“Datang tak diundang, pulang tak diantar” mungkin ungkapan ini paling pas menggambarkan fenomena banjir akhir akhir ini. Banyak berita berseliweran tentang banjir yang merajalela di berbagai daerah. Bahkan wilayah yang biasanya tenang dan belum pernah mengalami bencana ini, tiba tiba saja tergenang air layaknya tamu tak diundang yang menerobos masuk tanpa permisi.
Lebih anehnya lagi, beberapa daerah yang memang langganan banjir pun ikut dibuat heran. Air luapan tak kunjung surut, padahal hujan sudah berhenti sejak lama. Kenapa bisa begitu?
Banjir bukan hanya soal air yang tumpah dari langit dan membentuk kolam raksasa. Ia adalah peringatan dari alam, untuk kita yang terus merusak lingkungan demi kepentingan sesaat, tanpa memikirkan nasib alam itu sendiri.
Banjir datang tak kenal waktu dan tempat, bahkan di wilayah yang sebelumnya belum pernah mengalaminya. Memang, sebagian besar bencana alam berasal dari gejala alam itu sendiri. Tapi dalam kasus banjir, penyebab utamanya justru sering kali adalah ulah manusia.
Jadi, apa sebenarnya yang membuat air meluap dan menggenangi berbagai daerah?
1. Lahan Berganti Fungsi, Air Mengalir Tak Terkendali.
Banyak lahan subur yang dulunya dipenuhi tanah gembur dan tumbuhan hijau, kini berubah menjadi beton dan aspal yang keras. Ketika hujan turun, air tak bisa lagi meresap ke dalam tanah. Ia tertahan di permukaan, menggenang, dan akhirnya menyebabkan banjir.
2. Saluran Air Tersendat, Air pun Terjebak.
Di banyak daerah, saluran air sering tersumbat oleh sampah. Akibatnya, aliran air menuju sungai atau tempat pembuangan akhir jadi terhambat. Air yang seharusnya mengalir justru menggenang di jalanan, masuk ke pemukiman, bahkan merusak fasilitas umum.
Hilangnya resapan air dan tertutupnya aliran air membuat banjir jadi tak terelakkan ketika hujan deras datang.
Banjir bukan hanya tentang genangan air yang besar. Akan tetapi ada dampak yang mempengaruhi dan menganggu kehidupan didalamnya.
1. Kampung terendam, aktifitaspun padam. Banyak masyarakat yang tidak bisa beraktifitas seperti biasa, bahkan tidak jarang mereka hanya bisa diam diatas atap rumah menunggu bantuan. Bagi mereka banjir bukan sekedar bencana alam, tapi juga bencana hidup
2. Air datang penyakit menyerang. Masyarakat yang terkena banjir rentan sekali terkena penyakit. Air banjir yang bercampur sampah dan kotoran membawa banyak penyakit. Kasus diare, gatal gatal, demam berdarah meningkat tajam.
3. Mahkluk hidup terjebak ekosistempun rusak. Tak hanya manusia, hewan juga kehilangan rumah mereka. Tanah dan pohon pohon rusak, sarang menghilang, makanan berkurang, sampai mati karena tenggelam.
4. Banjir menerjang Ekonomi tenggelam. Banjir dapat menghentikan seluruh pekerjaan masyarakat. Bahkan banyak dari mereka merasakan kerugian yang besar. Panen gagal, tambak ikan tersapu air, kendaraan mogok, dan banyak fasilitas lain yang rusak. Semua ini butuh waktu dan biaya yang besar untuk memulihkannya
Banjir memang bencana alam, tapi bukan berarti tak bisa dicegah. Di momen Hari Lingkungan Hidup ini, saya ingin mengajak teman teman semua untuk melakukan hal-hal kecil yang bisa berdampak besar dalam mencegah banjir.
1. Sampahmu, Tanggung Jawabmu. Banyak orang berpikir bahwa sampah mereka akan selalu dibersihkan oleh petugas kebersihan. Padahal, tidak semua sampah akan tertangani. Menjaga lingkungan dimulai dari kesadaran diri sendiri. Tanamkan dalam hati, “Ini sampahku, tak ada orang lain yang akan membuangnya. Maka, aku bertanggung jawab sepenuhnya untuk membuangnya ke tempat sampah.” Jika setiap orang punya pemikiran seperti ini, maka masalah sampah pun sedikit demi sedikit bisa teratasi.
2. Bersihkan Halaman, Buat Semua Nyaman. Percaya nggak, saat kamu membersihkan halaman rumahmu, secara tidak langsung kamu sudah mengajak tetanggamu untuk melakukan hal yang sama bahkan tanpa mengatakan apa apa pada mereka. aksi kecilmu bisa menular bahkan satu komplek bisa tiba tiba ramai membersihkan halamannya. Ingat ungkapan, “Rumput tetangga terlihat lebih hijau”? Kalau semua orang membersihkan halaman masing masing, maka lingkungan jadi lebih bersih dan potensi banjir bisa dikurangi.
Banjir bukan sekadar genangan air yang mengganggu aktivitas kita. Ia adalah suara alam yang selama ini kita abaikan dan akhirnya bersuara dengan cara yang tak bisa dihindari.
Momen Hari Lingkungan Hidup ini bisa jadi titik balik. Bukan hanya untuk peduli, tapi juga bertindak. Mulailah dari hal sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, membersihkan halaman, menanam pohon, atau bahkan mengingatkan orang di sekitar kita. Karena menjaga bumi tak harus menjadi pahlawan. Cukup jadi manusia yang memiliki empati dan hati nurani.
