh syukur!” Suasana menjadi sunyi. Yaya menatapnya dengan mata berkaca-kaca, Mbah Pandoko mendekat perlahan.
“Putri,” katanya lembut, “Bukan tradisinya yang salah.”
Putri menggeleng lemah. “Tapi semuanya terjadi di hari yang sama…”
“Laut adalah bagian dari kehidupan ini,” lanjut Mbah Pandoko. “Ia memberi, tapi kadang juga mengambil. Tradisi ini bukan untuk meminta keselamatan pada laut, melainkan untuk mengingat bahwa kita harus bersyukur kepada Tuhan, dalam keadaan apa pun.”
Putri terdiam, napasnya perlahan mulai terasa teratur. Ia menatap laut ombak masih bergulung, tetapi tidak lagi sekeras dalam ingatannya. Perlahan, sesuatu dalam dirinya berubah. Ia melangkah ke tepi air, Yaya mengikutinya tanpa berkata apa-apa kepadanya. Putri mengambil satu bunga yang tersisa. Tangannya masih gemetar bukan karena marah, melainkan karena rindu sebelum melempar bunga itu, ia teringat sesuatu suara ayahnya yang dulu sering ia abaikan.
“Putri… laut itu bukan untuk ditakuti kata Mbah Pandoko sambil menatap ombak. Kita hidup darinya. Kalau suatu saat laut mengambil sesuatu, bukan berarti laut itu jahat… kita hanya harus belajar menerima.”
Putri memejamkan matanya. Selama ini ia mengira larung sesaji dan laut telah merenggut ayahnya. Namun kini ia mulai sadar ayahnya justru pergi saat menolong orang lain, melakukan sesuatu yang ia yakini benar. Bukan tradisinya yang salah, melainkan cara Putri memahami kejadian itu yang selama ini keliru.
Ia melempar bunga itu ke laut.
“Ayah…,” bisiknya pelan. “Aku nggak marah lagi.” Angin laut berhembus lembut seolah membawa pesan itu pergi ombak yang tadi terasa menakutkan kini kembali dengan tenang seperti hatinya.
Putri menoleh ke Yaya. “Aku mau ikut bantu sore ini.”
Yaya tersenyum haru di kejauhan, Mbah Pandoko tersenyum mengangguk pelan. Dan untuk pertama kalinya, Putri tidak lagi melihat larung sesaji sebagai penyebab kehilangan melainkan sebagai pengingat bahwa hidup selalu berjalan berdampingan antara memberi dan mengambil.
Ia tidak lagi melawan masa lalu. Ia memilih menerimanya dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Putri tidak lagi melihat larung sesaji sebagai luka melainkan sebagai cara untuk mengingat, menerima, dan akhirnya… untuk melepaskan.
— Fin —
