Foto WAG: Perbandingan pendapatan negara dari rokok dan BUMN.
Saya ini laki-laki yang bisa merokok. Iya, bisa doang. Jangan salah, wak. Saya bukan perokok berat yang tiap pagi-pagi sebelum sikat gigi, rokok udah ngebul kayak pabrik tahu. Dulu belajar ngerokok dari sahabat saya—dulu mainnya ke kampung, bukan ke kafe.
Pertama kali nyoba? Comodor. Rokok negara deungeun yang kalau diurutkan setingkat di bawah Ardat, dua tingkat di bawah Marlboro. Kalau di dunia pendidikan, dia tuh semacam lulusan paket C di antara alumni kampus top.
Dari situ, sampai sekarang saya masih sekadar bisa aja. Gak sampai nyandu. Kadang kalau lagi nongkrong sama temen-temen, atau habis makan ikan asin yang anyir-anyir dan bikin bibir gemeter, baru tuh keluar jurus ngebulnya.
Tapi jangan dibayangkan saya ngebul tiap jam, tiap menit. Saya perokok pasif. Pasif beli.
Bahkan, ada fase dalam hidup saya jadi pedagang asongan rokok, wak! Beneran. Saat awal kuliah, saya dagang rokok di Tegal Lega Bandung dan Terminal Kampung Rambutan Jakarta. Kurang lapangan apa hidup saya, coba? Cuma sekitar 1,5 tahun sih, abis itu saya pensiun dini dari dunia per-asongan-an.
Suatu hari, temen saya yang perokok garis keras, yang ngutamakan ngebul daripada makan nanya,
“Amang, sehari habis berapa bungkus?”
Saya jawab, “Gak tentu, wak. Gua gak menjadikan rokok sebagai “tuhan”.”
Dia melongo, saya ngebul sambil menatap langit, ala-ala pujangga terminal.
Nah, sekarang kita serius dikit. Tapi masih sambil ketawa.

Industri rokok ini, Bro, sumbangannya ke negara tuh luar biasa. Menurut data resmi, Rp213 triliun itu baru dari cukai doang. Kalau ditambah pajak-pajak lainnya? Bisa tembus Rp250 triliun. Bandingin aja sama dividen seluruh BUMN: cuma Rp90 triliun.
Ya udah jelas, rokok menang telak, wak! Skor 3-1, kayak kata pak Merrijantij Punguan dari Kemenperin. Bahkan beliau bilang, “Kontribusi industri hasil pembakar (baca: rokok) bukan kaleng-kaleng, wak…”
Dan bener juga. Dari petani tembakau, buruh linting, sampe abang asongan (macam saya dulu), semua kecipratan rezeki dari batang-batang nikmat itu.
Tapi sayangnya, negara ini kadang kayak orang tua yang galak ke anak sulung. Industri rokok ditekan habis-habisan, padahal dia yang paling banyak nyumbang.
Lagi rame soal Rancangan Permenkes yang makin ketat ngatur industri ini.
Pak Merrijantij nyeletuk, “Kalau larangan makin banyak, penerimaan negara bisa tekor.
Pertanyaannya: sudah ada substitusinya belum?”
Nah loh. Jangan sampai kita niat hidup sehat, tapi APBN malah batuk-batuk.
Ironi lainnya, industri rokok sedang megap-megap. Produksi turun 2,81% per tahun. Rokok mahal makin sepi. Kenapa?
Rakyat makin pintar atau makin miskin? Jangan-jangan dua-duanya. Karena sekarang ini banyak yang ‘hijrah’ ke rokok murah tanpa cukai. Ini fenomena hijrah yang tak dicatat MUI.
Bungkus rokoknya polos, tulisannya tangan, kadang mereknya kayak nama sabun cuci piring. Tapi laku keras! Harganya miring, rasanya… ya semoga gak pakai racikan rempah dari Dunia Lain.
Utilisasi pabrik resmi pun tinggal 63,59%. Tapi di sisi lain, rokok ilegal justru naik hampir dua kali lipat! Yang legal makin sekarat. Yang ilegal makin semangat. Kayak lomba lari, tapi satu peserta pakai sepatu, satu lagi naik motor.
Bayangin, wak… malah ada yang ngebul sambil bangga bilang, “Gue nasionalis banget!” Padahal rokoknya tanpa cukai. Itu mah kayak nyanyi Indonesia Raya, tapi pake mic colokan Tiongkok.
Jadi, wak… bisa jadi nih, dengan besarnya pendapatan negara dari rokok, saya juga nyumbang lewat satu-dua batang yang saya beli atau hasil ngedudut dari teman.
Atau jangan-jangan malah Anda yang jadi penyumbang terbesar? Kalau iya, saya ucapkan terima kasih. Anda pahlawan tanpa tanda batuk.
Tapi tetap, mari kita bijak. Jangan sampai rokok jadi “tuhan” yang selalu dinomor satukan. Dan jangan pula pemerintah sibuk ngejar rokok ilegal tapi lupa narik napas buat berpikir:
“Apa kabar pengganti pemasukan sebesar Rp250 triliun itu?” Kalau belum ada… ya mending jangan sok-sokan dulu. Ntar negara ngebul beneran—bukan dari rokok, tapi dari utang.
Wak, kalau tulisan ini bikin Anda mesem, senyum-senyum, atau bahkan kepikiran mau berhenti ngerokok, berarti saya berhasil. Tapi kalau setelah baca ini Anda malah pengen nyalain sebatang, ya… minimal beli yang ada cukainya, Wak.
Karena biar gimana pun, ngebul boleh, asal ngebul yang bertanggung jawab!
Wallahu’alam.
*Penulis adalah mantan pedagang asongan rokok dan perokok pasif.
